Ilmu Langka itu Me-langka Saat Kyai Tiada
Siapa sih yang tidak tahu, bahwa salah satu kharisma ilmu yang memancar dari pondok Seblak, kalau bukan keunggulan ilmu pengasuhnya. KH. Mahfudz Anwar adalah salah satu kyai langka karena penguasaanya pada ilmu yang identik dengan astronomi ini. Karena ketinggian ilmu dan kharismanya, hampir setiap menjelang puasa atau pun hari raya, ratusan mobil biasanya berderet memadati jalan-jalan masuk ke pondok yang sering dikenal dengan Seblak tengah ini. Mereka berdatangan dari berbagai pelosok kota dan daerah. Tidak lain untuk menunggu kepastian kapan datangnya puasa dan idul fitri. Mereka akan kembali setelah kepastian waktu dari sang kyai.
Hal yang menakjubkan adalah masyarakat yang datang setiap menjelang puasa dan hari raya bukan karena kemampuan analisis perhitungan falaqiyah, dari sang kyai yang dipublikasikan. Masyarakat datang atas nisiatif sendiri yang meyakini dan memilih untuk mengikuti keputusan dari sang Kyai tentang jatuhnya waktu puasa dan idul fitri.
Berbeda dengan zaman sekarang. Jauh-jauh hari sebelum puasa dan hari raya datang, banyak tokoh yang berperang hasil perhitungan. Tak jarang ahli hisab sekarang berani bertaruh bahwa hitungannya paling benar dan layak dijadikan fatwa. Sehingga acap kali menjelang bulan ramadhan dan hari raya, banyak perang perhitungan antara kelompok yang pakai hisab dan kelompok yang menggunakan metodologi rukyah.
Kini, guruku telah tiada. Ia dijemput sang pemilik nyawa saat Jawa Timur diteror sekelompok ninja. Ninja-ninja yang katanya berpakaian hitam menyatroni banyak pesantren. Tak terkecuali pondok Seblak. Bukan karena ninja beliau meninggal, melaiinkan sakit yange menghampirinya di usia yang telah menginjak 80-an lebih.
Sang kyai adalah sosok yang disegani karena keluassan ilmu. Pancaran hikmahnya pun terpantul dari setiap partikel-partikel kata, cara berpikir hingga tata cara bergaul dengan masyarakat. Pusaka peninggalanya yaitu ilmu falaq.
Saya ingat waktu itu sebelum meninggal, beliau telah merampungkan kalender hingga tahun 2005. Artinya, kita sebenarnya telah dihantarkan beliau pada suatu masa yang akan datang, saat kita berada pada tahun 1999. Kalender waktu yang telah beliau ciptakan 6 tahun sebelum 2005 datang sejatinya merupakan jalan tapak yang telah beliau sediakan untuk generasi sesudah beliau.
Karya tersebut seakan-akan berkedudukan sebagai time frame hidup yang akan kita lalu dari detik per detik, dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. Tentu saja karena usia kita lebih muda. Kita adalah para generasi yang kini telah terhantar sampai melampaui tahun 2005. dengan demikian, di tahun 2009 ini, kita telah banyak merekam pengalaman hidup selama kurang kebih 10 tahun.
Saat sang kyai telah tiada, maka seakan-akan kita telah kehilangan sosok yang mampu membuatkan jalan untuk masa yang akan datang. Memang sudah banyak media yang menyediakan kalender penanggalan. Dari buku diary sampai HP sekarang sudah dilengkapi dengan feature kalender. Tapi, pernahkah kita berpikir siapa dan bagaimana cara membuatnya?
Era yang didominasi kekuatan teknologi dan informasi sekarang ini, memang telah memudahkan manusia untuk dengan mudah mendapatkan informasi waktu. Taruhlah kalender. Kita bisa mendapatkan kalender di jam tangan, HP, buku diary atau pun komputer. Tapi budaya itu pelan tapi pasti telah menggerus keberanian kita untuk mempelajari ilmu falaq yang telah memproduksi sistem penanggalan, hingga kita bisa menikmati produk yang namanya kelender.
Ya, generasi kita sekarang lebih senang menerima sesuatu yang tinggal pakai. Termasuk tinggal pakai yang namanya mesin waktu yang bernama kalender atau penanggalan. Berinisiatif bagaimana kita membuat sesuatu adalah salah satu cara berfikir yang mulai tersingkir di jagat instant. Karena itu ada baiknya, kita merenungkan kembali saat-saat para tokoh seperti kyai Mahfudz yang ahli falaq meninggal. Kepada siapa lagi kita mencari penanggalan? Maka kiranya menjadi penting bagi kita untuk berupaya mengembangkan penanggalan bukan sebagai produk percetakan berupa kelender, tapi bagaimana ilmu falaq itu tetap hidup dan berkembang.
Ada beberapa inisiatif yang mungkin bisa dilakukan kembali oleh pondok Seblak untuk menyemai kembali energi Pondok Seblak sebagai pondok ber-ikon pondok falaq. Mengapa menyemai bukan menghidupkan kembali? Ya karena potensi itu masih ada dan melekat di pondok ini. Inisiatif tersebut antara lain Pertama, menghimpun dan menginfentarisasi peninggalan mbah Kyai Mahfudz berupa benda ataupun kitab yang beliau pergunakan dalam mengamalkan atau mengembangkan ilmu falaq. Kedua, menuliskan dan mempublikasikan profile dari benda dan kitab peninggalan beliau, agar masyarakat luas mengenal dunia falaq meski dari peralatan-peralatan sederhana yang dimiliki Kyai Mahfudz. Ketiga, memasukan kembali pelajaran ilmu falaq ke dalam kurikulum pondok. Keempat, riset metodologi ilmu falaq plus metodologi pembelajarannya. Langkah ini bisa ditempuh dengan dengan cara menghimpun berbagai informasi yang berkaitan dengan tujuan itu melalui ahli-ahli falak, utamanya mereka yang pernah berguru pada Kyai Mahfudz. Semoga langkah ini bisa menumbuhkan kembali benih-benih unggul pondok Seblak berupa bibit unggul dibidang ilmu falaq tersebut. wallahu’alam
0 komentar:
Posting Komentar
Syukron