Parameter Alim dan Peng-Aliman

Sulit sekali mengukur kealiman (kedalaman ilmu) seseorang. Tetapi setidaknya, asum­si umum patut diper­tim­bang­kan. Misalnya, menurut pandangan umum, ukuran kealiman itu bisa diperoleh manakala kyai itu memiliki karya tertulis ataupun karya tertutur. Hal lain, bisa dilihat dari tingkah laku dan prilaku kesehariannya. Di samping itu berbagai kepedulian dan kearifan dalam menyikapi persoalan. Hampir setiap orang dengan mudah melihat bagaimana akhlak seorang yang dianggap “cerdik pandai” itu. Nah, sikap-sikap pembawaan seorang kyai ini setidaknya dapat melabeli “alim” atau tidaknya seorang kyai.
Atau secara spesifik asumsi umum itu bisa diurai: pertama, dari karya-karya yang diterohkan dalam berbagai tulisannya. Apakah diakui oleh kalangan ilmuan lain ataupun tidak; membawa manfaat secara umum atau tidak; memberikan khasanah (kekayaan) baru dalam bidangnya atau tidak; dan membawa pesan perubahan prilaku mulia atau sebaliknya.
Kedua, jika tidak ahli dalam menulis, tetap bisa dikategorikan kyai kampung yang alim. Hal itu bisa diukur misalnya dalam setiap “ilmu tutur”-nya. Bagaimana ia menuturkan dan menjelaskan berbagai persoalan dari sudut pandang ilmu yang dikuasainya: apakah konprehensif (mencakup) atau tidak, membawa kepentingan golongan atau pluralis, membawa kedamaian atau sebaliknya, menetramkan atau menggelisahkan, membawa pesan kepedulian atau pengabaian, menciptakan sinergi etika atau anti-etis, membimbing individu masyarakat atau justru mengambangkannya.
Ketiga, wilayah privatnya. Maksudnya adalah kedekatan interaksi vertikalnya. Di kalangan santri, ada pemahaman secara umum, bahwa kyai yang memiliki kedalaman rohani, biasanya karena interval vertikalnya sangat rapat, ditambah wawasan keilmuannya yang komprehensif. Disamping itu, inverval horizontalnya pun juga rapat. Ibarat gelombang FM (frekuensi modulation) akan lebih jernih ketimbang gelombang AM. Hal itu karena FM memiliki karakter gelombang yang modulasi dan intervalnya sangat rapat.
Tidak jarang, “kyai FM” ini sangat dicintai masyarakatnya. Persis seperti radio FM yang lebih diminati masyarakat kita. Sehingga di mana-mana seluruh gelombang radio berpindah pada jalur FM. Hal ini karena karakter kuat pada gelombangnya juga jernih suaranya. Demikian itu bila ilmu ini melekat pada seorang “kyai FM”, maka tidak mustahil, pancaran gelombang ilmunya kuat, prilakunya santun dan nasehatnya jelas, dan tentu saja enak di dengar telinga. Pada akhirnya, tidak mustahil pancaran ilmu dari “kyai FM” ini akan di relay ulang di setasiun daerah masing-masing santrinya dan tentu masyarkat sekitar santri itu akan ramai-ramai mendengar lantunan gelombang “kyai FM” yang indah itu. (dlm: http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/24/polarisasi-kyai-kampung-dan-kyai-kampus)

(Fy:) Fenomena sekarang tidak sedikit seorang kyai/bu Nyai yang men-kyai-kan dirinya sendiri, dengan sikap dan model kyai TOP. tidak sulit mengenali kyai yang memposisikan dirinya seorang figur kyai, sikap dan prilakunya dibuat-buat, quwwa yang berlebihan, dalam berprilaku condong ditunjukkan kepada orang lain dengan strategi yang direkayasa yang berlebihan, pendapatnya tidak mau dikalahkan orang lain, dengan sekuat tenaga dia akan memberikan gambaran pendapat dirinya sendiri walaupun bagi orang lain sangat tidak logis dan arogan, arogan dan sombong, menunjukkan ilmunya lebih tinggi dari pada orang lain...

orang-orang seperti itulah, penghambat majunya Islam (dalam skala besar), lembaga (dalam skala lembaga).... dan seterusnya. semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang demikian.

0 komentar:

Posting Komentar

Syukron

DAFTAR ONLINE

Lokasi MISS