Siswa-Siswa Kelas V MISS Seblak
Ilmu Shorof merupakan salah satu cabang dari
’ulumul lughah al-’Arabiyah (ilmu bahasa Arab) yang memiliki peranan yang cukup
penting di samping ilmu Nahwu. Hubungan diantara kedua ilmu (shorof dan
nahwu) ini tidak dapat dipisahkan, diibaratkan hubungan antara ibu dan bapak
yang saling membutuhkan dan melengkapi. Sebagian ulama mengatakan: الصَّرْفُ أُمُّ الْعُلُوْمِ وَ النَّحْوُ
أَبُوْهَا, bahwa shorof adalah ibu/induk
segala ilmu, sedangkan nahwu adalah bapaknya. Bedanya, ilmu shorof
membahas suatu ”kata” atau ”lafazh” sebelum masuk kedalam susunan kalimat,
sedangkan ilmu nahwu adalah membahas suatu ”kata” atau ”lafazh”
ketika sudah masuk didalam susunan kalimat. Kedua ilmu ini merupakan materi pengajaran pokok di pesantren-pesantren pada umumnya, disebabkan kedudukannya sebagai ilmu alat (perantara) atau prasyarat untuk mampu menguasai (segi pembacaan dan penulisan secara benar) dan mengungkap isi kandungan seluruh Kitab Kuning yang sering disebut dengan ”kitab gundul”. K.H. Ali Maksum pernah mengatakan, bahwa bahasa Arab justru menjadi kunci pembuka yang paling utama. Sebab Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan kitab-kitab tafsir serta syarah-syarah hadis semuanya tertulis dalam bahasa Arab. Tanpa menguasai ilmu bahasa arab, seorang santri mustahil dapat menguasai secara baik kitab-kitab kuning.
ketika sudah masuk didalam susunan kalimat. Kedua ilmu ini merupakan materi pengajaran pokok di pesantren-pesantren pada umumnya, disebabkan kedudukannya sebagai ilmu alat (perantara) atau prasyarat untuk mampu menguasai (segi pembacaan dan penulisan secara benar) dan mengungkap isi kandungan seluruh Kitab Kuning yang sering disebut dengan ”kitab gundul”. K.H. Ali Maksum pernah mengatakan, bahwa bahasa Arab justru menjadi kunci pembuka yang paling utama. Sebab Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan kitab-kitab tafsir serta syarah-syarah hadis semuanya tertulis dalam bahasa Arab. Tanpa menguasai ilmu bahasa arab, seorang santri mustahil dapat menguasai secara baik kitab-kitab kuning.
Namun Kiai Ali mengakui, bahwa metode
belajar konvensional yang biasa diterapkan di pesantren terlalu memakan waktu lama,
sehingga menghabiskan umur, karena yang dijadikan ukuran bahwa seorang santri dipandang
telah memahami bahasa Arab ialah jika ia mampu menguasai kitab Syarah Ibnu
’Aqil, sementara untuk dapat memahami kitab ini, seorang santri harus mempelajari
bahasa Arab secara sistimatis dan bertahap, mulai dari kitab-kitab taraf rendah
sampai yang tertinggi, yang biasanya berurutan mulai dari kitab Jurumiyah,
’Imrithy, Mutammimah, dan terakhir Alfiyah Ibnu Malik dengan
syarahnya Ibnu ’Aqil. Cara belajar yang konvensional seperti ini
membutuhkan waktu yang lama. Hal ini tentu saja memperkuat anggapan bahwa
bahasa Arab sangat rumit dan sulit dipelajari, bahkan menjadi momok yang
menakutkan bagi sekelompok pelajar-mahasiswa perguruan Islam.[4] Akibat dari anggapan ini, maka minat belajar
bahasa Arab di kalangan kaum muslimin, terutama di kalangan generasi mudanya
dari waktu ke waktu semakin menurun. Padahal mempelajari bahasa Arab merupakan
tuntutan syar’i, sebagaimana sabda Nabi :
تَعَلَّمُوْا الْعَرَبِيَّةَ وَ عَلِّمُوْهَا النَّاسَ
Artinya: “Pelajarilah
bahasa arab, dan ajarkanlah kepada orang lain”
Ringkas kata, menurut pandangan
Kiai Ali, mereka kesulitan mempelajari bahasa Arab bukan karena dari segi
ilmunya yang sulit atau kosa katanya yang rumit, tetapi lebih disebabkan oleh ketidaktepatan
metode yang diterapkan dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, Kiai Ali
kemudian menawarkan metode belajar bahasa Arab dengan pendekatan tashrifatau shorof. Dengan pendekatan ini, kesulitan dan kerumitan kosakata dapat
teratasi, serta dapat mempersingkat masa tempuh belajarnya.
Sumber : alumnikrapyakberbagi.blogspot.com
Sumber : alumnikrapyakberbagi.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar
Syukron