BAPAK DAHAR "Kulo Siram" (MISS Seblak Nguri-Nguri BOSO JOWO)



"Program baru MISS Seblak" Nguri-Nguri /melestarikan BOSO JOWO Saben dino Kamis. Bertujuan untuk melestarikan warisan budaya dan tatacara berdialog halus dengan menggunakan bahasa Krama Inggil di linkungan Madrasah (MISS Seblak), yang diwajibkan setiap hari Kamis, semuanya harus berbahasa Krama Inggil baik Pak/Bu Guru dan peserta didik..
Bahasa Jawa Krama - Ragam bahasa Jawa krama digunakan untuk menunjukkan adanya penghormatan kepada mitratutur yang mempunyai kedudukan atau kekuasaan yang lebih tinggi daripada penutur (Susylowati, 2006). Bahasa Jawa krama ini digunakan orang sebagai tanda menghormati orang yang diajak bicara. Misalnya, anak muda dengan orang tua atau pegawai dengan atasannya. Tingkatan yang lebih tinggi dari krama yaitu krama inggil. Krama inggil dianggap sebagai bahasa dengan nilai sopan santun yang sangat tinggi. Jarang sekali digunakan pada sesama usia muda. Bahasa krama dibagi menjadi krama andhap dan krama inggil.
Contoh:
Krama andhap:
Kula badhé késah sakmenika (Kridalaksana, 2001).
Saya mau pergi sekarang.
Krama inggil:
Panjenengan badhétindak sakmenika (Kridalaksana, 2001).
Anda mau pergi sekarang.
Pembicara atau penutur menggunakan kata késah untuk mengacu pada tindakan yang dilakukannya, sedangkan kata tindak digunakan untuk mengacu tindakan yang dilakukan oleh kawan bicara yang dihormati atau memiliki status sosial yang lebih tinggi.
Penggunaan ragam ngoko, madya, dan krama didasarkan atas sikap penghormatan dan tingkat keakraban. Untuk dapat membedakan bentuk penggunaan bahasa Jawa lebih baik lagi dapat dilihat dalam contoh kalimat seperti berikut.
Saya akan makan dahulu.
Ngoko: aku arep mangan dhisik.
Madya:kula ajeng nedha riyin.
Krama:kula badhé nedha rumiyin.
Dalam bahasa Jawa untuk menyatakan diri sendiri dengan bahasa halus tidak menggunakan krama inggil tetapi menggunakan madya karena tidak mungkin seseorang menghormati dirinya sendiri. Jadi, penggunaan bahasa Jawa itu ditentukan oleh kedudukan dan tingkat usia. Sudaryanto (1991: 34) menyebutkan fungsi dari tingkat-tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa ini adalah:
1. Norma dan etika, yaitu digunakan untuk berkomunikasi di masyarakat ataudengan orang lain dengan melihat orang yang diajak bicara (lebih tua atau lebih muda).
2.Penghormatan dan keakraban, yaitu digunakan untuk menghormati orang yang diajak bicara supaya tidak dibilang tidak mempunyai tata krama dalam berbicara.
3. Pangkat dan status sosial, yaitu digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan melihat pangkat dan status sosialnya di dalam masyarakat tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Syukron

DAFTAR ONLINE

Lokasi MISS