Kepemimpinan Ala Rasulullah SAW

Bagi kaum muslimin dimana saja berada, Nabi Muhammad SAW bukan saja sebagai seorang nabi, rasul, namun juga menjadi manusia teladan (uswatun hasanah) yang tidak saja dikagumi oleh manusia (muslim maupun non muslim), bahkan malaikat menjadi malu jika berada di dekatnya.
Betapa besar pengagungan kita seorang muslim kepada Beliau karena dikarenakan betapa besarnya nilai-nilai kebaikan,kemuliaan agama ini yang direfleksikan oleh perkataan beliau, tindakan beliau. Sehingga beliau digelari Alquran berjalan, dikarenakan betapa mudahnya para sahabat mengerti akan kandungan isi Alquran ketika berinteraksi dengan Rasulullah SAW.
Pembahasan ini menitik beratkan pada meneladani kepempinan Rasulullah SAW.
Dalam surat Al-Ahzab ayat 21 "Sesungguhnya adalah bagi kamu dalam diri Beliau (Rasulullah SAW) terdapat contoh teladan yang harus diikuti....". Bagi seorang muslim, seharusnya teladan kita, panutan kita bahkan idola kita adalah Rasulullah SAW. Beliau dengan sangat teliti dan hati-hati mencontohkan semua perbuatan baik dan menjauhkan diri dari melakukan perbuatan buruk dengan sangat teliti dan jelas.

Jujur pada Diri Sendiri

Jujur pada diri sendiri boleh jadi tak semudah mengakui kejujuran pada orang lain. Kata hati kecil sudah menjawab keraguan, tetapi ada sisi lain dalam diri yang berat menerima kenyataan. Maka yang terbentuk adalah konflik dalam diri sendiri.
Perselisihan untuk menerima kenyataan, seringkali terbelenggu pengandaian. Pengandaian jika nanti, bagaimana kalau, mereka-reka masa depan, dan lain sebagainya. Padahal di saat yang bersamaan fokus pengandaian terpecah antara menerima kenyataan..
Saat jiwa menjadi gelisah karena berat mengakui kebenaran, adalah saat untuk penenangan diri. Pribadi kita bukanlah pribadi yang super sehingga harus selalu tenang seolah tak pernah punya masalah. Tapi bukan pula berarti kita mengumbar masalah menjadi rahasia yang terkuak.
Dalam periode tenang, kita mencoba membuka sisi diri yang sulit menerima kenyataan. Berbicara jujur pada diri sendiri. Mengakui pandangan hati nurani yang murni mengungkapkan kebenaran. Mengolah daya penerimaan keikhlasan..
Kejujuran itu memang berat, ibarat beban yang menggantung pikiran. Tetapi jika kita tak melepaskan beban itu, maka langkah kita seolah-olah dihantui kepahitan. Menyembuhkan rasa pahit, butuh rasa manis. Rasa manis itu adalah dengan menghadiahkan diri dengan rasa bebas. Bebas dari menghakimi diri sendiri.
Buah kejujuran pada diri sendiri itu adalah kedamaian dan kenyamanan. Mendapat langkah yang ringan dan semilir keramahan ketenangan jiwa.(http://lifestyle.kompasiana.com)....sikap ambisius dn tendensius akan memupus sikap jujur..hindari.

Kriteria/Ciri-Ciri Atasan/Pimpinan/Bos Yang disukai Bawahan

Setiap orang yang bekerja ingin punya pimpinan, bos atau atasan yang baik. Memang kata baik di sini sangat luas artinya. Bekerja di tempat kerja akan sangat menyenangkan dan nyaman apabila memiliki atasan yang sesuai dengan keinginan bawahan. Pimpinan yang baik akan dicintai para bawahannya, sedangkan pimpinan yang buruk akan dibenci para bawahannya. Oleh karena itu seorang pimpinan seharusnya selalu berusaha menjadi pimpinan yang baik agar kegiatan kerja berjalan mulus.
Pada kenyataannya tidak semua orang bisa menjadi pimpinan yang baik. Ada banyak orang yang stress karena di kantornya menjadi bawahan dari orang yang tidak baik. Pimpinan yang buruk mungkin saja bisa menyelesaikan target pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya dan para bawahannya, namun yang pasti hubungan antar manusia di dalamnya sangat rapuh dan berpotensi besar memunculkan konflik atau masalah pada jangka panjang.
Sebenarnya seperti apa sih atasan, bos atau pimpinan yang disenangi, disukai dan dicintai para bawahan atau anak buah di tempat kerja :
1. Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Orang yang iman dan ketakwaannya kuat tidak akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya sehingga tidak berani untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk. Dengan begitu seorang pimpinan yang beriman dan bertakwa akan menjalankan profesinya sesuai dengan ajaran agamanya.
2. Tidak Emosional / Tidak Mudah Marah
Pada situasi dan kondisi apapun pimpinan yang baik tidak akan mudah marah dan emosian. Setiap masalah yang ada diselesaikan dengan cara baik-baik. Marah-marah hanya memicu munculnya masalah baru dengan bawahan.
3. Murah Senyum dan Suka Bercanda
Bawahan akan senang jika diberi senyuman, sapaan, teguran ramah, pujian, candaan, dan hal-hal menyenangkan lain dari atasan. Senyum merupakan modal awal membangun hubungan yang baik antar manusia. Bercanda dapat mencaikan ketegangan yang terjadi antar manusia.
4. Perhatian Kepada Para Bawahan
Pimpinan yang baik selalu memperhatikan para anak buahnya. Seorang pimpinan harus sering berbicara dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk bisa menyelami suka dan duka para bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Pimpinan juga harus melakukan pendekatan pribadi dengan para bawahan di luar pekerjaan untuk dapat mengetahui kepribadian masing-masing anak buah.
5. Mendukung dan Membela Bawahan Yang Benar
Jika ada bawahan yang mendapatkan kesulitan dengan pekerjaan atau dengan bagian lain harus membantu sekuat tenaga selama bawahan melakukan hal yang benar dan sesuai prosedur. Jika kesalahan dilakukan bawahan pun pimpinan yang baik juga merasa bersalah dan memiliki tanggungjawab untuk memperbaiknya bersama bawahannya.
6. Tidak Pelit dan Senang Berbagi
Jika mendapatkan suatu kebahagiaan atau rejeki, maka berbagilah dengan para bawahan agar mereka turut merasa senang dengan atasannya. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka atasan yang baik tidak membaginya kepada para bawahannya.
7. Mengatasi Masalah Dengan Kepala Dingin
Setiap masalah yang timbul diselesaikan secara baik-baik tanpa emosi bersama-sama dengan para bawahannya kecuali bisa diselesaikan sendiri. Pimpinan yang baik harus memiliki kemampuan manajemen konfilk atau masalah yang baik. Mintalah pendapat bawahan karena siapa tahu masukan dari para bawahan ada yang bagus dan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan segera.
8. Tidak Melemparkan Semua Pekerjaan dan Tanggung Jawab
Yang benar adalah atasan dan bawahan berbagi pekerjaan dengan bawahan, bukan serta merta menyerahkan semua pekerjaan kepada bawahan agar atasan bisa nyantai. Jika para anak buah melihat pimpinannya malas bekerja, maka anak buah pun bisa tertular malas bekerja. Pekerjaan yang dikerjakan oleh bawahan tetap diawasi, dimonitor dan dievaluasi oleh pimpinan.
9. Mengutamakan Kepentingan Bersama
Pimpinan yang baik selalu ingin menggapai kesuksesan bersama-sama dengan para bawahan yang telah berjasa membantu menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Tidak menginjak-injak bawahan untuk bisa sukses mencapai cita-cita sendiri. Senang melihat bawahan susah dan tidak senang melihat bawahan senang adalah merupakan ciri-ciri tanda pemimpin yang buruk.
10. Menghargai Pendapat dan Masukan Bawahan
Pimpinan yang baik mau mendengarkan pendapat, masukan, kritik, saran, keluh kesah, curhat, dan lain-lain dari para bawahan. Musyawarah untuk mufakat tetap sangat penting ketika menyangkut masalah bersama yang tidak bersifat rahasia. sumber (http://organisasi.org)

DAFTAR ONLINE

Lokasi MISS