Jujur pada diri sendiri boleh jadi tak
semudah mengakui kejujuran pada orang lain. Kata hati kecil sudah
menjawab keraguan, tetapi ada sisi lain dalam diri yang berat menerima
kenyataan. Maka yang terbentuk adalah konflik dalam diri sendiri.
Perselisihan untuk menerima kenyataan, seringkali terbelenggu
pengandaian. Pengandaian jika nanti, bagaimana kalau, mereka-reka masa
depan, dan lain sebagainya. Padahal di saat yang bersamaan fokus
pengandaian terpecah antara menerima kenyataan..Saat jiwa menjadi gelisah karena berat mengakui kebenaran, adalah saat untuk penenangan diri. Pribadi kita bukanlah pribadi yang super sehingga harus selalu tenang seolah tak pernah punya masalah. Tapi bukan pula berarti kita mengumbar masalah menjadi rahasia yang terkuak.
Dalam periode tenang, kita mencoba membuka sisi diri yang sulit menerima kenyataan. Berbicara jujur pada diri sendiri. Mengakui pandangan hati nurani yang murni mengungkapkan kebenaran. Mengolah daya penerimaan keikhlasan..
Kejujuran itu memang berat, ibarat beban yang menggantung pikiran. Tetapi jika kita tak melepaskan beban itu, maka langkah kita seolah-olah dihantui kepahitan. Menyembuhkan rasa pahit, butuh rasa manis. Rasa manis itu adalah dengan menghadiahkan diri dengan rasa bebas. Bebas dari menghakimi diri sendiri.
Buah kejujuran pada diri sendiri itu adalah kedamaian dan kenyamanan. Mendapat langkah yang ringan dan semilir keramahan ketenangan jiwa.(http://lifestyle.kompasiana.com)....sikap ambisius dn tendensius akan memupus sikap jujur..hindari.
0 komentar:
Posting Komentar
Syukron