"Sewaktu hidup bersama suaminya, Kiai Haji M.Makshum bin Ali, pengarang kitab Amtsilatu Tasrifiyah pernah
bersama mendirikan pesantren Seblak, dan memimpin pesantren tersebut
selepas di tinggal suaminya, 'wafat' kurang lebih lima tahun".
Selanjutnya setelah beliau di dipersunting kiai Muhaimin, Lasem, aktif
di dunia pendidikan, mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan
di Makkah, Madrasatul Banat. Selain sebagai penggerak pendidikan bagi
kaum perempuan di luar negeri maupun dalam negeri, Nyai Khairiyah Hasyim
juga seorang Desainer handal. Salah satu karya yang dijadikan
kebanggaan santriwati seblak, yakni kerudung rubu. Hingga kini pun
menjadi identitas santri seblak." Hebat, bukan?
Dalam lingkungan kita sering terdengar Kaum perempuan pesantren hanya
sebagai orang yang selalu berada dalam bayang_bayang lelaki, suaminya.
Tiga istilah populer, konco wingking, dapur, sumur, dan kasur.
Pendidikan didalam keluarga juga banyak diutamakan anak laki laki.
Perempuan cukup tamat ini,...toh nantinya ikut Si suami. Bagi yang Neng,
puteri kiai, kiprah mereka kurang begitu terdengar kencang. Paling
banter ngimammi santri puteri dan menggelar pengajian bagi kaumnya,
dalam lingkungan NU Muslimatan namanya. Diluar itu waktunya banyak
dihabiskan didalam rumah.
Dalam kajian kitab kuning posisi
perempuan juga sering di tafsirkan dengan pandangan kaum laki laki.
Misalnya, larangan menjadi hakim menurut sebagian ulama(baca kontroversi
Hakim perempuan, Djazimah Muqadas, Lkis. Bila melihat sejarah
kebelakang lagi selalu dijadikan tumbal di masyarakat sebelum islam.
Nasibnya kurang baik. Tak hanya di islam, sebenarnya. Tapi, itu dulu.
Namun, mengapa mereka kaum perempuan selalu saja tersisihkan dalam
kancah sosial dan politik.
Datangnya Islam memberikan angin segar, meskipun sebagian memang masih kurang. dominasi kaum laki laki lebih dominan. Padahal dalam al qur an tersirat jelas ada pemuliaan bagi kaum perempuan, misal keberadaan surat an nisa. Kini insyaallah jauh lebih terpandang.
Datangnya Islam memberikan angin segar, meskipun sebagian memang masih kurang. dominasi kaum laki laki lebih dominan. Padahal dalam al qur an tersirat jelas ada pemuliaan bagi kaum perempuan, misal keberadaan surat an nisa. Kini insyaallah jauh lebih terpandang.
Dalam konteks masyarakat Indonesia tokoh perempuan
yang disembulkan masih sebatas sosok Kartini. Padahal pejuang perempuan
lainnya selain Kartini juga yang masih banyak jika mau dimunculkan.
Apakah benar demikian adanya, gambaran umum mengenai kaum perempuan pesantren, yang terkesan amat sempit dan gerakannya kurang luwes? Anda boleh memandangnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda, monggo!
Apakah benar demikian adanya, gambaran umum mengenai kaum perempuan pesantren, yang terkesan amat sempit dan gerakannya kurang luwes? Anda boleh memandangnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda, monggo!
Pesantren Tebuireng sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan
memiliki beberapa tokoh besar, misalnya, pendirinya Hadratussyaikh KH.
M. Hasyim Asy'ari selaku pendiri NU, KH. Wahid Hasyim, dan lainnya. Dari
kalangan perempuan juga tak kalah hebatnya dan layak dijadikan
inapirasi, yakni Nyai Khoiriyah Hasyim. Setidaknya menjadi inspirasi
bagi kaum santriwati dimanapun menyantri. Harus bangga jadi santri,
intinya begitu. Masih minimnya tokoh perempuan pesantren membuka peluang
besar bagi Anda para santriwati. Tapi, itu urusan nanti, terpenting
sekarang berproses menjadi santri dahulu. Menjadi manusia pintar,
berkarakter dan berkepribadian mulia membutuhkan proses yang tidak
instan.
Nyai Khairiyah Hasyim lahir di Tebuireng, pada tahun
1906. Beliau merupakan puteri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari
pembesar NU. Mbaknya KH. A. Wahid Hasim sejak kecil mendapatkan
pendidikan langsung dari ayahnya. Acapkali mengikuti pengajian ayahnya
dari balik satir. Tak seperti saudara laki_lakinya yang mendapatkan
kesempatan menimba ilmu diluar rumah. Kendati demikian, tak mengurangi
semangat belajar keilmuan dan akhlak yang terpuji. Selain belajar ilmu
al qur an juga belajar kitab kuning. Beliau memiliki ketekunan dan
kemandirian dalam hal belajar, juga keberanian bilamana tak paham dengan
apa yang dipelajari. Jika menemui kesulitan dalam belajar maka dengan
segera bertanya langsung kepada ayahnya. Hadratussyaikh KH.M. Hasyim
Asy'ari merupakan pembimbing utamanya. Baik dalam hal keilmuan.
Kepribadian, dan hal lainnya. Tentu saja, ibunya juga ikut serta
berkontribusi.
Terlahir dari keluarga terdidik dan agamis begitu juga dengan lingkungannya. Ikut serta melecut nyai Khoiriyah dalam belajar dan bergaul. Yang tentu menjadi hal yang istimewa. Tak semua orang bisa senasib dengannya. Kata sebagian orang beda nasab beda nasib. Tapi tidak juga, banyak orang nasab kurang baik tapi bisa melampui. Entahlah, yang benar mana. Anda bisa berpendapat dan memiliki pandangan tersendiri.
Terlahir dari keluarga terdidik dan agamis begitu juga dengan lingkungannya. Ikut serta melecut nyai Khoiriyah dalam belajar dan bergaul. Yang tentu menjadi hal yang istimewa. Tak semua orang bisa senasib dengannya. Kata sebagian orang beda nasab beda nasib. Tapi tidak juga, banyak orang nasab kurang baik tapi bisa melampui. Entahlah, yang benar mana. Anda bisa berpendapat dan memiliki pandangan tersendiri.
Puteri Kiai Hasyim ini, tidak manja dan selalu mau
berjuang keras untuk belajar dan hidup mandiri. Sehingga dasar
pengetahuan agamanya berhasil diraihnya dengan sangat baik. Dengan
begitu, cara pandang dan perilaku memiliki perbedaan tajam dengan mereka
yang kurang bekal'ilmu'. Sebagaimana petunjuk kitab suci baik al qur an
maupun al hadis, orang berpengetahuan akan mendapatkan derajat tinggi
dan mulia.
Pada umur 13 tahun Nyai Khoiriyah Hasyim sudah
terlihat dewasa. Maka dari itulah ayahnya lantas menikahkan dengan salah
seorang santrinya yang pandai dan alim, yakni; KH. Ma'sum Ali, santri
asal Maskumbambang, Gresik. Beliau merupakan salah satu santri senior
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng. Suami Nyai
Khoiriyah dikenal pandai dan alim. Ahli dibidang ilmu falak, ilmu
shaaraf, dan ilmu lainnya. Kitab Amtsilatu Tasrifiyah yang selalu
menjadi pegangan dan pedoman para santri di seluruh pesantren di
Indonesia merupakan karya suami Nyai Khoiriyah. Konon kitabnya cetak
pertama kai diluar negri. Mendapatkan suami yang pandai dan alim tentu
menjadikan beliau sangat bahagia dunia dan akhirat. Beliau pun banyak
mengaji langsung kepada suaminya sebagai upaya untuk mengembangkan
pengetahuan yang selama ini diperoleh dari ayahnya, beberapa kitab
kuning yang dipelajari; kitab fiqh, hadis, Tafsir jalalain, Fathul Muin,
Tahrir Asymuni, Jauhar Maknun Alfiyah, Jamiulm Jawami, Hikam, dan
lainnya.
Setelah menikah dengan KH. Maksum Ali, Nyai Khoiriyah Hasyim menempati rumah sederhana di dusun seblak. Jaraknya sekitat 300 Meter ke arah barat dari pesantren Tebuireng. Ayahnya mendorong keduanya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka di atas tanah yang ditinggali berdirilah sebuah pondok pesantren. Kondisi desa tersebut sama seperti daerah Tebuireng tempo dulu, dimana masyarakatnya belum tercerahkan. Keamanan juga belum sepenuhnya dapat dirasakan. Namun tak merasa terusik sedikitpun dan mengurangi keharmonisan dalam perjalanan kehidupan keluarga saban harinya. Susah senang dan berjuang bersama membangun keuarga dan pesantrennya dijalani dengan ikhlas, tanggungjawab dan mandiri . Pada tahun 1930 membuka madrasah Salafiyah Syafiiyah, Tk ibtidaiyah yang masih tingkatan sifir awal dan tsani. Jika para santri ingin belajar lebih tinggi maka disuruh melanjutkan di Pesantren Tebuireng. Kiai Maksum Ali meski memiliki pesantren sendiri namun masih ikut mengajar di Tebuireng. Konon beliau juga pernah menjadi lurah pondok pesantren Tebuireng seperti KH. A. Wahab Hasbullah selama menyantri dibawah asuhan kiai Hasyim Asy'ari.
Kehidupan Nyai Khoiriyah dengan suaminya berjalan penuh dengan keharmonisan. Dikarunia dua puteri, Abidah dan Jamilah. Keduanya inilah calon penerus perjuangan orangtuanya di Pesantren Seblak. Perjalanan pernikahan yang dibangun dengan Kiai Maksum Ali tiba_tiba roboh. Suaminya yang begitu dicintainya wafat. Tentu menjadi pukulan berat bagi Nyai Khoiriyah Hasyim. Beliau pun menggantikan suaminya menjadi pengasuh pesantren. Amat langka di zaman itu, perempuan menjadi pengasuh pesantren. Pesantren Seblak dalam kendalinya. Dari mulai urusan pengajian hingga pembinaan santri. Beban yang berat dijalani dengan penuh keikhlasan dan semangat. Maka semua itu dapat terlewati dengan baik. Sepertinya hidup menyendiri tak membuatnya bertahan lama. Meskipun mampu menjalani semuanya, namun tetaplah butuh pendamping hidup. Suratan takdir menetapkan beliau mendapatkan teman hidup kembali. Jika suami pertama terkenal dengan orang alim dan ahli ilmu. Dan reputasinya tak ada yang meragukan, maka kalaupun menikah pastinya mendapat orang yang tak kalah cakapnya. Atau lebih baik setia sama satu orang walau si suami telah meninggal dunia. Ah, itu hanya keinginan atau pendapat kita, benarkah demikian? Semua tergantung orangnya. Wilayah privat, jika Anda berkomentar berlebihan bisa menyebabkan hal tak baik.
Setelah menikah dengan KH. Maksum Ali, Nyai Khoiriyah Hasyim menempati rumah sederhana di dusun seblak. Jaraknya sekitat 300 Meter ke arah barat dari pesantren Tebuireng. Ayahnya mendorong keduanya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka di atas tanah yang ditinggali berdirilah sebuah pondok pesantren. Kondisi desa tersebut sama seperti daerah Tebuireng tempo dulu, dimana masyarakatnya belum tercerahkan. Keamanan juga belum sepenuhnya dapat dirasakan. Namun tak merasa terusik sedikitpun dan mengurangi keharmonisan dalam perjalanan kehidupan keluarga saban harinya. Susah senang dan berjuang bersama membangun keuarga dan pesantrennya dijalani dengan ikhlas, tanggungjawab dan mandiri . Pada tahun 1930 membuka madrasah Salafiyah Syafiiyah, Tk ibtidaiyah yang masih tingkatan sifir awal dan tsani. Jika para santri ingin belajar lebih tinggi maka disuruh melanjutkan di Pesantren Tebuireng. Kiai Maksum Ali meski memiliki pesantren sendiri namun masih ikut mengajar di Tebuireng. Konon beliau juga pernah menjadi lurah pondok pesantren Tebuireng seperti KH. A. Wahab Hasbullah selama menyantri dibawah asuhan kiai Hasyim Asy'ari.
Kehidupan Nyai Khoiriyah dengan suaminya berjalan penuh dengan keharmonisan. Dikarunia dua puteri, Abidah dan Jamilah. Keduanya inilah calon penerus perjuangan orangtuanya di Pesantren Seblak. Perjalanan pernikahan yang dibangun dengan Kiai Maksum Ali tiba_tiba roboh. Suaminya yang begitu dicintainya wafat. Tentu menjadi pukulan berat bagi Nyai Khoiriyah Hasyim. Beliau pun menggantikan suaminya menjadi pengasuh pesantren. Amat langka di zaman itu, perempuan menjadi pengasuh pesantren. Pesantren Seblak dalam kendalinya. Dari mulai urusan pengajian hingga pembinaan santri. Beban yang berat dijalani dengan penuh keikhlasan dan semangat. Maka semua itu dapat terlewati dengan baik. Sepertinya hidup menyendiri tak membuatnya bertahan lama. Meskipun mampu menjalani semuanya, namun tetaplah butuh pendamping hidup. Suratan takdir menetapkan beliau mendapatkan teman hidup kembali. Jika suami pertama terkenal dengan orang alim dan ahli ilmu. Dan reputasinya tak ada yang meragukan, maka kalaupun menikah pastinya mendapat orang yang tak kalah cakapnya. Atau lebih baik setia sama satu orang walau si suami telah meninggal dunia. Ah, itu hanya keinginan atau pendapat kita, benarkah demikian? Semua tergantung orangnya. Wilayah privat, jika Anda berkomentar berlebihan bisa menyebabkan hal tak baik.
Pada tahun 1938 Nyai Khoiriyah Hasyim
di persunting oleh KH. Muhaimin. Seorang kiai yang cakap ilmu dan alim.
Beliau berasal dari Lasem Jawa Tengah. Suaminya merupakan kepala
Madrasah Darul Ulum di Makkah. Setelah menikah maka Nyai Khoiriyah pun
meninggkalkan kampung halaman. Beliau tinggal di Makkah bersama
suaminya. Selama di Makkah, beliau melibatkan dalam dunia pendidikan.
Dan mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan yakni, madrasatul
bannat. Tentunya menjadi salah satu sosok perempuan pesantren pertama
yang menjadi orang besar dan berpengaruh di tanah suci. Jika dari
golongan laki_laki sudah sering kita dengar ulama laki laki dari
Nusantara yang menjadi guru besar di tanah arab, seperti Syekh Yasin al
fadani. Pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiran kita, kenapa
namannya kurang familiar dikalangan masyarakat Indonesia, bahkan mungkin
masyarakat pesantren, kontras dengan Kartini. Seorang tokoh perempuan
dari Jepara yang selalu di peringati pada bulan April dalam saban
tahunnya.
Meskipun demikian, tak perlu berkecil hati Anda para
santriwati. Jika ingin seperti beliau, sangat bisa. Lebih_lebih para
santriwati yang hidup di zaman sekarang, dimana akses buat kaum hawa
semakin terbuka luas. Dimana banyak jabatan strategis di negeri ini
pernah dan sedang di tempati kaum perempuan. Tapi itu semua, tak perlu
di besar_besarkan, belajar di pondok harus diniati semata mata mencari
ilmu, bukan mencari yang lainnya. Bila Anda ingin jadi orang besar bukan
di Pesantren. Lo sekedar kepingin ndak masalah. Terpenting berproses
mengisi dan menghiasi diri dengan ilmu. Jika tidak akan menodai dan
mengotori niat suci para santriwatu yang belajar di Pesantren dan
membawa diri kearah gagal fokus.
Di Makkah kehidupan Nyai
Khoriyah Hasyim kembali menemui jalan pahit dan getir. Dimana suami yang
begitu dicintai dan disayangi kembali meninggalkannya. Dua lelaki hebat
yang pernah bersanding dengannya selalu diambil sang Maha Hidup lebih
dahulu. Setelah, Kiai Muhaimin wafat pada tahun 1956 Nyai Khairiyah pun
tetap sabar menerima semuanya dengan ikhlas. Mengingat, semua adalah
milik Allah. Kapanpun dan dimanapun seseorang harus siap terhadap segala
apa yang dipunyai akan diambil yang Maha Kuasa cepat atau lambat.
Selama 20 tahun lebih beliau hidup di Makkah, tentu bukan waktu yang
singkat. Kepulangannya ke tanah kelahirannya, Indonesia berkat ajakan
Presiden Soekarno. Beliau selaku orang pertama di republik ini,
membutuhkan sosok orang hebat untuk diajak berjuang bersama membangun
negerinya, maka Puteri Hadrtussyaikh ini mau pulang. Sejak kepulangannya
dari tanah suci, beliaupun menuju Jombang. Dimana keluarga berkumpul
disana.
Intelektualitas Nyai Khairiyah Hasyim tidak ada yang
meragukan. Baik terhadap penguasaan terhadap kitab kuning, manajemen
pendidikan, ketrampilan, dan lainnya. Di lingkungan Nahdliyin pun
mendapat tempat yang strategis. Di komisi batsul masail, tempatnya kiai
beradu argumen mengenai banyak permasalahan. Yang aktual dan faktual.
Didalam pesantrennya juga menguji para imam shalat bagi kaum laki laki.
Perempuan cakap ini tentunya amat dibanggakan dalam kalangan masyarakat
pesantren. Minimnya perempuan hebat dari pesantren, baik dari segi
keilmuan dan luasnya pengalaman menjadikan kita sangat tidak berlebihan,
jika menjulukinya sebagai tokoh perempuan pesantren.
Selain ahli ilmu nyai Khoiriyah Hasyim juga memiliki ketrampilan, yakni mendesain dan membuat kerudung buat kaum perempuan, bernama Rubu'. Karyanya tersebut dilatari oleh salah satunya fenomena kerudung yang saat itu dipandangnya kurang elegan. Desainer Perempuan dari pesantren Seblak pun menjadikan seragam wajib bagian atas bagi para santrinya. Hingga kini pun kerudung rubu menjadi identitas santriwati Seblak.
Dalam
Islam ada beberapa perempuan yang layak dijadikan inspirasi. Seperti,
Khadijah, Aisyah, Adawiyah, dll. Nyai Khairiyah merupakan salah satu
representasi dari kaum hawa yang berasal dari pesantren. Beliau tak
kalah hebat dengan orang_orang hebat di zamannya baik yang dari kalangan
laki laki maupun perempuan. Sampai kapanpun, namanya akan selalu harum.
Layak, bagi Anda para kaum perempuan yang sedang berporses belajar
utamanya santriwati yang ada di Pesantren. Untuk mengukir kesuksesan
di zamannya. Munculnya stigma miring terhadap kaum perempuan tak perlu
disikapi emosional atau berlebihan. Terpenting adalah memupuk semangat
belajar. Hanya dengan ilmu engkau dan kita bisa meraih apapun. Perempuan
hebat seperti beliau membantu membukakan mata kita untuk tidak sebelah
mata terhadap kaum perempuan. Jika para santriwati memiliki kesempatan
yang sama utamanya dalam pendidikan misalnya, bukan mustahil jika mereka
bisa menjadi orang hebat di zamannya. Menghiasi diri dengan ilmu kunci
utamanya. Selain ahli ilmu nyai Khoiriyah Hasyim juga memiliki ketrampilan, yakni mendesain dan membuat kerudung buat kaum perempuan, bernama Rubu'. Karyanya tersebut dilatari oleh salah satunya fenomena kerudung yang saat itu dipandangnya kurang elegan. Desainer Perempuan dari pesantren Seblak pun menjadikan seragam wajib bagian atas bagi para santrinya. Hingga kini pun kerudung rubu menjadi identitas santriwati Seblak.
Sumber : Keluarga besar PPP. Seblak

0 komentar:
Posting Komentar
Syukron