Hukum Membaca Yasin Malam Tertentu

Bagaimana hukum membaca Yasinan pada malam-malam tertentu? Dalam tafsir imam abul fida Alhafizd Ibnu Katsir Addimisyqi (murid Ibnu Taimiyah), Beliu wafat tahun 774 H, Pada halaman 525 jilid 3 cetakan Darul Kutub tahun 2006 yg harganya setahun lalu 250rb rupiah di pasaran, mgkn sekarang harganya udah naik, Nah pada halaman 525 baris ke 10 dr atas kitab Ini nash nya sebagai berikut:

قال أبو يعلى : حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل حدثنا حجاج بن محمد عن هشام بن زياد عن الحسن قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا له، ومن قرأ حم التي يذكر فيها الدخان أصبح مغفورا له . إسناده جيد
Rasulullah bersabda : Barangsiapa membaca yasin pada waktu malam apa aja (lailatin nakiroh) niscaya paginya diampuni; barangsiapa membaca HAMIM yg dsebut di dalamnya  dukhan (surah Ad Dukhan) juga pada waktu malam (di sini  tidak disebut fi lailatin karena sudah menunjukkan yang sebelumnya), niscaya paginya diampuni." Sanadnya JAYYID (jadi hadist ini bukan dhoif apalagi maudhu)
وقال ابن حبان في صحيحه : حدثنا محمد بن إسحاق بن إبرهيم مولى ثقيف حدثنا الوليد بن شجاع بن الوليد السكوني حدثنا أبي حدثنا زياد بن خيثمة حدثنا محمد بن جحادة عن الحسن عن جندب بن عبدالله رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه عز وجل غفر له
Rasulullah bersabda : Barangsiapa membaca YASIN  PADAMALAM APA AJA, (lailatin nakiroh) (makna fi zhoraf az zaman) KARENA MENGHARAP (maf'ul liajlih) (Wajah di sini bukan haqiqat tapi majaz yaitu maknanya ) RIDHO ALLAH AZZA WAJALL, NISCAYA (jawab man) DIAMPUNI BAGINYA.
وقال أحمد : حدثنا عارم حدثنا ابن المبارك حدثنا سليمان التيمي عن أبي عثمان وليس بالهندي عن أبيه عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرؤوها على موتاكم ، يعني يس. رواه أبو داود والنسائي في اليوم والليلة وابن ماجه من حديث عبد الله بن المبارك به،
Rasulullah bersabda lagi dengan fi'il amr (amr di sini lin nadb (dsunatkan) : "BACAKAN LAH YASIN ATAS ORANGYANG MENINGGAL KAMU", yang dimaksud Rasul adalah YASIN.

ولهذا قال العلماء: من حصائص هذه السورة أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله تعالى وكأن قراءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة وليسهل عليه عند خروج الروح
Karena ini hadist-hadtis ini, maka berkatalah para ulama : Sebagian dari khususiat suroh ini  (alif lam di sini lil ahdizzikri mksdnya yasin) (LA nafi setelhnya ada ILLA, maka maknanya adalah itsbat seperti  LAA ILAAHA ILLALLAH) bhwasanya dibaca surah ini waktu kesusahan, niscaya Allah mudahkan urusan nya, dan dibaca dsisi orangyg sakratul maut atau orang sudah mati untuk mengharap turun rahmat dan barakah dan memudahkan untknya saat keluar roh dari dalam jasadnya.
Sumber: Status aawy Chinta Ilmu

Parameter Alim dan Peng-Aliman

Sulit sekali mengukur kealiman (kedalaman ilmu) seseorang. Tetapi setidaknya, asum­si umum patut diper­tim­bang­kan. Misalnya, menurut pandangan umum, ukuran kealiman itu bisa diperoleh manakala kyai itu memiliki karya tertulis ataupun karya tertutur. Hal lain, bisa dilihat dari tingkah laku dan prilaku kesehariannya. Di samping itu berbagai kepedulian dan kearifan dalam menyikapi persoalan. Hampir setiap orang dengan mudah melihat bagaimana akhlak seorang yang dianggap “cerdik pandai” itu. Nah, sikap-sikap pembawaan seorang kyai ini setidaknya dapat melabeli “alim” atau tidaknya seorang kyai.
Atau secara spesifik asumsi umum itu bisa diurai: pertama, dari karya-karya yang diterohkan dalam berbagai tulisannya. Apakah diakui oleh kalangan ilmuan lain ataupun tidak; membawa manfaat secara umum atau tidak; memberikan khasanah (kekayaan) baru dalam bidangnya atau tidak; dan membawa pesan perubahan prilaku mulia atau sebaliknya.
Kedua, jika tidak ahli dalam menulis, tetap bisa dikategorikan kyai kampung yang alim. Hal itu bisa diukur misalnya dalam setiap “ilmu tutur”-nya. Bagaimana ia menuturkan dan menjelaskan berbagai persoalan dari sudut pandang ilmu yang dikuasainya: apakah konprehensif (mencakup) atau tidak, membawa kepentingan golongan atau pluralis, membawa kedamaian atau sebaliknya, menetramkan atau menggelisahkan, membawa pesan kepedulian atau pengabaian, menciptakan sinergi etika atau anti-etis, membimbing individu masyarakat atau justru mengambangkannya.
Ketiga, wilayah privatnya. Maksudnya adalah kedekatan interaksi vertikalnya. Di kalangan santri, ada pemahaman secara umum, bahwa kyai yang memiliki kedalaman rohani, biasanya karena interval vertikalnya sangat rapat, ditambah wawasan keilmuannya yang komprehensif. Disamping itu, inverval horizontalnya pun juga rapat. Ibarat gelombang FM (frekuensi modulation) akan lebih jernih ketimbang gelombang AM. Hal itu karena FM memiliki karakter gelombang yang modulasi dan intervalnya sangat rapat.
Tidak jarang, “kyai FM” ini sangat dicintai masyarakatnya. Persis seperti radio FM yang lebih diminati masyarakat kita. Sehingga di mana-mana seluruh gelombang radio berpindah pada jalur FM. Hal ini karena karakter kuat pada gelombangnya juga jernih suaranya. Demikian itu bila ilmu ini melekat pada seorang “kyai FM”, maka tidak mustahil, pancaran gelombang ilmunya kuat, prilakunya santun dan nasehatnya jelas, dan tentu saja enak di dengar telinga. Pada akhirnya, tidak mustahil pancaran ilmu dari “kyai FM” ini akan di relay ulang di setasiun daerah masing-masing santrinya dan tentu masyarkat sekitar santri itu akan ramai-ramai mendengar lantunan gelombang “kyai FM” yang indah itu. (dlm: http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/24/polarisasi-kyai-kampung-dan-kyai-kampus)

(Fy:) Fenomena sekarang tidak sedikit seorang kyai/bu Nyai yang men-kyai-kan dirinya sendiri, dengan sikap dan model kyai TOP. tidak sulit mengenali kyai yang memposisikan dirinya seorang figur kyai, sikap dan prilakunya dibuat-buat, quwwa yang berlebihan, dalam berprilaku condong ditunjukkan kepada orang lain dengan strategi yang direkayasa yang berlebihan, pendapatnya tidak mau dikalahkan orang lain, dengan sekuat tenaga dia akan memberikan gambaran pendapat dirinya sendiri walaupun bagi orang lain sangat tidak logis dan arogan, arogan dan sombong, menunjukkan ilmunya lebih tinggi dari pada orang lain...

orang-orang seperti itulah, penghambat majunya Islam (dalam skala besar), lembaga (dalam skala lembaga).... dan seterusnya. semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang demikian.

DAFTAR ONLINE

Lokasi MISS