BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bimbingan karier merupakan salah satu bimbingan yang dilaksanakan di SMP dengan tujuan mengupayakan timbulnya kesadaran pada diri siswa akan pilihan karirnya di masa depan. Bimbingan karier di SMP dalam rangka merencanakan masa depan yaitu membantu siswa memikirkan dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke SMA dan kariernya dimasa depan. Bimbingan karier juga merupakan suatu proses membantu siswa SMP dalam mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta peranannya di dunia kerja. Untuk itu bimbingan karier dalam rangka merencanakan masa depan siswa dilaksanakan di SMP.
Bimbingan karier di SMP umumnya diintegritaskan dalam mata pelajaran tertentu, selain itu metode dan cara pengajaran yang digunakan oleh guru sama dengan pelajaran yang lain, contohnya mata pelajaran bahasa Indonesia tentang kosa kata yaitu kata umum bidang perdagangan. Pelajaran ini mengandung unsur bimbingan karier namun tidak diuraikan secara jelas dan tuntas. Bimbingan karier yang diterima siswa bersifat informative.
Bimbingan karier di SMP dilakukan oleh guru BK namun hal ini tidak samata-mata, karena secara tidak disadari guru kelas juga ikut melakukannya. Guru kelas memiliki peran ganda sebagai tenaga pengajar dan tenaga pembimbing (konselor) karena keterbatasan tenaga pembimbing di Sekolah Dasar setingkat SMP. Hal ini menyebabkan pelaksanaan bimbingan karier kurang efektif. Bimbingan karier akan lebih efektif jika dilakukan oleh ahli yang berlatar belakang pendidikan dalam bidang bimbingan.
Menyadari keadaan yang demikian perlu dilaksanakan bimbingan karier yang menekankan kegiatan-kegiatan dan informasi yang sistematis tentang dunia kerja dan alternatif pendidikan dimasa datang. Informasi tentang karier perlu dikomunikasikan secara seksama kepada siswa.
Informasi tentang dunia kerja dan pendidikan dimasa depan terutama berkaitan dengan sikap atau tingkah laku tidak selalu dapat di informasikan secara lisan (Ketut S: 1994: 548). Untuk itulah dengan teknik bermain peran melalui sosiodrama siswa dapat melakukan sesuatu kegiatan dengan memeragakan dan menvisualisasikan tentang pekerjaan yang ada di lingkungannya. Metode bermain peran melalui sosiodrama diharapkan membantu siswa memperoleh kesadaran akan pilihan kariernya di masa depan.
Metode bermain peran melalui sosiodrama diharapkan sangat membantu siswa memperoleh kesadaran akan pilihan kariernya di masa depan sesuai dengan usia anak sekolah dasar (tingkat SMP). Namun demikian metode tersebut belum diketahui keefektifannya dengan alasan tersebut penulis melakukan penelitian untuk mengetahui keefektifan metode bermain peran melalui sosiodrama dalam rangka meningkatkan kesadaran karier di SMP. Adapun judul penelitian adalah “Efektivitas Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama Dalam Meningkatkan Kesadaran Karier Siswa di SMP Negeri 1 Jombang Tahun Pelajaran 2007/2008”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas maka permasalahan dalam penelitian adalah: “Bagaimana efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam rangka meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang”.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan keras ini adalah meningkatkan efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi atau sebagai salah satu bahan pemikiran untuk menunjang dan pengembangan teori bimbingan karier khususnya bimbingan karier di sekolah.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat praktis, antara lain:
a. Bagi guru sebagai bahan masukan dalam memberikan bimbingan karier dengan metode perkembangan anak didiknya
b. Bagi kepala sekolah sebagai salah satu bahan pertimbangan atau guru-guru dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan karier di Sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Bimbingan Karier
2.1.1 Bimbingan Karier di Sekolah
1. Latar Belakang Pelaksanaan Bimbingan Karier di Sekolah.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinytakan bahwa tujuan Pendidikan Dasar yang dijabarkan dalam kurikulum Pendidikan dasar 2004, diharapkan mampu menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki bekal kemampuan dasar dalam mewujudkan kualitas kehidupan yang layak serta mampu mengembangkannya. Berdasarkan pasal 25 peraturan Pemerintah nomor 218 Tahun 1990, juga menegaskan suatu sistem layanan bimbingan yang meliputi empat bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, bimbingn belajar, bimbingan sosial dan bimbingan karier.
Perkembangan Pembangunan Nasional menyiratkan adanya tuntutan kebutuhan yang makin besar akan sumber daya manusia yang lebih terampil. Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia ini, siswa sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi perlu dipersiapkan untuk kehidupan dunia kerja melalui pengenalan, pemahaman, perencanaan dan pengambilan keputusan tentang karier (Munandir, 1996:9). Bimbingan karier disekolah untuk membantu siswa mencari sekolah sesuai pilihan kariernya dan membantu orang muda menentukan pilihan kariernya.
Pengenalan, pemahaman dan pengambilan keputusan tentang karier bagi siswa sekolah perlu diberikan sejak dini dengan tujuan agar siswa nantinya dapat mnyesuaikan keadaan dirinya dengan tuntutan pekerjaan, terlebih dengan pertumbuhan penduduk. Keadaan tersebut, banyak menimbulkan masalah pada siswa pada khususnya dan orang muda pada umumnya. Siswa susah mencari sekolah lanjutan studi untuk segala jenjang pendidikan dan orang muda susah mendapat pekerjaan yang susah diharapkan. Dalam kondisi persaingan untuk memperebutkan bangku sekolah dan lowongan pekerjaan tidak jarang orang muda mengalami kekecewaan, antara lain siswa menjalani pekerjaan yang bukan bidangnya karena hanya pekerjaan itu yang ada. Sehingga orang muda bekerja dengan terpaksa, tidak sesuai bakat dan kemampuannya.
Untuk membantu siswa mencari sekolah sesuai pilihan kariernya dan membantu orang muda menentukan pilihan kariernya, maka layanan bimbingan karier disekolah diharapkan membantu orang muda memperoleh pemahaman atas kenyataan dunia kerja dan menerima potensi-potensinya dalam rangka menuju terbentuknya pribadi yang berfungsi penuh baik fisik maupun pikirannya. Bimbingan karier juga diharapkan membantu siswa menyusun rencana pendidikan, rencana karier dan mengambil keputusan tentang kariernya dimasa depan.
2. Penelitian Bimbingan Karier
“Bimbingan karier adalah kegiatan layanan bantuan kepada siswa dengan tujuan agar mereka memperoleh pemahaman dunia kerja dan akhirnya mereka mampu menentukan pilihan kerja dan menyusun perencanaan karier”. (Munandir, 1996:71)
“Bimbingan karier adalah salah satu usaha membantu siswa agar memperoleh pemahaman diri, lingkungan dan dapat mengarahkan diri dan keutuhan masyarakat” (PM. Hattari, 1984:1)
M. Thayeb Manribu (1988:15) mengemukakan bahwa:
“Bimbingan karier adalah suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang sistematik, proses-proses, teknik-teknik atau layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan dan waktu luang, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan keputusan sehinggga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan kariernya…”
Donald E.Super Mengemukakan bahwa bimbingan karier adalah suatu proses untuk membantu pribadi mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta perannya dalam dunia kerja (Ketut Sukardi, 1984:22)
Menurut Vocational Guidance Association bahwa bimbingan karier adalah pemberian bantuan layanan penerangan, pengalaman dan nasehat dalam memilih, mempersiapkan, memasuki dan memperoleh kemajuan pekerjaan (Ketut Sukardi, 1984:22)
Berdasarkan uraian diatas, bimbingan karier dalam penelitian ini adalah suatu proses atau program layanan yang sistematik, dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan kesempatan-kesempatan pekerjaan. Pendidikan dan waktu luang, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan membuat mengelola perkembangan kariernya.
3. Tujuan Bimbingan Akhir
a. Tujuan Umum
Secara umum tujuan bimbingan karier di sekolah adalah membantu siswa dalam pemahaman diri dan lingkungannya dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan pengarahan kegiatan yang tertuju kepada karier dan cara hidup yang akan memberi rasa keputusan karena sesuai, serasi dan seimbang dengan diri dan lingkungannya. (Ketut Sukardi, 1984:31-32).
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang menjadi sasaran bimbingan karier disekolah adalah:
1) Meningkatkan pengetahuan siswa tentang dirinya sendiri.
2) Siswa dapat meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja.
3) Siswa dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai-nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan lapangan kerja serta dalam persiapan memasukinya, mengembangkan nilai positif terhadap diri sendiri dan dapat dikembangkan oleh anak didik dengan cara memahami potensinya, dapat menerima kenyataan tentang diri sendiri, berani mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja.
4) Bimbingan karier dilaksanakan disekolah bertujuan agar siswa mampu meningkatkan keterampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja.
5) Siswa dapat menguasai keterampilan dasar yang penting dalam pekerjaan terutama kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berprakarsa (D. Ketut Sukardi, 183:32-34).
Jadi tujuan bimbingan dalam penelitian adalah agar siswa atau individu memiliki pengetahuan tentang dirinya, pengetahuan tentang dunia kerja, individu dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai, lingkungan pendidikan, pekerjaan, perencanaan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
4. Prinsip-prinsip Bimbingan Karier di Sekolah
Bimbingan karier di sekolah dapat berfungsi dengan baik sesuai tujuan yang ditetapkan maka, prinsip-prinsip tentang bimbingan karier perlu diperhatikan oleh pembimbing khususnya dan administrator pada umumnya terutama dalam penyusunan program pelaksanaan layanan bimbingan karier disekolah.
Ketut Sukardi (1984:31-35) mengemukakan secara umum prinsip bimbingan karier di sekolah adalah:
a. Seluruh siswa hendaknya mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya dalam pencapaian kariernya secara tepat.
b. Setiap siswa hendaknya memahami bahwa karier ini adalah sebagai suatu jalan hidup, dan pendidikan adalah sebagai persiapan untuk hidup.
c. Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadai terhadap diri sendiri dan kaitannya dengan perkembangan sosial pribadi dan perencanaan pendidikan karier.
d. Siswa perlu diberikan pemahaman tentang dimana dan mengapa mereka suatu alur pendidikan.
e. Siswa secara keseluruhan hendaknya dibantu untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan karier.
f. Siswa pada setiap tahap program pendidikan hendaknya memiliki pengalaman yang berorientasi pada karier secara berarti dan realistik.
g. Setiap siswa hendaknya memilih kesempatan untuk menguji konsep, berbagai peranan dan keterampilannya guna mengembangkan nilai-nilai.
h. Program bimbingan karier hendaknya memiliki tujuan untuk merangsang perkembangan pendidikan siswa.
i. Program bimbingan karier disekolah hendaknya diintegrasikan secara fungsional dengan program pendidikan pada umumnya dan program bimbingan dan konseling pada khususnya.
j. Program bimbingan karier di sekolah hendaknya berpusat di kelas dengan koordinasi oleh pembimbing, disertai partisipasi orang tua dan kontribusi masyarakat.
Prinsip bimbingan karier diatas pelaksanaannya di SD belum tampak jelas, ini terbukti masih banyak siswa yang belum memahami hubungan antar pendidikan dengan karier.
2.1.2 Bimbingan Karier di SMP
Bimbingan karier dalam penelitian ini adalah bimbingan karier yang dilaksanakan di SMP. Berikut ini akan diuraikan tentang:
1. Dasar Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMP
Berdasarkan pasal 25 Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990 menegaskan bahwa pelaksanaan kurikulum Pendidikan Dasar 1994, didukung dengan suatu sistem layanan bimbingan yang meliputi empat bidang bimbingan, yakni bimbingan pribadi, belajar, bimbingan sosial dan bimbingan karier.
Herl and Creanlmer (1979:140) menyatakan bahwa bimbingan karier di Sekolah Dasar di dasari oleh berbagai faktor antara lain:
a. Kesadaran bahwa model-model atau bentuk tingkah laku pada masa remaja dan dewasa dipengaruhi oleh pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak.
b. Bukti menunjukan bahwa materi atau buku teks yang digunakan SMP tidak menggambarkan secara seksama tentang dunia kerja atau dunia pendidikan di masa mendatang, dan tidak mendorong atau pandangan jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin atau pandangan yang terbatas mengenai kemungkinan-kenungkinan pendidikan atau pekerjaan yang ada.
c. Pengakuan bahwa perasaan mampu seseorang akan tumbuh dimasa-masa mendatang dengan pengetahuan akan kekuatan seseorang, cara memodifikasi kelemahan, keahlian dalam merencanakan dan menggunakan sumberdaya yang ada, memahami hubungan antara pendidikan di sekolah dan penerapannya dalam dunia kerja dan peran-peran kemasyarakatan.
Bimbingan karier perlu diberikan sejak awal, sebelum anak memasuki dunia kerja, keyakinan bertolak dari pandangan bahwa persiapan anak untuk memasuki dunia kerja tidak dapat dilaksanakan dalam tempo yang singkat, melainkan memerlukan perencanaan yag matang dan memerlukan waktu yang cukup lama pengetahuan masa yang akan datang dan pengembangan dasar pembuatan keputusan oleh anak, dipandang amat penting diberikan ditingkat dasar. Model bimbingan terakhir mendorong perlunya kegiatan-kegiatan dan informasi yang sistematis dilaksanakan melalui kurikulum SMP mengingatkan sebelumnya materi dalam kurilulum SMP tidak menggambarkan secara seksama tentang dunia kerja (Erman Amti dan Marjohan, 1992:167).
Bimbingan karier di SMP berpusat pada usaha agar anak memiliki kesadaran tentang pilihan-pilihan karier yang tersedia, cara-cara mengantisipasi adalah merencanakan karier serta menghubungkannya dengan sifat-sifat pribadi yang dimilikinya. Banyak murid yang perlu mengetahui kesempatan karier yang tersedia, murid juga perlu untuk menyadari dirinya sendiri, bagaiman ia dapat berubah dan bagaimana juga ia dapat menggunakan pengalaman-pengalaman sekolah-sekolah untuk menjajaki dan menyiapkan diri untuk maa depannya. (Erman Amti dan Marjohan, 19925L197).
Dasar pelaksanaan Bimbingan karier di SMP adalah peraturan Pemerintah nomor : 28 tahun 1990 dan kurikulum Pendidikan dasar tahun 1994, selain itu juga faktor kesadaran bahwa model atau bentuk tingkah laku pada masa remaja dan dewasa dipengaruhi pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak.
2. Tujuan Bimbingan Karier di SMP
Tujuan bimbingan karier di SMP, menurut Erman Amti (1992:171) adalah sebagai berikut:
a. Membantu siswa mengembangkan konsep diri
Aspek penting di dalam penelitian karier adalah timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Sambil mengembangkan konsep diri yang dicita-citakan, yaitu suatu gambar masa depan, membayangkan apa yang diinginkan setelah ia besar nanti.
b. Merangsang murid untuk menyenangi berbagai jenis pekerjaan
Akhir-akhir ini ada gejala bahwa orang-orang muda hanya menyukai bidang pekerjaan tertentu saja dan meremehkan pekerjaan rendah dan tidak memerlukan keahlian, sehingga banyak orang muda yang lebih suka menganggur daripada bekerja di kebun atau di sawah.
c. Mengembangkan sikap yang konstruktif terhadap kerja
Melalui pendidikan di sekolah murid memperoleh persepsi tentang hubungan antara pendidikan dengan pekerjaan dan mengembangkan kebiasaan belajar yang baik untuk perkembangan kebiasaan kerja yang mereka peroleh.
d. Membantu murid menyadari peubahan-perubahan dunia kerja
Perkembangan IPTEK banyak menimbulkan dampak yang mendasar dalam bidang dunia kerja di indonesia. Disamping munculnya berbagai jenis lapangan pekerjaan baru, juga lenyapnya beberapa lapangan kerja kerja tertentu. Perubahan ini bagi para orang muda khususnya murid SMP perlu bimbingan agar dapat menyadari perubahan-perubahan itu.
Jadi tujuan bimbingan karier diSMP dalam penelitian ini adalah membantu siswa mengembangkan konsep diri, pengetahuan tentang dunia kerja, individu dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai, lingkungan, pendidikan, perencanan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
3. Program Bimbingan Karier
Bimbingan karier di SMP merupakan proses yang berkesinambungan. Hal itu berarti bimbingan karier tidak dilaksanakan hanya pada jenjang sekolah atau kelas tertentu saja melainkan semua jenjang sekolah, atau kelas tertentu saja melainkan semua jenjang sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi (Erman Amti, 1992:17 telah mengembangkan sebuah model pendidikan yang komprehensif (MPKK) dengan pola seperti dibawah ini:
PENDIDIKAN LANJUTAN DAN PENDIDIKAN DASAR
Orang Dewasa
Pendidikan gelar Pendidikan non gelar
Persiapan karier
Penjagaan
Kesadaran Karier
Bagan I
ARTIKULASI BIMBINGAN KARIER
(Erman Amti dan Marjohan. 1992:172)
Selanjutnya masing-masing tujuan diatas mencakup unsur
bimbingan kareier, seperti tertera di bagian bawah ini:
TK SD SLTP SLTA
KESADARAN PENJAGAAN PERSIAPAN
KESADARAN DIRI IDENTITAS DIRI
KEHIDUPAN
KESADARAN DIRI IDENTITAS PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
KESADARAN EKONOMI IDENTITAS EKONOMI
RUMAH TANGGA
PEMBUATAN KEPUTUSAN KEPUTUSAN KARIER
MASYARAKAT DAN
KEMAMPUAN AWAL KETERAMPILAN KERJA
KANTOR
KETERAMPILAN PEKERJAAN PENEMPATAN KARIER
SIKAP DAN PENGHAYATAN PEMENUHAN DIRI
Bagan II
UNSUR-UNSUR BIMBINGAN KARIER
(Erman Amti dan Marjohan. 1992:173)
Unsur-unsur bimbingan karier pada bagian atas menunjukan bahwa bimbingan di SMP tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan karier anak SMP. Miller dalam (Erman Amti, 1992:172) menjelaskan unsur-unsur Bimbingan karier sebagai berikut:
a. Kesadaran Diri
Murid diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan sikap diri sendiri, bagaimana keadaan dirinya, dan mereka inginkan, menjadi orang yang bagaimana. Melalui bimbingan karier, murid diharapkan berperan serta dalam proses pemahaman diri yang terencana dan berkesinambungan. Selanjutnya, murid diharapkan dapat mengenali diri yaitu mengetahui siapa dirinya dan bagaimana keadaan dirinya.
b. Kesadaran Pendidikan
Murid diharapkan memiliki kesadaran hubungan antara pendidikan dan latihan tugas-tugas kehidupan. Dari kesadaran pendidikan murid akan terus mengembangkan dan menyaring pemahaman tentang pendidikan dan latihan khususnya yang diperlukan bagi karier tertentu.
c. Kesadaran Karier
Individu yang telah memasuki sekolah diharapkan memiliki pengetahuan sikap dan minat dalam karier. Dalam hal ini termasuk pengetahuan tentang untuk kerja karier, kondisi karier, imbalan jasa dan pendidikan yang diisyaratkan. Melalui bimbingan karier sekolah dapat membantu murid dalam memahami jenis karier yang dikembangkan kelak.
d. Kesadaran Ekonomi
Kesadaran ini banyak sedikitnya terkait dengan keterlibatan murid dalam sistem ekonomi.
e. Pembuatan Keputusan
Murid hendaknya memiliki pemahaman dan keterampilan dalam membuat keputusan. Apabila murid dapat memahami hubungan sebab akibat, maka murid akan siap untuk memulai proses pembuatan keputusan serta tanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya. Keputusan karier diartikan sebagai penentuan arah karier pembuatan rencana jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
f. Kesadaran Keterampilan dan Kemampuan Dasar
Murid diharapkan memiliki kesadaran tentang keterampilan dan kemampuan dasar yang dimiliki. Kesadaran tentang kesadaran dan kemampuan dasar ini selanjutnya perlu dikembangkan dengan jalan menyediakan kesempatan bagi murid untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka untuk mengembangkan keterampilan kerja.
g. Kesadaran sikap dan Penghayatan
Sikap dan penghayatan ini merupakan bagian dan alat untuk pemusatan perhatian pada komponen efektif dari karier.
h. Keterampilan Kerja
Keterampilan ini mencakup upaya untuk mencari, menemukan dan mendapatkan penemuan karier.
Program bimbingan karier yang dilaksanakan di SMP merupakan usaha pendidikan untuk menumbuhkan dan membimbing kesadaran karier di SMP membentu pengembangan dan pengarahan peserta didik yang sudah ada.
4. Cara Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMP
Bimbingan karier di SMP dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan bimbingan baik kelompok maupun individual baik secara khusus maupun terpadu, antara lain:
a. Memperoleh dan memahami informasi karier melalui
1) Interaksi dengan berbagai pihak seperti guru bimbingan, orang tua, kawan dan pejabat
2) Informasi dari pembimbing dalam berbagai kesempatan kegiatan bimbingan.
3) Mempelajari bahan-bahan cetakan atau media massa yang berkaitan dengan karier.
b. Latihan-latihan keterampilan melalui stimulant, bermain peran, kerja kelompok
c. Mempelajari dan mengerjakan paket karier.
(Kanwil Depdikbud, Propinsi Jateng, Proyek Peningkatan Sekolah Guru 1994:4)
Dalam penelitian ini penulis melaksanakan bimbingan karier dengan cara memadukan kedalam kurikulum melalui latihan-latihan keterampilan khususnya bermain peran, dengan alasan guru pembimbing atau konselor di SMP ada secara khusus sehingga menuntut guru kelas berperan ganda. Di satu sisi sebagai tenaga pengajar, di sisi lain sebagai tenaga pembimbing. Dengan kondisi tersebut pelaksanaan bimbingan karier di SMP bisa lebih efektif apabila dipadukan ke dalam kurikulum yang memuat bahan pelajaran biasa sekaligus memuat bahan bimbingan karier. Memadukan bimbingan ke dalam kurikulum melalui bermain peran, informasi karier yang diterima peserta didik lebih jelas, dan peeserta didik dapat mengembangkan karier yang ada pada dirinya seperti tentang cita-cita atau gaya hidup, bakat atau potensinya, sikap, pendidikannya dan lain sebagainya.
2.2 Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama
2.2.1 Metode Bermain Peran
1. Pengertian
Metode adalah cara atau teknik yang digunakan mengelola Proses Belajar Mengajar sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Roestiyah N.K. 1998:91)
Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi daya ekspresi dan penghayatan siswa. Kegiatan memerankan seseorang atau sesuatu akan membuat siswa mudah memahami dan maenghayati hal-hal yang dipelajari (Petunjuk pelaksanaan KBM, 1995:71).
Metode bermain peran yang dimaksudkan dalam penelitian-penelitian ini adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi, daya ekspresi dan penghayatan siswa. Dengan kegiatan memerankan aakan memudahkan siswa dalm mengenal, memahami dan menghayati hal-hal yang dipelajari.
2. Jenis Metode Bermain Peran
Jenis metode bermain peran terdiri dari 2 (dua ) Macam yakni: Psycodrama dan sosiodrama. Psikodrama adalah jenis bermain peran yang mengidentifikasi psikis, sedngkan sosiodrama adalah jenis bermain peran yangmengidentifikasi masalah soial.
TL Moreno memperkenalkan teknik bermain peran di Psycodramatic Institute, New York, terdiri dari dua teknik yang berusaha membantu peserta mengalihkan problem belajar yang tertulis kedalam praktik yakni suatu permasalahan berupa psikodrama dan sosiodrama (Ketut Sukardi 1984:542)
3. Fungsi Metode Bermain Peran
Pada dasarnya metode bermain peran berfungsi untuk mengadaptasikan maksudnya melalui bermain peran siswa dapat mengidetifikasikan masalah, memahami masalah mencari jalan keluar pemecahannya sehingga terjadi perubahan pada diri siswa melalui tokoh yang diperankan (Edy Hendrarno, Supriyo, 1983:90). Adapun fungsi metode bermain peran berdasarkan jenisnya dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Fungsi metode bermain peran jenis sosiodrama adalah membantu siswa mengidentifikasikan masalah sosial, mamahami masalah dan mencari jalan keluar pemecahannya.
b) Metode bermain peran jenis psikodrama fungsi dalah membantu siswa mengidentifikasikan masalah psikis memahami masalah dan mencari jalan penecagahannya. (Edy Hendrarno, Supriyo, Sugiyo. 1983:89)
Berdasarkan jenis dan fungsi metode bermain peran dalam penelitian ini penulis menggunakan metode bermain peran dengan jenis sosiodrama, dengan alasan metode sosiodrama lebih menekankan masalah sosial yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan atau relasinya dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi, 1984:549). Selain itu metode bermain melalui sosiodrama sangat relevan untuk menyampaikan informasi tentang karier atau dunia kerja kepada siswa, juga sangan cocok dengan usia anak SMP ayang cenderung menyenangi permainan sehingga membantu memudahkan siswa dalam menerima informasi karier yang diberikan guru.
2.2.2 Sosiodrama
1. Pengertian
W.S Winkel (1988:565) mengemukakan …Salah satu problem yang kerap dihadapi oleh siswa dalam pergaulan sehari-hari diperankan atau dimainkan oleh beberapa siswa dengan tujuan bersama-sama mencari penyelesaian“.
Sosiodrama adalah dramatisasi tanpa skrip, tanpa terlebih dahulu menghafal sesuatu, intinya adalah masalah sosial yang bertalian dengan hubungan antar manusia (Petunjuk Pelaksanaan KBM SMP, 1996:74).
Adapun pengertian sosiodrama dalam pengertian ini adalah suatu cara yang memberikan kesempatan siswa untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang telah dilakukan dalam relasi sosial.
2. Fungsi Metode Sosiodrama
Fungsi sosiodrama adalah untuk menyesuaikan dan mengadaptasikan maksudnya siswa mengidentifikasikan masalah sosial, memahami dan mencari jalan keluar pemecahannya (Edy Hendrarno, Supriyo, Sugiyo. 1983:90)
Dengan sosiodrama siswa bias mengidentifikasi masalah-masalah sosial, memahami masalah sosial dan mencari jalan pemecahannya melalui dramatisasi tokoh yang diperankan.
3. Tujuan Metode yang Diperankan
Tujuan dari kegiatan sosiodrama adalah mengembangkan pemahaman tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan masalah ataui konflik dalam pergaulan manusia (WS. Winkel, 1981:545).
Secara rinci tujuan dari penggunaan sosiodrama adalah:
a. Menggambarkan atau melukiskan bagaimana seseorang menghadapi suatu situasi sosial tertentu serta bagaimana mereka memecahkan masalah sosial tersebut.
b. Menumbuhkan atau mengembangkan serta memperkaya sikap rasional dan kritis terhadap sikap yang harus atau tidak diambil dalam situasi tertentu.
c. Menambah serta memperkaya pengalaman peserta didik untuk menghayati sesuatu yang dipikirkan, dirasakan atau diinginkan dalam situasi tertentu (Dewa Ketut Sukardi, 1984:545).
Kegiatan sosiodrama adalah merupakan suatu dramatisasi dari konflik-konflik yag biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan maupun relasinya dengan masyarakat maka dalam penelitian ini tujuan kegiatan sosiodrama adalah mengembangkan pemahaman siswa tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan konflik-konflik dalam pergaulan anatara manusia.
Berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan, dalam pelaksanan sosiodrama seseorang pembimbing harus membri kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendramatisasikan peristiwa tanpa banyak komentar.
4. Cara pelaksanaan Sosiodrama
Keterlibatan pembimbing dan peserta mewarnai kegiatan sosiodrama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sosiodrama, antara lain:
a. Kelas itu harus menaruh perhatian atas permasalahan yang dikemukakan.
b. Para pelajar harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai pokok persoalan yang dihadapi.
c. Sosiodrama ini harus dipandang sebagai alat pelajaran untuk memahami suatu situasi sosial, bukan sebagai permainan semata.
Dalam pelaksanan sosiodrama pembimbing harus senantiasa aktif memotivasi siswa agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yakni: siswa dapat mengembangkan pemahaman tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan konflik-konflik dalam pergaulan antar manusia.
2.3 Efektifitas Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama Dalam Pelaksanaan Bimbingan Karier Di SMP
Bimbingan karier di SMP bertujuan agar siswa mengenal diri. Lingkungan sehingga dalam diri siswa timbul kesadaran pilihan-pilihan kariernya dimasa depan.
Reinhart(1979:160) menyatakan bahwa bimbingan karier di SMP sering digambarkan sebagai pengembangan kesadaran. Gysper 1968 (dalam Erman Amti. 1992:168) membagi perkembangan karier di Sekolah Menengah atas menjadi tiga fase yakni (1) fase perseptualisasi, (2) fase Konseptualisasi, (3) fase generalis. Hill(1973:67) Menyatukan bahwa bimbingan karier baik diberikan mulai awal yakni pada fase perseptualisasi, hal ini disebabkan setiap anak membutuhkan pencapaian kematangan dalam hal: pemahaman diri dan tanggung jawab, pemahaman dunia kerja, kemampuan membuat keputusan, pemahaman hubungan manusia.
Fase perseptualisasi berfokus pada proses diperlukannya seseorang untuk mendapatkan kesadaran tentang diri dan lingkungan serta dapat membedakan keduanya. Fase perseptualisai merupakan fase yang mendasar dan penentu bagi perkembangan selanjutnya yang berada pada usia SMP, yakni usia sekitar 12 sampai 15 tahun. Pada usia ini anak berada pada tahap masa kanak-kanak dan ada tiga ciri yang menonjol pada masa ini, yakni; mempunyai dorongan yang besar untuk berhubungan dengan orang lain, dunia sekitar dan menyenangi permainan. Karakter perkembangan anak dapat dijadikan guru untuk memeberikan bimbingan karier dengan menggunakan metode yang tepat yakni metode bermain peran melaui sosiodrama.
Metode bermain peran melalui sosiodrama kegiatannya merupakan suatu dramatisasi dari konflik yang biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, jabatan maupun relasinya dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi; 1984:545). Jadi metode bermain peran melalui sosiodrama memberi kesempatan siswa mendramatisasi sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang telah dilakukan dalam relasi sosial sehingga siswa dapat mengembangkan konsep diri, pengetahuan tentang dunia kerja, lingkungan pendidikan, pekerjaan perencanaan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
Teori Gestall oleh Maxwertheimer (Tim MKDK IKIP Semarang, 1996:56), menyatakan “bahwa belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan yakni dari yang bersifat konkrit sampai yang bersifat abstrak”. Begitu juga dengan kegiatan bermain peran melalui sosiodrama siswa belajar secara langsung yang bersifat kongkrit sehingga mudah memahaminya. Hal ini menunjukan metode bermain peran efektif untuk melaksanakan bimbingan karier di SMP.
Peran-peran yang dimainkan dalam sosiodrama dapat membimbing siswa mengembangkan dan mengalahkan karier yang sudah ada pada diri siswa sebelumnya. Dengan pemahaman karier yang diperoleh akan menimbulkan kesadaran pada diri siswa akan pilihan-pilihan karier dimasa depan.
Dengan demikian metode bermain peran melalui sosiodrama memegang peranan penting dalam pelaksanaan bimbingan karier di SMP. Selain mudah dilaksanakan, relevan dengan usia anak SMP yang menyenangi permainan sehingga metode bermain peran dinilai efektif untuk pemberian bimbingan karier di SMP.
Dengan demikian metode bermain peran melalui sosiodrama memegang peranan penting dalam pelaksanan bimbingan karier di SMP. Selain mudah dilaksanakan, relevansi dengan usia anak SMP yang menyenangi permainan sehingga metode bermain peran dinilai efektif untuk pemberian bimbingan di SMP.
2.4 Hipotesa Tindakan
Dengan demikian dapat diduga bahwa:
Bimbingan karier dengan metode bermain peran melalui sosiodrama dapat meningkatkan kesadaran karier siswa SMP Negeri 1 Jombang.
BAB III
RENCANA PENELITIAN
3.1. Perencanaan Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi bimbingan. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama untuk peneliti dan decision maker tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.
Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain. Catatan, siswa, wawancara, angket yakni merupakan instrument yang berdasarkan inventori siswa dengan asumsi antara lain:
1) Siswa menganggap jawaban yang dipilih paling benar
2) Apabila diberi pertanyaan (untuk mengisi angket) siswa akan memberikan jawaban apa adanya.
3) Bila menggunakan angket terbuka hasilnya sangat dipengaruhi oleh subyektifitas peneliti.
Prosedur penelitian ini terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, melakukan tindakan, observasi dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.
Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat mengikuti sosiodrama dengan pendekatan Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah) untuk melihat perubahan tingkah laku, untuk mengetahu tingkat kemajuan yang akan berpengaruh terhadap kesadaran karier dengan alat pengumpul data yang sudah disebutkan diatas.
Data yamg diambil adalah data kuantatif dari hasil test, presensi, nilai, tugas serta kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa antusiassiswa, partisipasi dan kerja sama dalam melakukan bermain drama dalam sosiodrama.
Instrumen yang dipakai berbentuk: soal tes, observasi, catatan lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang pada siswa kelas IX, dengan jumlah siswa 30 orang, penelitian dilaksanakan pada saat bimbingan karier berlangsung dengan pokok bahasan “Seseorang siswa berperan sebagai guru”.
3. Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan selama empat bulan dimulai pada pertengahan bulan Agustus sampai dengan pertengahan bulan Desember 2006
.
4. Prosedur Penelitian
Siklus I
A. Perencanaan
• Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
• Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar
• Menentukan skenario bimbingan dan pendekatan kontekstual dan Bimbingan berbasis masalah (PBL).
• Mempersiapkan sumber, bahan dan alat Bantu yang dibutuhkan.
• Menyusun lembar kerja siswa
• Mengembangkan format evaluasi
• Mengembangkan format observasi bimbingan.
B. Tindakan
• Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario bimbingan.
• Siswa membaca pada materi yang terdapat pada buku sumber.
• Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber.
• Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi bimbingan.
• Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan konselor.
• Masing-masing kelompok memberikan tanggapan.
• Siswa mengerjakan angket yang diberikan.
C. Pengamatan
• Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan untuk mengumpulkan data.
• Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
D. Refleksi
• Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
• Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario bimbingan karier dan lembar kerja siswa.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II
A. Perencanaan
• Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
• Menentukan indikator pencapaian hasil bimbingan
• Pengembangan program tindakan II.
B. Tindakan
Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain melalui:
1) Pembimbing melakukan apresiasi
2) Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan.
3) Siswa menghayati peran tokoh yang diperankan sesuai dengan materi.
4) Siswa bertanya jawab tentang gambar/foto.
5) Siswa menceritakan unsur-unsur hak asasi yang diperankan.
6) Siswa mengumpulakan bacaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi yang dilaporkan.
C. Pengamatan (Observasi)
• Melakukan observasi sesuai dengan format yamg sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
• Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.
D. Refleksi
• Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
• Membahas hasil evaluasi tentang skenario permainan pada siklus II.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus II.
• Evaluasi tindakan siklus II.
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I.
3.2. Pola Eksperimen
Adapun prosedur yang dilakukan dalam desain one group pretest-postest adalah sebagai berikut.
1. Memilih unit eksperimen secara non random
2. Memberi pre-test kelompok eksperimen untuk mengukur mean pengetahuan karier sebelum subyek diberi perlakuan dengan metode bermain peran melalui sosiodrama.
3. Memberi perlakuan pada subyek, yaitu metode bermain peran melalui sisiodrama dalam jangka wwaktu tertentu dengan materi bimbingan karier.
4. memberi post-test untuk mengukur mean pengetahuan karier setelah subyek diberi perlakuan (metode bermain peran melalui sosiodrama).
5. menghitung perbedaan (pretest dan postest) dan membandingkan perbedaan tersebut secara statistik, (Sumadi Suryasubrata. 1983:45-46).
Prosedurnya dapat digambarkan sebagai berikut
Pengukuran Pelakuan Pengukuran
(Pre-test) - (Post-test)
To X TI
Keterangan::
To = Pretest kelompok eksperimen sebelum perlakuan diberikan
X = Perlakuan yang diberikan
TI = Postest kelompok eksperimen setelah perlakuan diberikan.
Ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. adapun variabel bebas adalah gejala yang disengaja, dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode bermain peran melalui sosiaodrama (X) sedangkan kesadaran karier siswa SMP merupakan variabel terikat (Y).
Hubungan antara kedua kelompok variabel ini terdapat dalam diri subyek. peneliti seringkali sebagai proses. sebagai bagan saling berhubungan dapat disajikan sebagai berikut:
VARIABEL KOMPONEN INDIKATOR No. Item Jml
A. Kesadaran diri 1. Menyadari keadaan diri
2. Menyadari potensi
3. Memeiliki cita-cita
4. Memiliki sikap 1,2,3
4,5,6,7,8
9,10,11
12,13
B. Kesadaran Pendidikan 1. Mengetahui jenis sekolah lanjutan
2. Mengetahui syarat masuk sekolah lanjutan
3. Mengetahui jenis lembaga pendidikan diluar sekolah 14,15
16
17 5
5
3
2
C. Kesadaran ekonomi 1. Keadaan ekonomi keluarga
2. Latihan tugas kehidupan
3. Mengatasi hambatan ekonomi keluarga 18,19
20,21
22,23,24 2
1
1
D. Kesadaran Karier 1. Mengetahui jenis pekerjaan
2. Mengetahui jenis pendidikan yang diisyaratkan
3. Mengetahui imbalan jasa
4. Mengetahui jenis pekerjaan yang akan dikembangkan 25
26,27
28,29
30,31,32 1
2
3
2
E. Pembuatan keputusan 1. Melakukan kegiatan perencanaan masa depan
2. Mengembangkan keterampilan
3. Menetapkan cita-cita 33,34
26
36,37 2
1
2
F. Kesadaran keterampilan dan kemampuan dasar 1. Penggunaan waktu senggang
2. Magang/latihan keterampilan 38,39
40 2
1
G. Kesadaran sikap dan penghayatan 1. Percaya diri
2. terbuka
3. Belajar teratur 41,42
43,44
45,46 2
2
2
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kegiatan yang akan dilaporkan dalam bab ini meliputi empat kegiatan yaitu: (1) Kegiatan persiapan penelitian, (2) Pelaksanaan penelitian, (3) tindakan penelitian, (4) Analisa data, (5) interprestasi data, dan (6) pembahasan hasil penelitian.
4.1 Siklus I
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 V I6 14 30
Dari hasil perhitungan reabilitas soal tes diuji cobakan diperoleh ru sebesar 2,924, sedangkan ru table dengan taraf signifikan 5% dengan N= 20adalah 0,444. karena ru hitung ru table, maka dapat disimpulakan bahwa soal tes uji coba tersebut reabel. perhitungan selengkapnya pada lampiran 11 hal 77.
4.2 Pelaksanaan Penelitian
Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan dan angket yang telah diuji cobakan, peneliti segera melaksanakan pengambilan data penelitian dengan prosedur pengambilan data yakni masuk kelas yang menjadi sample penelitian.
1. Prosedur Pelaksanaan
Berdasarkan penelitian ini, prosedur pelaksanaan yang peneliti lakukan dalam rangka eksperimen di SMP Negeri 1 Jombang adalah sebagai berikut:
a. Menentukan grup eksperimen sebanyak 30 siswa
b. Dengan teknik random sampling cara undian
c. memberi pretest kelompok eksperimen
d. Memberi perlakuan pada kelompok eksperimen dengan metode bermain peran melalui sosiodrama dengan materi bimbingan karir.
e. Memberi post-test pada kelompok eksperimen
f. Menghitung perbedaan mean (post-test dan pre-test) kelompok eksperimen dan membendingkan perbedaan tersebut secara statistika
2. Waktu Pemberian Perlakuan (treatment)
Kegiatan bermain peran dengan materi bimbingan karir dilaksanakan satu minggu dua kali pertemuan. yakni hari Selasa dan Sabtu menggunakan jam muatan local daerah dengan alas an tidak mengganggu jadwal mata pelajaran pokok.
Adapun rancangan perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut:
a. Peneliti memberi penjelasan tentang, pengertian dan tujuan bermain melalui sosiodrama dengan tema kesadaran diri, kesadaran pendidikan, kesadaran ekonomi dan kesadaran karier.
b. Setelah menjelaskan masing-masing tema kemudian peneliti membentuk kelompok
c. Kelompok yang sudah terbentuk diberi tema sesuai dengan tujuan penelitian.
d. Membagi peran sesuai dengan tokoh yang diperagakan siswa dalam kelompoknya
e. Mempelajari naskah yang akan diperagakan.
f. Setelah sesuai dengan tokoh yang diperankan, maka mulai untuk mendramatisasikan didepan kelas.
g. dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, peneliti dibantu guru pembimbing di SMP mengamati, mengevaluasi dan menilai.
h. Setelah kegiatan selesai siswa diminta mengungkapkan tentang tokoh yang ia perankan.
Perlakuan yang diberikan melalui kegiatan bermain peran dilakukan secara berulang-ulang dengan tema bergantian selama lima bulan yang dilaksanakan 1 (satu) minggu 2 (dua) kali.
4.3 Penyajian data
Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang tahun pelajaran 2007-2008. setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga hipotesa yang telah dikemukakan diatas teruji kebenarannya.
data dari eksperimen (angket) yang diberikan pada kelompok eksperimen bertujuan untuk memperoleh data tentang efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang.
Setelah diberi pre-test kemudian diberi treatment (metode bermain peran melalui sosiodrama) sesuai dengan maksud penelitian. Dalam jangka waktu tertentu kemudian diberikan post test dengan jumlah pertayan 30 butir soal. Setelah selesai melakukan pre test dilanjutkan dengan memberikan nilai dengan diberi nominal yang telah ditentukan. Dari penelitian tersebut didapatkan nilai-nilai setiap individu.
4.4 Analisa Data
Dari data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik statistik dengan rumus t-test dan post-test group design dengan rumus sebagai berikut:
(Suharsimi Arikunto, 1996:295-297)
Keterangan:
Md : Mean dari perbedaan pre-test dan post-test
Xd : Deviasi masing-masing subyek (d-Md)
Σx² d : Jumlah kuadrat deviasi
N : Subyek pada sampel
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan uji t dengan design pre-test dan post-test one group adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan Pre-test
Pre-test dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2002, diberikan pada siswa yang menjadi sampel penelitian dengan item 30 butir soal. Setelah pre-test diberikan kemudian peneliti menghitung skor dan nilai hasil pre-test (tabel VI hal 60). Setelah pre-test diberikan kemudian peneliti mulai memberikan perlakuan dengan metode bermain peran melalui sosiaodrama dengan tujuan untuk mengungkapkan kesadaran karier siswa.
2. Setelah memberikan treatment dengan metode bermain peran melalui soiodrama dalam jangka waktu tertentu (Tanggal September 2006 s.d 11 Desember 2006), dan menghitung skor dari nilai post test.
3. Setelah menghitung hasil pre-test dan post-test peneliti kemudian mencari deviasi antara pre-test dan skor post-test.
4. Deviasi sntara score pre-test dan score test kemudian dikuadratkan dan dihitung jumlahnya.
5. Jumlah deviasi antara score pre-test dengan score post test dibagi jumlah sampel untuk mencari hasil mean deviasi.
6. Menentukan batas penolakan
Tolakan Ho, diterima Ha, jika t-hitung ≥ t-tabel
Terima Ho, tolak Ha, jika t-hitung ≤ t-tabel
7. Berdasarkan hasil kerja menghitung nilai t atau melaksanakan uji-t.
8. Setelah diperoleh harga t hitung kemudian dikonsultasikan dengan nilai t pada tabel, apabila t hitung ≥ t-tabel maka hasil signifikan.
9. Berdasarkan pengujian kemudian menarik kesimpulan antara lain:
Apabila t-hitung ≥ t-tabel hasil penelitian, yakni ada perbedaan secara signifikan antara hasil pre-test dan hasil post-test pada siswa yang diberi perlakuan dengan metode bermain peran melaui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Jombang.
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test Score X²
1. 91 7,58
2. 46 6,33
3. 85 7,08
4. 103 8,58
5. 98 8,17
6. 97 8,08
7. 101 8,42
8. 86 7,17
9. 95 7,92
10. 105 8,75
11. 116 9,67
12. 111 9,25
13. 82 6,83
14. 78 6,50
15. 77 6,42
16. 86 7,17
17. 83 6,93
18. 104 8,67
19. 90 7,50
20. 93 7,75
21. 71 5,92
22. 89 7,42
23. 99 8,25
24. 73 6,08
25. 99 8,25
26. 93 7,75
27. 91 7,58
28. 84 7,00
29. 95 7,92
30. 102 8,50
2753 229,44
TABEL 3
DATA PRE TEST
No. Pre Test Score X²
1. 91 7,58
2. 46 6,33
3. 85 7,08
4. 103 8,58
5. 98 8,17
6. 97 8,08
7. 101 8,42
8. 86 7,17
9. 95 7,92
10. 105 8,75
11. 116 9,67
12. 111 9,25
13. 82 6,83
14. 78 6,50
15. 77 6,42
16. 86 7,17
17. 83 6,93
18. 104 8,67
19. 90 7,50
20. 93 7,75
21. 71 5,92
22. 89 7,42
23. 99 8,25
24. 73 6,08
25. 99 8,25
26. 93 7,75
27. 91 7,58
28. 84 7,00
29. 95 7,92
30. 102 8,50
2753 229
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test
Score X¹
(Nilai) Pre Test
Score X
(Nilai)
1. 84 7,00 91 7,58
2. 82 6,83 76 6,33
3. 77 6,42 85 7,08
4. 89 7,42 103 8,58
5. 80 8,87 98 8,17
6. 95 7,92 97 8,08
7. 91 7,58 101 8,42
8. 86 7,17 86 7,17
9. 104 8,67 95 7,92
10. 98 8,17 105 8,75
11. 80 6,67 116 9,67
12. 103 8,58 111 9,25
13. 74 6,11 82 6,83
14. 80 6,87 78 6,50
15. 97 7,83 77 6,42
16. 78 6,33 86 7,17
17. 87 7,25 83 6,93
18. 91 7,58 104 E,67
19. 66 5,50 90 7,50
20. 80 6,87 93 7,75
21. 70 5,83 71 5,92
22. 80 6,67 89 7,42
23. 78 6,50 99 8,25
24. 58 4,83 73 6,08
25. 46 3,83 99 8,25
26. 71 5,92 93 7,75
27. 70 5,83 91 7,58
28. 74 6,17 84 7,00
29. 58 4,83 95 7,92
30. 90 7,50 102 8,50
2412 201.01 2753 229,44
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test
Score Pre Test Score Gain (d) post
Test-pre test
XD (d-Md)
XD²
1. 84 91 7 4, 37 19,10
2. 82 46 8 17, 37 301,72
3. 77 85 8 3, 37 11,36
4. 89 103 14 2,63 6,92
5. 80 98 18 8,63 43,96
6. 95 97 2 9, 37 87,80
7. 91 101 10 1, 37 1,88
8. 86 86 0 11, 37 129,28
9. 104 95 9 20, 37 414,94
10. 98 105 7 4, 37 19,10
11. 80 116 38 24,63 606,64
12. 103 111 8 3, 37 11,38
13. 74 82 8 3, 37 11,38
14. 80 78 2 13, 37 178,76
15. 97 77 17 28, 37 804,88
16. 78 86 10 1, 37 1,88
17. 87 83 4 15, 37 236,24
18. 91 104 13 1, 37 2,66
19. 66 90 24 12,83 159,52
20. 80 93 13 1,83 2,68
21. 70 71 1 10,83 107,54
22. 80 89 9 2,37 5,82
23. 78 99 21 9,63 92,74
24. 58 73 15 3,63 13,18
25. 46 99 53 41,63 1733,06
26. 71 93 22 10,63 113,00
27. 70 91 21 9,83 92,74
28. 74 84 10 1,37 1,88
29. 58 95 37 25,83 858,90
30. 90 102 12 0,83 0,40
2412 2753 341 5868,97
4.5 Pembahasan Hasil Tindakan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh ternyata anatara siswa yang diberi perlakuan dan siswa yang tidak diberi perlakuan terlihat perbedaannya. Dari diagram design one group pre test post test sebagai berikut:
PENGUKURAN PERLAKUAN PENGUKURAN
PRE TEST KLSASASASAHSASSPOST TES
KELOMPOK EKSPERIMEN 6,7 X 7,65
Keterangan:
6.7 : Mean pre test
X : Perlakuan yang diberikan
7.65 : Mean post test
Kelompok eksperimen
Eksperimen adalah observasi dibawah kondsisi buatan, dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur peneliti, demikian pula yang dilakukan di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang, karena kelompok eksperimen telah diberi perlakuan sesuai dengan tujuan penelitian maka hasil post-test lebih besar daripada pre-test. Penilaian perilaku jelas jelas berbeda dari sebelum diberi perlakuan menunjukan hasil 6.7 dan setelah diberi perlakuan menunjukan hasil 7.65, dengan demikian ada perbedaan kesadaran karier siswa sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi perlakuan dengan bermain peran melalui sosiodrama terhadap meningkatkan kesadaran karier.
Dapat dikemukakan disini bahwa perlakuan diberikan selama 4 bulan mulai bulan November 2007sampai dengan bulan Desember 2008, siswa diberi perlakuan dengan metode barmain peran melalui sosiodrama tentang bimbingan karier, sehingga siswa benar-benar memiliki kesadaran ayang dapat peneliti ketahui dari hasil pengamatan berupa:
a. Antusias siswa dalam kegiatan sosiodrama
b. Penghayatan, sosiodrama
Dengan berhasilnya eksperimen tersebut merupakan bukti bahwa metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier dalam rangka mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa.
Keberhasilan metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier dalam rangka mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa SMP Negeri 1 Jombang ini sesuai dengan landasan teori yang ada, antara lain:
a. Anak SMP berusia sekitar 12-15 tahun berada pada tahap masa anak-anak yang mempunyai tiga ciri yang menonjol, antara lain: mempunyai dorongan yang besar untuk berhubungan dengan orang lain, dunia sekitar dan pertumbuhan fisik membuat anak cenderung menyenangi permainan (Elizebeth H. Hurlock, 1993:107-108). Karakter perkembangan dimana anak cenderung menyenangi permainan dapat dijadikan metode yang tepat untuk mengungkapkan kasadaran karier siswa., dengan metode bermain peran melaui sosiodrama.
b. Memainkan peran dalam suatu drama dapat dipakai sebagai alat bimbingan berupa psikodrama dan sosiodrama (Edy Hendrarno, Sugiyo, Supriyo. 1983:83).
c. Metode bermain peran melalui sosiodrama kegiatnnya merupakan suastu dramatisasi dari konflik yang biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan maupun hubungannya dengan karier dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi. 1994:545)
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa metode bermain peran melaui sosiodrama membantu siswa mengembangkan gambaran tentang dirinya serta perannya dalam dunia kerja. Hasil teresebut membuktikan bahwa metaode bermain peran melalui sosiodrama dapat menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran siswa. Hal ini sesuai dengan ladasan teori perkembangan yang dikemukakan oleh Donald E. Super “Bahwa bimbingan karier adalah suatu proses yang membantu menumbuhkan pribadi, mengembangkan gambaran diri serta peranannya dalam dunia”.
Berdasarkan hasil penelitian dan didukung dengan teori diatas membuktikan bahwa metode bermain peran melaui sosiodrama merupakan suatu alat bimbingan yang dapat mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa SD. Dengan demikian menunjukan bahwa metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier di SMP.
BAB V
P E N U T U P
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata tujuan yang ingin mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan hasil pre-test dengan post-test pada kelompok yang diberi perlakuan pada siswa SMP Negeri 1 Jombang Tahun Pelajaran 2007/2008 telah tercapai.
Perbedaan tersebut dapat dibuktikan setelah memperoleh hasil pengolahan data pre-test dan post-test didapatkan t-hitung ≥ t-tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan secara signifikan hasil pre-test dan post-test metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang.
Disamping itu membuktikan bahwa metode peran melalui sosiodrama dapat digunakan untuk mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran siswa SMP Negeri 1 Jombang. Dengan melihat hasil tersebut hipotesa nihil ditolak dan hipotesa penelitian diterima. Jadi ada perbedaan secara signifikan hasil pre-test dan post-test pada siswa yang diberi perlakuan, sehingga membuktikan bahwa karier dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang tahun pelajaran 2007/2008.
5.2 Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya penulis ingin memberi saran yang dapat membantu usaha peningkatan pelaksanaan bimbingan karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang, antara lain:
1. Menghimbau sekolah, khususnya guru kelas dengan berdasarkan hasil penelitian yang menyarankan agar dalam kegiatan bimbingan karier di SMP salah satu diantaranya menggunakan metode bermain peran melalui sosiodrama.
2. Sekolah dalam kegiatan pelaksanaan bimbingan karier hendaknya memberikan fasilitas yang memadai untuk keperluan pelaksanaan metode bermain peran melalui sosiodrama.
3. Kepada pihak yang berwenang membuat keputusan, penyusun menyarankan agar hasil penelitian ini menjadi informasi Bimbingan Karier.
4. Sehubungan di SMP ini sudah memiliki guru BK dan mengingat pentingnya pemberian Bimbingan karier sejak dini, peneliti berharap Bimbingan Karier dapat disisipkan pada mata pelajaran tertentu yang materinya berkaitan dengan bimbingan karier.
DAFTAR PUSTAKA
Amirin, 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta. Grafindo Persada
Amti, Erman. Marjohan 1992. Bimbingan dan Konseling. Jakarta Depdikbud
B. Harlock, Elisabeth. 1993 Psikologi Perkembangan. Jakarta Erlangga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1986. Kurikulum Pedoman Bimbingan. Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 1985. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Dikdasmen.
Hadi, Sutrisno. 1978. Metodologi Research Jilid 1 dan 3. Yogyakarta Andi Offset
____________, 1983, Statistik 2. Yogyakarta Andi Offset
Hatari, PM. 1984. Bimbingan Karier. Yogyakarta. Menara Mas Offset.
Hendrarno, Edi, Supriyo, Sugiyo. 1983. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang. Sinar Putra
Manrihu Mohammad Thayeb 1988 Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier Jakarta Bumi Aksara
Munandir. 1996. Program Bimbingan Karier di Sekolah, Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktur Jendral Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Pendidikan Akademik
Nasir, Moh. 1975 Metode Penelitian, Jakarta Ghalia.
Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1989. Tentang Pendidikan Dasar dan Menengah
Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Di SMP 1996 Dirjen Dikdasmen
Proyek Peningkatan Sekolah Guru 1992 Jawa Tengah Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rastiah, NK. 1988. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta Menara Offset
Singarimbun, Masri. 1981 Metode Penelitian Survey. LPES Jakarta.
Suharsimi, Arikunto. 1996 Prosedur Penelitian. Jakarta Rhineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Bimbingan Karier di Sekolah-sekolah. Denpasar Ghalia
Surya, Moh. 1990 Bimbingan Karier Di Sekolah Bandung FIP IKIP.
Suryabrata, Sumadi. 1992. Metedeologi Penelitian. Yogyakarta Erlangga
Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Belajar. IKIP Semarang.
Winkel, W.S, 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta Gramedia Widia Sarana
______________, 1991. Bimbingan Karier di Instituusi Pendidikan. Jakarta Gramedia Widia Sarana
TAHAP-TAHAP SOSIODRAMA
1. Tahap Pembentukan Kelompok. Subyek berkelompok sesuai dengan kelompok.
2. Peneliti memberikan arahan dalam pembagian peran.
3. Peneliti mengarahkan siswa tentang tokoh yang diperankan sesuai dengan perannya masing-masing.
4. Subyek (siswa) bermain peran sesuai dengan perannya dan berdialog sesuai dengan naskah, sedang peneliti mengamati kegiatan.
5. Tema kesadaran ekonomi. Evaluator sedang mengamati jalannya kegiatan seorang anak yang meminta ibunya supaya diperbolehkan melanjutkan sekolah.
6. Tema kesadaran karier. Seorang siswa sebagai guru dan sorang evaluator sedang mengevaluasi.
7. Siswa bermain peran dengan tema kesadaran diri, cita-cita dimasa depan dalam dialognya.
8. Peneliti meminta subyek (siswa) mengulangi dialoq dari tokoh yang diperankan.
9. Tema kesadaran karier. Seorang pembimbing sedang mengevaluasi kegiatan seorang siswa berperan sebagai perawat dan beberapa siswa yang berperan sebagai pasien dan ada yang berkonsultasi.
10. Tema kesadaran karier tentang kelemahan dan kelabihan yang dimiliki, evaluator mengevaluasi tema tersebut.
11. Tema kesadaran diri tenytang kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, evaluator mengevaluasi tema tersebut.
12. Tema kesadaran karier. Seorang siswa berperan sebagai guru.
13. Subjek bermain peran dengan tema kesadaran pendidikan tentang sikap terbuka untuk mendapat nilai yang baik. Kegiatan tersebut dinilai seorang sevaluator.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bimbingan karier merupakan salah satu bimbingan yang dilaksanakan di SMP dengan tujuan mengupayakan timbulnya kesadaran pada diri siswa akan pilihan karirnya di masa depan. Bimbingan karier di SMP dalam rangka merencanakan masa depan yaitu membantu siswa memikirkan dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke SMA dan kariernya dimasa depan. Bimbingan karier juga merupakan suatu proses membantu siswa SMP dalam mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta peranannya di dunia kerja. Untuk itu bimbingan karier dalam rangka merencanakan masa depan siswa dilaksanakan di SMP.
Bimbingan karier di SMP umumnya diintegritaskan dalam mata pelajaran tertentu, selain itu metode dan cara pengajaran yang digunakan oleh guru sama dengan pelajaran yang lain, contohnya mata pelajaran bahasa Indonesia tentang kosa kata yaitu kata umum bidang perdagangan. Pelajaran ini mengandung unsur bimbingan karier namun tidak diuraikan secara jelas dan tuntas. Bimbingan karier yang diterima siswa bersifat informative.
Bimbingan karier di SMP dilakukan oleh guru BK namun hal ini tidak samata-mata, karena secara tidak disadari guru kelas juga ikut melakukannya. Guru kelas memiliki peran ganda sebagai tenaga pengajar dan tenaga pembimbing (konselor) karena keterbatasan tenaga pembimbing di Sekolah Dasar setingkat SMP. Hal ini menyebabkan pelaksanaan bimbingan karier kurang efektif. Bimbingan karier akan lebih efektif jika dilakukan oleh ahli yang berlatar belakang pendidikan dalam bidang bimbingan.
Menyadari keadaan yang demikian perlu dilaksanakan bimbingan karier yang menekankan kegiatan-kegiatan dan informasi yang sistematis tentang dunia kerja dan alternatif pendidikan dimasa datang. Informasi tentang karier perlu dikomunikasikan secara seksama kepada siswa.
Informasi tentang dunia kerja dan pendidikan dimasa depan terutama berkaitan dengan sikap atau tingkah laku tidak selalu dapat di informasikan secara lisan (Ketut S: 1994: 548). Untuk itulah dengan teknik bermain peran melalui sosiodrama siswa dapat melakukan sesuatu kegiatan dengan memeragakan dan menvisualisasikan tentang pekerjaan yang ada di lingkungannya. Metode bermain peran melalui sosiodrama diharapkan membantu siswa memperoleh kesadaran akan pilihan kariernya di masa depan.
Metode bermain peran melalui sosiodrama diharapkan sangat membantu siswa memperoleh kesadaran akan pilihan kariernya di masa depan sesuai dengan usia anak sekolah dasar (tingkat SMP). Namun demikian metode tersebut belum diketahui keefektifannya dengan alasan tersebut penulis melakukan penelitian untuk mengetahui keefektifan metode bermain peran melalui sosiodrama dalam rangka meningkatkan kesadaran karier di SMP. Adapun judul penelitian adalah “Efektivitas Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama Dalam Meningkatkan Kesadaran Karier Siswa di SMP Negeri 1 Jombang Tahun Pelajaran 2007/2008”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas maka permasalahan dalam penelitian adalah: “Bagaimana efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam rangka meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang”.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan keras ini adalah meningkatkan efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi atau sebagai salah satu bahan pemikiran untuk menunjang dan pengembangan teori bimbingan karier khususnya bimbingan karier di sekolah.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat praktis, antara lain:
a. Bagi guru sebagai bahan masukan dalam memberikan bimbingan karier dengan metode perkembangan anak didiknya
b. Bagi kepala sekolah sebagai salah satu bahan pertimbangan atau guru-guru dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan bimbingan karier di Sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Bimbingan Karier
2.1.1 Bimbingan Karier di Sekolah
1. Latar Belakang Pelaksanaan Bimbingan Karier di Sekolah.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinytakan bahwa tujuan Pendidikan Dasar yang dijabarkan dalam kurikulum Pendidikan dasar 2004, diharapkan mampu menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki bekal kemampuan dasar dalam mewujudkan kualitas kehidupan yang layak serta mampu mengembangkannya. Berdasarkan pasal 25 peraturan Pemerintah nomor 218 Tahun 1990, juga menegaskan suatu sistem layanan bimbingan yang meliputi empat bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, bimbingn belajar, bimbingan sosial dan bimbingan karier.
Perkembangan Pembangunan Nasional menyiratkan adanya tuntutan kebutuhan yang makin besar akan sumber daya manusia yang lebih terampil. Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia ini, siswa sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi perlu dipersiapkan untuk kehidupan dunia kerja melalui pengenalan, pemahaman, perencanaan dan pengambilan keputusan tentang karier (Munandir, 1996:9). Bimbingan karier disekolah untuk membantu siswa mencari sekolah sesuai pilihan kariernya dan membantu orang muda menentukan pilihan kariernya.
Pengenalan, pemahaman dan pengambilan keputusan tentang karier bagi siswa sekolah perlu diberikan sejak dini dengan tujuan agar siswa nantinya dapat mnyesuaikan keadaan dirinya dengan tuntutan pekerjaan, terlebih dengan pertumbuhan penduduk. Keadaan tersebut, banyak menimbulkan masalah pada siswa pada khususnya dan orang muda pada umumnya. Siswa susah mencari sekolah lanjutan studi untuk segala jenjang pendidikan dan orang muda susah mendapat pekerjaan yang susah diharapkan. Dalam kondisi persaingan untuk memperebutkan bangku sekolah dan lowongan pekerjaan tidak jarang orang muda mengalami kekecewaan, antara lain siswa menjalani pekerjaan yang bukan bidangnya karena hanya pekerjaan itu yang ada. Sehingga orang muda bekerja dengan terpaksa, tidak sesuai bakat dan kemampuannya.
Untuk membantu siswa mencari sekolah sesuai pilihan kariernya dan membantu orang muda menentukan pilihan kariernya, maka layanan bimbingan karier disekolah diharapkan membantu orang muda memperoleh pemahaman atas kenyataan dunia kerja dan menerima potensi-potensinya dalam rangka menuju terbentuknya pribadi yang berfungsi penuh baik fisik maupun pikirannya. Bimbingan karier juga diharapkan membantu siswa menyusun rencana pendidikan, rencana karier dan mengambil keputusan tentang kariernya dimasa depan.
2. Penelitian Bimbingan Karier
“Bimbingan karier adalah kegiatan layanan bantuan kepada siswa dengan tujuan agar mereka memperoleh pemahaman dunia kerja dan akhirnya mereka mampu menentukan pilihan kerja dan menyusun perencanaan karier”. (Munandir, 1996:71)
“Bimbingan karier adalah salah satu usaha membantu siswa agar memperoleh pemahaman diri, lingkungan dan dapat mengarahkan diri dan keutuhan masyarakat” (PM. Hattari, 1984:1)
M. Thayeb Manribu (1988:15) mengemukakan bahwa:
“Bimbingan karier adalah suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang sistematik, proses-proses, teknik-teknik atau layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan dan waktu luang, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan keputusan sehinggga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan kariernya…”
Donald E.Super Mengemukakan bahwa bimbingan karier adalah suatu proses untuk membantu pribadi mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta perannya dalam dunia kerja (Ketut Sukardi, 1984:22)
Menurut Vocational Guidance Association bahwa bimbingan karier adalah pemberian bantuan layanan penerangan, pengalaman dan nasehat dalam memilih, mempersiapkan, memasuki dan memperoleh kemajuan pekerjaan (Ketut Sukardi, 1984:22)
Berdasarkan uraian diatas, bimbingan karier dalam penelitian ini adalah suatu proses atau program layanan yang sistematik, dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan kesempatan-kesempatan pekerjaan. Pendidikan dan waktu luang, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan membuat mengelola perkembangan kariernya.
3. Tujuan Bimbingan Akhir
a. Tujuan Umum
Secara umum tujuan bimbingan karier di sekolah adalah membantu siswa dalam pemahaman diri dan lingkungannya dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan pengarahan kegiatan yang tertuju kepada karier dan cara hidup yang akan memberi rasa keputusan karena sesuai, serasi dan seimbang dengan diri dan lingkungannya. (Ketut Sukardi, 1984:31-32).
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang menjadi sasaran bimbingan karier disekolah adalah:
1) Meningkatkan pengetahuan siswa tentang dirinya sendiri.
2) Siswa dapat meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja.
3) Siswa dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai-nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan lapangan kerja serta dalam persiapan memasukinya, mengembangkan nilai positif terhadap diri sendiri dan dapat dikembangkan oleh anak didik dengan cara memahami potensinya, dapat menerima kenyataan tentang diri sendiri, berani mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja.
4) Bimbingan karier dilaksanakan disekolah bertujuan agar siswa mampu meningkatkan keterampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja.
5) Siswa dapat menguasai keterampilan dasar yang penting dalam pekerjaan terutama kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berprakarsa (D. Ketut Sukardi, 183:32-34).
Jadi tujuan bimbingan dalam penelitian adalah agar siswa atau individu memiliki pengetahuan tentang dirinya, pengetahuan tentang dunia kerja, individu dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai, lingkungan pendidikan, pekerjaan, perencanaan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
4. Prinsip-prinsip Bimbingan Karier di Sekolah
Bimbingan karier di sekolah dapat berfungsi dengan baik sesuai tujuan yang ditetapkan maka, prinsip-prinsip tentang bimbingan karier perlu diperhatikan oleh pembimbing khususnya dan administrator pada umumnya terutama dalam penyusunan program pelaksanaan layanan bimbingan karier disekolah.
Ketut Sukardi (1984:31-35) mengemukakan secara umum prinsip bimbingan karier di sekolah adalah:
a. Seluruh siswa hendaknya mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya dalam pencapaian kariernya secara tepat.
b. Setiap siswa hendaknya memahami bahwa karier ini adalah sebagai suatu jalan hidup, dan pendidikan adalah sebagai persiapan untuk hidup.
c. Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadai terhadap diri sendiri dan kaitannya dengan perkembangan sosial pribadi dan perencanaan pendidikan karier.
d. Siswa perlu diberikan pemahaman tentang dimana dan mengapa mereka suatu alur pendidikan.
e. Siswa secara keseluruhan hendaknya dibantu untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan antara pendidikan dan karier.
f. Siswa pada setiap tahap program pendidikan hendaknya memiliki pengalaman yang berorientasi pada karier secara berarti dan realistik.
g. Setiap siswa hendaknya memilih kesempatan untuk menguji konsep, berbagai peranan dan keterampilannya guna mengembangkan nilai-nilai.
h. Program bimbingan karier hendaknya memiliki tujuan untuk merangsang perkembangan pendidikan siswa.
i. Program bimbingan karier disekolah hendaknya diintegrasikan secara fungsional dengan program pendidikan pada umumnya dan program bimbingan dan konseling pada khususnya.
j. Program bimbingan karier di sekolah hendaknya berpusat di kelas dengan koordinasi oleh pembimbing, disertai partisipasi orang tua dan kontribusi masyarakat.
Prinsip bimbingan karier diatas pelaksanaannya di SD belum tampak jelas, ini terbukti masih banyak siswa yang belum memahami hubungan antar pendidikan dengan karier.
2.1.2 Bimbingan Karier di SMP
Bimbingan karier dalam penelitian ini adalah bimbingan karier yang dilaksanakan di SMP. Berikut ini akan diuraikan tentang:
1. Dasar Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMP
Berdasarkan pasal 25 Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 1990 menegaskan bahwa pelaksanaan kurikulum Pendidikan Dasar 1994, didukung dengan suatu sistem layanan bimbingan yang meliputi empat bidang bimbingan, yakni bimbingan pribadi, belajar, bimbingan sosial dan bimbingan karier.
Herl and Creanlmer (1979:140) menyatakan bahwa bimbingan karier di Sekolah Dasar di dasari oleh berbagai faktor antara lain:
a. Kesadaran bahwa model-model atau bentuk tingkah laku pada masa remaja dan dewasa dipengaruhi oleh pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak.
b. Bukti menunjukan bahwa materi atau buku teks yang digunakan SMP tidak menggambarkan secara seksama tentang dunia kerja atau dunia pendidikan di masa mendatang, dan tidak mendorong atau pandangan jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin atau pandangan yang terbatas mengenai kemungkinan-kenungkinan pendidikan atau pekerjaan yang ada.
c. Pengakuan bahwa perasaan mampu seseorang akan tumbuh dimasa-masa mendatang dengan pengetahuan akan kekuatan seseorang, cara memodifikasi kelemahan, keahlian dalam merencanakan dan menggunakan sumberdaya yang ada, memahami hubungan antara pendidikan di sekolah dan penerapannya dalam dunia kerja dan peran-peran kemasyarakatan.
Bimbingan karier perlu diberikan sejak awal, sebelum anak memasuki dunia kerja, keyakinan bertolak dari pandangan bahwa persiapan anak untuk memasuki dunia kerja tidak dapat dilaksanakan dalam tempo yang singkat, melainkan memerlukan perencanaan yag matang dan memerlukan waktu yang cukup lama pengetahuan masa yang akan datang dan pengembangan dasar pembuatan keputusan oleh anak, dipandang amat penting diberikan ditingkat dasar. Model bimbingan terakhir mendorong perlunya kegiatan-kegiatan dan informasi yang sistematis dilaksanakan melalui kurikulum SMP mengingatkan sebelumnya materi dalam kurilulum SMP tidak menggambarkan secara seksama tentang dunia kerja (Erman Amti dan Marjohan, 1992:167).
Bimbingan karier di SMP berpusat pada usaha agar anak memiliki kesadaran tentang pilihan-pilihan karier yang tersedia, cara-cara mengantisipasi adalah merencanakan karier serta menghubungkannya dengan sifat-sifat pribadi yang dimilikinya. Banyak murid yang perlu mengetahui kesempatan karier yang tersedia, murid juga perlu untuk menyadari dirinya sendiri, bagaiman ia dapat berubah dan bagaimana juga ia dapat menggunakan pengalaman-pengalaman sekolah-sekolah untuk menjajaki dan menyiapkan diri untuk maa depannya. (Erman Amti dan Marjohan, 19925L197).
Dasar pelaksanaan Bimbingan karier di SMP adalah peraturan Pemerintah nomor : 28 tahun 1990 dan kurikulum Pendidikan dasar tahun 1994, selain itu juga faktor kesadaran bahwa model atau bentuk tingkah laku pada masa remaja dan dewasa dipengaruhi pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak.
2. Tujuan Bimbingan Karier di SMP
Tujuan bimbingan karier di SMP, menurut Erman Amti (1992:171) adalah sebagai berikut:
a. Membantu siswa mengembangkan konsep diri
Aspek penting di dalam penelitian karier adalah timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Sambil mengembangkan konsep diri yang dicita-citakan, yaitu suatu gambar masa depan, membayangkan apa yang diinginkan setelah ia besar nanti.
b. Merangsang murid untuk menyenangi berbagai jenis pekerjaan
Akhir-akhir ini ada gejala bahwa orang-orang muda hanya menyukai bidang pekerjaan tertentu saja dan meremehkan pekerjaan rendah dan tidak memerlukan keahlian, sehingga banyak orang muda yang lebih suka menganggur daripada bekerja di kebun atau di sawah.
c. Mengembangkan sikap yang konstruktif terhadap kerja
Melalui pendidikan di sekolah murid memperoleh persepsi tentang hubungan antara pendidikan dengan pekerjaan dan mengembangkan kebiasaan belajar yang baik untuk perkembangan kebiasaan kerja yang mereka peroleh.
d. Membantu murid menyadari peubahan-perubahan dunia kerja
Perkembangan IPTEK banyak menimbulkan dampak yang mendasar dalam bidang dunia kerja di indonesia. Disamping munculnya berbagai jenis lapangan pekerjaan baru, juga lenyapnya beberapa lapangan kerja kerja tertentu. Perubahan ini bagi para orang muda khususnya murid SMP perlu bimbingan agar dapat menyadari perubahan-perubahan itu.
Jadi tujuan bimbingan karier diSMP dalam penelitian ini adalah membantu siswa mengembangkan konsep diri, pengetahuan tentang dunia kerja, individu dapat meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai, lingkungan, pendidikan, perencanan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
3. Program Bimbingan Karier
Bimbingan karier di SMP merupakan proses yang berkesinambungan. Hal itu berarti bimbingan karier tidak dilaksanakan hanya pada jenjang sekolah atau kelas tertentu saja melainkan semua jenjang sekolah, atau kelas tertentu saja melainkan semua jenjang sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi (Erman Amti, 1992:17 telah mengembangkan sebuah model pendidikan yang komprehensif (MPKK) dengan pola seperti dibawah ini:
PENDIDIKAN LANJUTAN DAN PENDIDIKAN DASAR
Orang Dewasa
Pendidikan gelar Pendidikan non gelar
Persiapan karier
Penjagaan
Kesadaran Karier
Bagan I
ARTIKULASI BIMBINGAN KARIER
(Erman Amti dan Marjohan. 1992:172)
Selanjutnya masing-masing tujuan diatas mencakup unsur
bimbingan kareier, seperti tertera di bagian bawah ini:
TK SD SLTP SLTA
KESADARAN PENJAGAAN PERSIAPAN
KESADARAN DIRI IDENTITAS DIRI
KEHIDUPAN
KESADARAN DIRI IDENTITAS PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
KESADARAN EKONOMI IDENTITAS EKONOMI
RUMAH TANGGA
PEMBUATAN KEPUTUSAN KEPUTUSAN KARIER
MASYARAKAT DAN
KEMAMPUAN AWAL KETERAMPILAN KERJA
KANTOR
KETERAMPILAN PEKERJAAN PENEMPATAN KARIER
SIKAP DAN PENGHAYATAN PEMENUHAN DIRI
Bagan II
UNSUR-UNSUR BIMBINGAN KARIER
(Erman Amti dan Marjohan. 1992:173)
Unsur-unsur bimbingan karier pada bagian atas menunjukan bahwa bimbingan di SMP tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan karier anak SMP. Miller dalam (Erman Amti, 1992:172) menjelaskan unsur-unsur Bimbingan karier sebagai berikut:
a. Kesadaran Diri
Murid diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan sikap diri sendiri, bagaimana keadaan dirinya, dan mereka inginkan, menjadi orang yang bagaimana. Melalui bimbingan karier, murid diharapkan berperan serta dalam proses pemahaman diri yang terencana dan berkesinambungan. Selanjutnya, murid diharapkan dapat mengenali diri yaitu mengetahui siapa dirinya dan bagaimana keadaan dirinya.
b. Kesadaran Pendidikan
Murid diharapkan memiliki kesadaran hubungan antara pendidikan dan latihan tugas-tugas kehidupan. Dari kesadaran pendidikan murid akan terus mengembangkan dan menyaring pemahaman tentang pendidikan dan latihan khususnya yang diperlukan bagi karier tertentu.
c. Kesadaran Karier
Individu yang telah memasuki sekolah diharapkan memiliki pengetahuan sikap dan minat dalam karier. Dalam hal ini termasuk pengetahuan tentang untuk kerja karier, kondisi karier, imbalan jasa dan pendidikan yang diisyaratkan. Melalui bimbingan karier sekolah dapat membantu murid dalam memahami jenis karier yang dikembangkan kelak.
d. Kesadaran Ekonomi
Kesadaran ini banyak sedikitnya terkait dengan keterlibatan murid dalam sistem ekonomi.
e. Pembuatan Keputusan
Murid hendaknya memiliki pemahaman dan keterampilan dalam membuat keputusan. Apabila murid dapat memahami hubungan sebab akibat, maka murid akan siap untuk memulai proses pembuatan keputusan serta tanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya. Keputusan karier diartikan sebagai penentuan arah karier pembuatan rencana jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
f. Kesadaran Keterampilan dan Kemampuan Dasar
Murid diharapkan memiliki kesadaran tentang keterampilan dan kemampuan dasar yang dimiliki. Kesadaran tentang kesadaran dan kemampuan dasar ini selanjutnya perlu dikembangkan dengan jalan menyediakan kesempatan bagi murid untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka untuk mengembangkan keterampilan kerja.
g. Kesadaran sikap dan Penghayatan
Sikap dan penghayatan ini merupakan bagian dan alat untuk pemusatan perhatian pada komponen efektif dari karier.
h. Keterampilan Kerja
Keterampilan ini mencakup upaya untuk mencari, menemukan dan mendapatkan penemuan karier.
Program bimbingan karier yang dilaksanakan di SMP merupakan usaha pendidikan untuk menumbuhkan dan membimbing kesadaran karier di SMP membentu pengembangan dan pengarahan peserta didik yang sudah ada.
4. Cara Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMP
Bimbingan karier di SMP dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan bimbingan baik kelompok maupun individual baik secara khusus maupun terpadu, antara lain:
a. Memperoleh dan memahami informasi karier melalui
1) Interaksi dengan berbagai pihak seperti guru bimbingan, orang tua, kawan dan pejabat
2) Informasi dari pembimbing dalam berbagai kesempatan kegiatan bimbingan.
3) Mempelajari bahan-bahan cetakan atau media massa yang berkaitan dengan karier.
b. Latihan-latihan keterampilan melalui stimulant, bermain peran, kerja kelompok
c. Mempelajari dan mengerjakan paket karier.
(Kanwil Depdikbud, Propinsi Jateng, Proyek Peningkatan Sekolah Guru 1994:4)
Dalam penelitian ini penulis melaksanakan bimbingan karier dengan cara memadukan kedalam kurikulum melalui latihan-latihan keterampilan khususnya bermain peran, dengan alasan guru pembimbing atau konselor di SMP ada secara khusus sehingga menuntut guru kelas berperan ganda. Di satu sisi sebagai tenaga pengajar, di sisi lain sebagai tenaga pembimbing. Dengan kondisi tersebut pelaksanaan bimbingan karier di SMP bisa lebih efektif apabila dipadukan ke dalam kurikulum yang memuat bahan pelajaran biasa sekaligus memuat bahan bimbingan karier. Memadukan bimbingan ke dalam kurikulum melalui bermain peran, informasi karier yang diterima peserta didik lebih jelas, dan peeserta didik dapat mengembangkan karier yang ada pada dirinya seperti tentang cita-cita atau gaya hidup, bakat atau potensinya, sikap, pendidikannya dan lain sebagainya.
2.2 Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama
2.2.1 Metode Bermain Peran
1. Pengertian
Metode adalah cara atau teknik yang digunakan mengelola Proses Belajar Mengajar sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Roestiyah N.K. 1998:91)
Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi daya ekspresi dan penghayatan siswa. Kegiatan memerankan seseorang atau sesuatu akan membuat siswa mudah memahami dan maenghayati hal-hal yang dipelajari (Petunjuk pelaksanaan KBM, 1995:71).
Metode bermain peran yang dimaksudkan dalam penelitian-penelitian ini adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi, daya ekspresi dan penghayatan siswa. Dengan kegiatan memerankan aakan memudahkan siswa dalm mengenal, memahami dan menghayati hal-hal yang dipelajari.
2. Jenis Metode Bermain Peran
Jenis metode bermain peran terdiri dari 2 (dua ) Macam yakni: Psycodrama dan sosiodrama. Psikodrama adalah jenis bermain peran yang mengidentifikasi psikis, sedngkan sosiodrama adalah jenis bermain peran yangmengidentifikasi masalah soial.
TL Moreno memperkenalkan teknik bermain peran di Psycodramatic Institute, New York, terdiri dari dua teknik yang berusaha membantu peserta mengalihkan problem belajar yang tertulis kedalam praktik yakni suatu permasalahan berupa psikodrama dan sosiodrama (Ketut Sukardi 1984:542)
3. Fungsi Metode Bermain Peran
Pada dasarnya metode bermain peran berfungsi untuk mengadaptasikan maksudnya melalui bermain peran siswa dapat mengidetifikasikan masalah, memahami masalah mencari jalan keluar pemecahannya sehingga terjadi perubahan pada diri siswa melalui tokoh yang diperankan (Edy Hendrarno, Supriyo, 1983:90). Adapun fungsi metode bermain peran berdasarkan jenisnya dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Fungsi metode bermain peran jenis sosiodrama adalah membantu siswa mengidentifikasikan masalah sosial, mamahami masalah dan mencari jalan keluar pemecahannya.
b) Metode bermain peran jenis psikodrama fungsi dalah membantu siswa mengidentifikasikan masalah psikis memahami masalah dan mencari jalan penecagahannya. (Edy Hendrarno, Supriyo, Sugiyo. 1983:89)
Berdasarkan jenis dan fungsi metode bermain peran dalam penelitian ini penulis menggunakan metode bermain peran dengan jenis sosiodrama, dengan alasan metode sosiodrama lebih menekankan masalah sosial yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan atau relasinya dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi, 1984:549). Selain itu metode bermain melalui sosiodrama sangat relevan untuk menyampaikan informasi tentang karier atau dunia kerja kepada siswa, juga sangan cocok dengan usia anak SMP ayang cenderung menyenangi permainan sehingga membantu memudahkan siswa dalam menerima informasi karier yang diberikan guru.
2.2.2 Sosiodrama
1. Pengertian
W.S Winkel (1988:565) mengemukakan …Salah satu problem yang kerap dihadapi oleh siswa dalam pergaulan sehari-hari diperankan atau dimainkan oleh beberapa siswa dengan tujuan bersama-sama mencari penyelesaian“.
Sosiodrama adalah dramatisasi tanpa skrip, tanpa terlebih dahulu menghafal sesuatu, intinya adalah masalah sosial yang bertalian dengan hubungan antar manusia (Petunjuk Pelaksanaan KBM SMP, 1996:74).
Adapun pengertian sosiodrama dalam pengertian ini adalah suatu cara yang memberikan kesempatan siswa untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang telah dilakukan dalam relasi sosial.
2. Fungsi Metode Sosiodrama
Fungsi sosiodrama adalah untuk menyesuaikan dan mengadaptasikan maksudnya siswa mengidentifikasikan masalah sosial, memahami dan mencari jalan keluar pemecahannya (Edy Hendrarno, Supriyo, Sugiyo. 1983:90)
Dengan sosiodrama siswa bias mengidentifikasi masalah-masalah sosial, memahami masalah sosial dan mencari jalan pemecahannya melalui dramatisasi tokoh yang diperankan.
3. Tujuan Metode yang Diperankan
Tujuan dari kegiatan sosiodrama adalah mengembangkan pemahaman tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan masalah ataui konflik dalam pergaulan manusia (WS. Winkel, 1981:545).
Secara rinci tujuan dari penggunaan sosiodrama adalah:
a. Menggambarkan atau melukiskan bagaimana seseorang menghadapi suatu situasi sosial tertentu serta bagaimana mereka memecahkan masalah sosial tersebut.
b. Menumbuhkan atau mengembangkan serta memperkaya sikap rasional dan kritis terhadap sikap yang harus atau tidak diambil dalam situasi tertentu.
c. Menambah serta memperkaya pengalaman peserta didik untuk menghayati sesuatu yang dipikirkan, dirasakan atau diinginkan dalam situasi tertentu (Dewa Ketut Sukardi, 1984:545).
Kegiatan sosiodrama adalah merupakan suatu dramatisasi dari konflik-konflik yag biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan maupun relasinya dengan masyarakat maka dalam penelitian ini tujuan kegiatan sosiodrama adalah mengembangkan pemahaman siswa tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan konflik-konflik dalam pergaulan anatara manusia.
Berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan, dalam pelaksanan sosiodrama seseorang pembimbing harus membri kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendramatisasikan peristiwa tanpa banyak komentar.
4. Cara pelaksanaan Sosiodrama
Keterlibatan pembimbing dan peserta mewarnai kegiatan sosiodrama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sosiodrama, antara lain:
a. Kelas itu harus menaruh perhatian atas permasalahan yang dikemukakan.
b. Para pelajar harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai pokok persoalan yang dihadapi.
c. Sosiodrama ini harus dipandang sebagai alat pelajaran untuk memahami suatu situasi sosial, bukan sebagai permainan semata.
Dalam pelaksanan sosiodrama pembimbing harus senantiasa aktif memotivasi siswa agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yakni: siswa dapat mengembangkan pemahaman tentang sebab-sebab atau faktor yang menimbulkan konflik-konflik dalam pergaulan antar manusia.
2.3 Efektifitas Metode Bermain Peran Melalui Sosiodrama Dalam Pelaksanaan Bimbingan Karier Di SMP
Bimbingan karier di SMP bertujuan agar siswa mengenal diri. Lingkungan sehingga dalam diri siswa timbul kesadaran pilihan-pilihan kariernya dimasa depan.
Reinhart(1979:160) menyatakan bahwa bimbingan karier di SMP sering digambarkan sebagai pengembangan kesadaran. Gysper 1968 (dalam Erman Amti. 1992:168) membagi perkembangan karier di Sekolah Menengah atas menjadi tiga fase yakni (1) fase perseptualisasi, (2) fase Konseptualisasi, (3) fase generalis. Hill(1973:67) Menyatukan bahwa bimbingan karier baik diberikan mulai awal yakni pada fase perseptualisasi, hal ini disebabkan setiap anak membutuhkan pencapaian kematangan dalam hal: pemahaman diri dan tanggung jawab, pemahaman dunia kerja, kemampuan membuat keputusan, pemahaman hubungan manusia.
Fase perseptualisasi berfokus pada proses diperlukannya seseorang untuk mendapatkan kesadaran tentang diri dan lingkungan serta dapat membedakan keduanya. Fase perseptualisai merupakan fase yang mendasar dan penentu bagi perkembangan selanjutnya yang berada pada usia SMP, yakni usia sekitar 12 sampai 15 tahun. Pada usia ini anak berada pada tahap masa kanak-kanak dan ada tiga ciri yang menonjol pada masa ini, yakni; mempunyai dorongan yang besar untuk berhubungan dengan orang lain, dunia sekitar dan menyenangi permainan. Karakter perkembangan anak dapat dijadikan guru untuk memeberikan bimbingan karier dengan menggunakan metode yang tepat yakni metode bermain peran melaui sosiodrama.
Metode bermain peran melalui sosiodrama kegiatannya merupakan suatu dramatisasi dari konflik yang biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan, jabatan maupun relasinya dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi; 1984:545). Jadi metode bermain peran melalui sosiodrama memberi kesempatan siswa mendramatisasi sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang telah dilakukan dalam relasi sosial sehingga siswa dapat mengembangkan konsep diri, pengetahuan tentang dunia kerja, lingkungan pendidikan, pekerjaan perencanaan dan pembuatan keputusan masa depan serta mampu berinteraksi dengan orang lain.
Teori Gestall oleh Maxwertheimer (Tim MKDK IKIP Semarang, 1996:56), menyatakan “bahwa belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan yakni dari yang bersifat konkrit sampai yang bersifat abstrak”. Begitu juga dengan kegiatan bermain peran melalui sosiodrama siswa belajar secara langsung yang bersifat kongkrit sehingga mudah memahaminya. Hal ini menunjukan metode bermain peran efektif untuk melaksanakan bimbingan karier di SMP.
Peran-peran yang dimainkan dalam sosiodrama dapat membimbing siswa mengembangkan dan mengalahkan karier yang sudah ada pada diri siswa sebelumnya. Dengan pemahaman karier yang diperoleh akan menimbulkan kesadaran pada diri siswa akan pilihan-pilihan karier dimasa depan.
Dengan demikian metode bermain peran melalui sosiodrama memegang peranan penting dalam pelaksanaan bimbingan karier di SMP. Selain mudah dilaksanakan, relevan dengan usia anak SMP yang menyenangi permainan sehingga metode bermain peran dinilai efektif untuk pemberian bimbingan karier di SMP.
Dengan demikian metode bermain peran melalui sosiodrama memegang peranan penting dalam pelaksanan bimbingan karier di SMP. Selain mudah dilaksanakan, relevansi dengan usia anak SMP yang menyenangi permainan sehingga metode bermain peran dinilai efektif untuk pemberian bimbingan di SMP.
2.4 Hipotesa Tindakan
Dengan demikian dapat diduga bahwa:
Bimbingan karier dengan metode bermain peran melalui sosiodrama dapat meningkatkan kesadaran karier siswa SMP Negeri 1 Jombang.
BAB III
RENCANA PENELITIAN
3.1. Perencanaan Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi bimbingan. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama untuk peneliti dan decision maker tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.
Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain. Catatan, siswa, wawancara, angket yakni merupakan instrument yang berdasarkan inventori siswa dengan asumsi antara lain:
1) Siswa menganggap jawaban yang dipilih paling benar
2) Apabila diberi pertanyaan (untuk mengisi angket) siswa akan memberikan jawaban apa adanya.
3) Bila menggunakan angket terbuka hasilnya sangat dipengaruhi oleh subyektifitas peneliti.
Prosedur penelitian ini terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, melakukan tindakan, observasi dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.
Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat mengikuti sosiodrama dengan pendekatan Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah) untuk melihat perubahan tingkah laku, untuk mengetahu tingkat kemajuan yang akan berpengaruh terhadap kesadaran karier dengan alat pengumpul data yang sudah disebutkan diatas.
Data yamg diambil adalah data kuantatif dari hasil test, presensi, nilai, tugas serta kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa antusiassiswa, partisipasi dan kerja sama dalam melakukan bermain drama dalam sosiodrama.
Instrumen yang dipakai berbentuk: soal tes, observasi, catatan lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang pada siswa kelas IX, dengan jumlah siswa 30 orang, penelitian dilaksanakan pada saat bimbingan karier berlangsung dengan pokok bahasan “Seseorang siswa berperan sebagai guru”.
3. Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan selama empat bulan dimulai pada pertengahan bulan Agustus sampai dengan pertengahan bulan Desember 2006
.
4. Prosedur Penelitian
Siklus I
A. Perencanaan
• Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
• Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar
• Menentukan skenario bimbingan dan pendekatan kontekstual dan Bimbingan berbasis masalah (PBL).
• Mempersiapkan sumber, bahan dan alat Bantu yang dibutuhkan.
• Menyusun lembar kerja siswa
• Mengembangkan format evaluasi
• Mengembangkan format observasi bimbingan.
B. Tindakan
• Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario bimbingan.
• Siswa membaca pada materi yang terdapat pada buku sumber.
• Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber.
• Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi bimbingan.
• Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan konselor.
• Masing-masing kelompok memberikan tanggapan.
• Siswa mengerjakan angket yang diberikan.
C. Pengamatan
• Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan untuk mengumpulkan data.
• Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
D. Refleksi
• Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
• Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario bimbingan karier dan lembar kerja siswa.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II
A. Perencanaan
• Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
• Menentukan indikator pencapaian hasil bimbingan
• Pengembangan program tindakan II.
B. Tindakan
Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain melalui:
1) Pembimbing melakukan apresiasi
2) Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan.
3) Siswa menghayati peran tokoh yang diperankan sesuai dengan materi.
4) Siswa bertanya jawab tentang gambar/foto.
5) Siswa menceritakan unsur-unsur hak asasi yang diperankan.
6) Siswa mengumpulakan bacaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi yang dilaporkan.
C. Pengamatan (Observasi)
• Melakukan observasi sesuai dengan format yamg sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
• Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.
D. Refleksi
• Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
• Membahas hasil evaluasi tentang skenario permainan pada siklus II.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus II.
• Evaluasi tindakan siklus II.
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I.
3.2. Pola Eksperimen
Adapun prosedur yang dilakukan dalam desain one group pretest-postest adalah sebagai berikut.
1. Memilih unit eksperimen secara non random
2. Memberi pre-test kelompok eksperimen untuk mengukur mean pengetahuan karier sebelum subyek diberi perlakuan dengan metode bermain peran melalui sosiodrama.
3. Memberi perlakuan pada subyek, yaitu metode bermain peran melalui sisiodrama dalam jangka wwaktu tertentu dengan materi bimbingan karier.
4. memberi post-test untuk mengukur mean pengetahuan karier setelah subyek diberi perlakuan (metode bermain peran melalui sosiodrama).
5. menghitung perbedaan (pretest dan postest) dan membandingkan perbedaan tersebut secara statistik, (Sumadi Suryasubrata. 1983:45-46).
Prosedurnya dapat digambarkan sebagai berikut
Pengukuran Pelakuan Pengukuran
(Pre-test) - (Post-test)
To X TI
Keterangan::
To = Pretest kelompok eksperimen sebelum perlakuan diberikan
X = Perlakuan yang diberikan
TI = Postest kelompok eksperimen setelah perlakuan diberikan.
Ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. adapun variabel bebas adalah gejala yang disengaja, dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode bermain peran melalui sosiaodrama (X) sedangkan kesadaran karier siswa SMP merupakan variabel terikat (Y).
Hubungan antara kedua kelompok variabel ini terdapat dalam diri subyek. peneliti seringkali sebagai proses. sebagai bagan saling berhubungan dapat disajikan sebagai berikut:
VARIABEL KOMPONEN INDIKATOR No. Item Jml
A. Kesadaran diri 1. Menyadari keadaan diri
2. Menyadari potensi
3. Memeiliki cita-cita
4. Memiliki sikap 1,2,3
4,5,6,7,8
9,10,11
12,13
B. Kesadaran Pendidikan 1. Mengetahui jenis sekolah lanjutan
2. Mengetahui syarat masuk sekolah lanjutan
3. Mengetahui jenis lembaga pendidikan diluar sekolah 14,15
16
17 5
5
3
2
C. Kesadaran ekonomi 1. Keadaan ekonomi keluarga
2. Latihan tugas kehidupan
3. Mengatasi hambatan ekonomi keluarga 18,19
20,21
22,23,24 2
1
1
D. Kesadaran Karier 1. Mengetahui jenis pekerjaan
2. Mengetahui jenis pendidikan yang diisyaratkan
3. Mengetahui imbalan jasa
4. Mengetahui jenis pekerjaan yang akan dikembangkan 25
26,27
28,29
30,31,32 1
2
3
2
E. Pembuatan keputusan 1. Melakukan kegiatan perencanaan masa depan
2. Mengembangkan keterampilan
3. Menetapkan cita-cita 33,34
26
36,37 2
1
2
F. Kesadaran keterampilan dan kemampuan dasar 1. Penggunaan waktu senggang
2. Magang/latihan keterampilan 38,39
40 2
1
G. Kesadaran sikap dan penghayatan 1. Percaya diri
2. terbuka
3. Belajar teratur 41,42
43,44
45,46 2
2
2
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kegiatan yang akan dilaporkan dalam bab ini meliputi empat kegiatan yaitu: (1) Kegiatan persiapan penelitian, (2) Pelaksanaan penelitian, (3) tindakan penelitian, (4) Analisa data, (5) interprestasi data, dan (6) pembahasan hasil penelitian.
4.1 Siklus I
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 V I6 14 30
Dari hasil perhitungan reabilitas soal tes diuji cobakan diperoleh ru sebesar 2,924, sedangkan ru table dengan taraf signifikan 5% dengan N= 20adalah 0,444. karena ru hitung ru table, maka dapat disimpulakan bahwa soal tes uji coba tersebut reabel. perhitungan selengkapnya pada lampiran 11 hal 77.
4.2 Pelaksanaan Penelitian
Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan dan angket yang telah diuji cobakan, peneliti segera melaksanakan pengambilan data penelitian dengan prosedur pengambilan data yakni masuk kelas yang menjadi sample penelitian.
1. Prosedur Pelaksanaan
Berdasarkan penelitian ini, prosedur pelaksanaan yang peneliti lakukan dalam rangka eksperimen di SMP Negeri 1 Jombang adalah sebagai berikut:
a. Menentukan grup eksperimen sebanyak 30 siswa
b. Dengan teknik random sampling cara undian
c. memberi pretest kelompok eksperimen
d. Memberi perlakuan pada kelompok eksperimen dengan metode bermain peran melalui sosiodrama dengan materi bimbingan karir.
e. Memberi post-test pada kelompok eksperimen
f. Menghitung perbedaan mean (post-test dan pre-test) kelompok eksperimen dan membendingkan perbedaan tersebut secara statistika
2. Waktu Pemberian Perlakuan (treatment)
Kegiatan bermain peran dengan materi bimbingan karir dilaksanakan satu minggu dua kali pertemuan. yakni hari Selasa dan Sabtu menggunakan jam muatan local daerah dengan alas an tidak mengganggu jadwal mata pelajaran pokok.
Adapun rancangan perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut:
a. Peneliti memberi penjelasan tentang, pengertian dan tujuan bermain melalui sosiodrama dengan tema kesadaran diri, kesadaran pendidikan, kesadaran ekonomi dan kesadaran karier.
b. Setelah menjelaskan masing-masing tema kemudian peneliti membentuk kelompok
c. Kelompok yang sudah terbentuk diberi tema sesuai dengan tujuan penelitian.
d. Membagi peran sesuai dengan tokoh yang diperagakan siswa dalam kelompoknya
e. Mempelajari naskah yang akan diperagakan.
f. Setelah sesuai dengan tokoh yang diperankan, maka mulai untuk mendramatisasikan didepan kelas.
g. dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, peneliti dibantu guru pembimbing di SMP mengamati, mengevaluasi dan menilai.
h. Setelah kegiatan selesai siswa diminta mengungkapkan tentang tokoh yang ia perankan.
Perlakuan yang diberikan melalui kegiatan bermain peran dilakukan secara berulang-ulang dengan tema bergantian selama lima bulan yang dilaksanakan 1 (satu) minggu 2 (dua) kali.
4.3 Penyajian data
Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang tahun pelajaran 2007-2008. setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga hipotesa yang telah dikemukakan diatas teruji kebenarannya.
data dari eksperimen (angket) yang diberikan pada kelompok eksperimen bertujuan untuk memperoleh data tentang efektifitas metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang.
Setelah diberi pre-test kemudian diberi treatment (metode bermain peran melalui sosiodrama) sesuai dengan maksud penelitian. Dalam jangka waktu tertentu kemudian diberikan post test dengan jumlah pertayan 30 butir soal. Setelah selesai melakukan pre test dilanjutkan dengan memberikan nilai dengan diberi nominal yang telah ditentukan. Dari penelitian tersebut didapatkan nilai-nilai setiap individu.
4.4 Analisa Data
Dari data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik statistik dengan rumus t-test dan post-test group design dengan rumus sebagai berikut:
(Suharsimi Arikunto, 1996:295-297)
Keterangan:
Md : Mean dari perbedaan pre-test dan post-test
Xd : Deviasi masing-masing subyek (d-Md)
Σx² d : Jumlah kuadrat deviasi
N : Subyek pada sampel
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan uji t dengan design pre-test dan post-test one group adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan Pre-test
Pre-test dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2002, diberikan pada siswa yang menjadi sampel penelitian dengan item 30 butir soal. Setelah pre-test diberikan kemudian peneliti menghitung skor dan nilai hasil pre-test (tabel VI hal 60). Setelah pre-test diberikan kemudian peneliti mulai memberikan perlakuan dengan metode bermain peran melalui sosiaodrama dengan tujuan untuk mengungkapkan kesadaran karier siswa.
2. Setelah memberikan treatment dengan metode bermain peran melalui soiodrama dalam jangka waktu tertentu (Tanggal September 2006 s.d 11 Desember 2006), dan menghitung skor dari nilai post test.
3. Setelah menghitung hasil pre-test dan post-test peneliti kemudian mencari deviasi antara pre-test dan skor post-test.
4. Deviasi sntara score pre-test dan score test kemudian dikuadratkan dan dihitung jumlahnya.
5. Jumlah deviasi antara score pre-test dengan score post test dibagi jumlah sampel untuk mencari hasil mean deviasi.
6. Menentukan batas penolakan
Tolakan Ho, diterima Ha, jika t-hitung ≥ t-tabel
Terima Ho, tolak Ha, jika t-hitung ≤ t-tabel
7. Berdasarkan hasil kerja menghitung nilai t atau melaksanakan uji-t.
8. Setelah diperoleh harga t hitung kemudian dikonsultasikan dengan nilai t pada tabel, apabila t hitung ≥ t-tabel maka hasil signifikan.
9. Berdasarkan pengujian kemudian menarik kesimpulan antara lain:
Apabila t-hitung ≥ t-tabel hasil penelitian, yakni ada perbedaan secara signifikan antara hasil pre-test dan hasil post-test pada siswa yang diberi perlakuan dengan metode bermain peran melaui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Jombang.
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test Score X²
1. 91 7,58
2. 46 6,33
3. 85 7,08
4. 103 8,58
5. 98 8,17
6. 97 8,08
7. 101 8,42
8. 86 7,17
9. 95 7,92
10. 105 8,75
11. 116 9,67
12. 111 9,25
13. 82 6,83
14. 78 6,50
15. 77 6,42
16. 86 7,17
17. 83 6,93
18. 104 8,67
19. 90 7,50
20. 93 7,75
21. 71 5,92
22. 89 7,42
23. 99 8,25
24. 73 6,08
25. 99 8,25
26. 93 7,75
27. 91 7,58
28. 84 7,00
29. 95 7,92
30. 102 8,50
2753 229,44
TABEL 3
DATA PRE TEST
No. Pre Test Score X²
1. 91 7,58
2. 46 6,33
3. 85 7,08
4. 103 8,58
5. 98 8,17
6. 97 8,08
7. 101 8,42
8. 86 7,17
9. 95 7,92
10. 105 8,75
11. 116 9,67
12. 111 9,25
13. 82 6,83
14. 78 6,50
15. 77 6,42
16. 86 7,17
17. 83 6,93
18. 104 8,67
19. 90 7,50
20. 93 7,75
21. 71 5,92
22. 89 7,42
23. 99 8,25
24. 73 6,08
25. 99 8,25
26. 93 7,75
27. 91 7,58
28. 84 7,00
29. 95 7,92
30. 102 8,50
2753 229
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test
Score X¹
(Nilai) Pre Test
Score X
(Nilai)
1. 84 7,00 91 7,58
2. 82 6,83 76 6,33
3. 77 6,42 85 7,08
4. 89 7,42 103 8,58
5. 80 8,87 98 8,17
6. 95 7,92 97 8,08
7. 91 7,58 101 8,42
8. 86 7,17 86 7,17
9. 104 8,67 95 7,92
10. 98 8,17 105 8,75
11. 80 6,67 116 9,67
12. 103 8,58 111 9,25
13. 74 6,11 82 6,83
14. 80 6,87 78 6,50
15. 97 7,83 77 6,42
16. 78 6,33 86 7,17
17. 87 7,25 83 6,93
18. 91 7,58 104 E,67
19. 66 5,50 90 7,50
20. 80 6,87 93 7,75
21. 70 5,83 71 5,92
22. 80 6,67 89 7,42
23. 78 6,50 99 8,25
24. 58 4,83 73 6,08
25. 46 3,83 99 8,25
26. 71 5,92 93 7,75
27. 70 5,83 91 7,58
28. 74 6,17 84 7,00
29. 58 4,83 95 7,92
30. 90 7,50 102 8,50
2412 201.01 2753 229,44
TABEL VII
DATA PRE TEST
No. Pre Test
Score Pre Test Score Gain (d) post
Test-pre test
XD (d-Md)
XD²
1. 84 91 7 4, 37 19,10
2. 82 46 8 17, 37 301,72
3. 77 85 8 3, 37 11,36
4. 89 103 14 2,63 6,92
5. 80 98 18 8,63 43,96
6. 95 97 2 9, 37 87,80
7. 91 101 10 1, 37 1,88
8. 86 86 0 11, 37 129,28
9. 104 95 9 20, 37 414,94
10. 98 105 7 4, 37 19,10
11. 80 116 38 24,63 606,64
12. 103 111 8 3, 37 11,38
13. 74 82 8 3, 37 11,38
14. 80 78 2 13, 37 178,76
15. 97 77 17 28, 37 804,88
16. 78 86 10 1, 37 1,88
17. 87 83 4 15, 37 236,24
18. 91 104 13 1, 37 2,66
19. 66 90 24 12,83 159,52
20. 80 93 13 1,83 2,68
21. 70 71 1 10,83 107,54
22. 80 89 9 2,37 5,82
23. 78 99 21 9,63 92,74
24. 58 73 15 3,63 13,18
25. 46 99 53 41,63 1733,06
26. 71 93 22 10,63 113,00
27. 70 91 21 9,83 92,74
28. 74 84 10 1,37 1,88
29. 58 95 37 25,83 858,90
30. 90 102 12 0,83 0,40
2412 2753 341 5868,97
4.5 Pembahasan Hasil Tindakan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh ternyata anatara siswa yang diberi perlakuan dan siswa yang tidak diberi perlakuan terlihat perbedaannya. Dari diagram design one group pre test post test sebagai berikut:
PENGUKURAN PERLAKUAN PENGUKURAN
PRE TEST KLSASASASAHSASSPOST TES
KELOMPOK EKSPERIMEN 6,7 X 7,65
Keterangan:
6.7 : Mean pre test
X : Perlakuan yang diberikan
7.65 : Mean post test
Kelompok eksperimen
Eksperimen adalah observasi dibawah kondsisi buatan, dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur peneliti, demikian pula yang dilakukan di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang, karena kelompok eksperimen telah diberi perlakuan sesuai dengan tujuan penelitian maka hasil post-test lebih besar daripada pre-test. Penilaian perilaku jelas jelas berbeda dari sebelum diberi perlakuan menunjukan hasil 6.7 dan setelah diberi perlakuan menunjukan hasil 7.65, dengan demikian ada perbedaan kesadaran karier siswa sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi perlakuan dengan bermain peran melalui sosiodrama terhadap meningkatkan kesadaran karier.
Dapat dikemukakan disini bahwa perlakuan diberikan selama 4 bulan mulai bulan November 2007sampai dengan bulan Desember 2008, siswa diberi perlakuan dengan metode barmain peran melalui sosiodrama tentang bimbingan karier, sehingga siswa benar-benar memiliki kesadaran ayang dapat peneliti ketahui dari hasil pengamatan berupa:
a. Antusias siswa dalam kegiatan sosiodrama
b. Penghayatan, sosiodrama
Dengan berhasilnya eksperimen tersebut merupakan bukti bahwa metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier dalam rangka mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa.
Keberhasilan metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier dalam rangka mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa SMP Negeri 1 Jombang ini sesuai dengan landasan teori yang ada, antara lain:
a. Anak SMP berusia sekitar 12-15 tahun berada pada tahap masa anak-anak yang mempunyai tiga ciri yang menonjol, antara lain: mempunyai dorongan yang besar untuk berhubungan dengan orang lain, dunia sekitar dan pertumbuhan fisik membuat anak cenderung menyenangi permainan (Elizebeth H. Hurlock, 1993:107-108). Karakter perkembangan dimana anak cenderung menyenangi permainan dapat dijadikan metode yang tepat untuk mengungkapkan kasadaran karier siswa., dengan metode bermain peran melaui sosiodrama.
b. Memainkan peran dalam suatu drama dapat dipakai sebagai alat bimbingan berupa psikodrama dan sosiodrama (Edy Hendrarno, Sugiyo, Supriyo. 1983:83).
c. Metode bermain peran melalui sosiodrama kegiatnnya merupakan suastu dramatisasi dari konflik yang biasanya timbul dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, jabatan maupun hubungannya dengan karier dalam masyarakat (Dewa Ketut Sukardi. 1994:545)
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa metode bermain peran melaui sosiodrama membantu siswa mengembangkan gambaran tentang dirinya serta perannya dalam dunia kerja. Hasil teresebut membuktikan bahwa metaode bermain peran melalui sosiodrama dapat menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran siswa. Hal ini sesuai dengan ladasan teori perkembangan yang dikemukakan oleh Donald E. Super “Bahwa bimbingan karier adalah suatu proses yang membantu menumbuhkan pribadi, mengembangkan gambaran diri serta peranannya dalam dunia”.
Berdasarkan hasil penelitian dan didukung dengan teori diatas membuktikan bahwa metode bermain peran melaui sosiodrama merupakan suatu alat bimbingan yang dapat mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran karier siswa SD. Dengan demikian menunjukan bahwa metode bermain peran melalui sosiodrama mengandung efektifitas untuk melaksanakan bimbingan karier di SMP.
BAB V
P E N U T U P
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata tujuan yang ingin mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan hasil pre-test dengan post-test pada kelompok yang diberi perlakuan pada siswa SMP Negeri 1 Jombang Tahun Pelajaran 2007/2008 telah tercapai.
Perbedaan tersebut dapat dibuktikan setelah memperoleh hasil pengolahan data pre-test dan post-test didapatkan t-hitung ≥ t-tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan secara signifikan hasil pre-test dan post-test metode bermain peran melalui sosiodrama dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang.
Disamping itu membuktikan bahwa metode peran melalui sosiodrama dapat digunakan untuk mengungkapkan dan meningkatkan kesadaran siswa SMP Negeri 1 Jombang. Dengan melihat hasil tersebut hipotesa nihil ditolak dan hipotesa penelitian diterima. Jadi ada perbedaan secara signifikan hasil pre-test dan post-test pada siswa yang diberi perlakuan, sehingga membuktikan bahwa karier dalam meningkatkan kesadaran karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang tahun pelajaran 2007/2008.
5.2 Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan untuk selanjutnya penulis ingin memberi saran yang dapat membantu usaha peningkatan pelaksanaan bimbingan karier di SMP Negeri 1 Jombang Kabupaten Jombang, antara lain:
1. Menghimbau sekolah, khususnya guru kelas dengan berdasarkan hasil penelitian yang menyarankan agar dalam kegiatan bimbingan karier di SMP salah satu diantaranya menggunakan metode bermain peran melalui sosiodrama.
2. Sekolah dalam kegiatan pelaksanaan bimbingan karier hendaknya memberikan fasilitas yang memadai untuk keperluan pelaksanaan metode bermain peran melalui sosiodrama.
3. Kepada pihak yang berwenang membuat keputusan, penyusun menyarankan agar hasil penelitian ini menjadi informasi Bimbingan Karier.
4. Sehubungan di SMP ini sudah memiliki guru BK dan mengingat pentingnya pemberian Bimbingan karier sejak dini, peneliti berharap Bimbingan Karier dapat disisipkan pada mata pelajaran tertentu yang materinya berkaitan dengan bimbingan karier.
DAFTAR PUSTAKA
Amirin, 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta. Grafindo Persada
Amti, Erman. Marjohan 1992. Bimbingan dan Konseling. Jakarta Depdikbud
B. Harlock, Elisabeth. 1993 Psikologi Perkembangan. Jakarta Erlangga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1986. Kurikulum Pedoman Bimbingan. Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. 1985. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Dikdasmen.
Hadi, Sutrisno. 1978. Metodologi Research Jilid 1 dan 3. Yogyakarta Andi Offset
____________, 1983, Statistik 2. Yogyakarta Andi Offset
Hatari, PM. 1984. Bimbingan Karier. Yogyakarta. Menara Mas Offset.
Hendrarno, Edi, Supriyo, Sugiyo. 1983. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang. Sinar Putra
Manrihu Mohammad Thayeb 1988 Pengantar Bimbingan dan Konseling Karier Jakarta Bumi Aksara
Munandir. 1996. Program Bimbingan Karier di Sekolah, Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktur Jendral Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Pendidikan Akademik
Nasir, Moh. 1975 Metode Penelitian, Jakarta Ghalia.
Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1989. Tentang Pendidikan Dasar dan Menengah
Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Di SMP 1996 Dirjen Dikdasmen
Proyek Peningkatan Sekolah Guru 1992 Jawa Tengah Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rastiah, NK. 1988. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta Menara Offset
Singarimbun, Masri. 1981 Metode Penelitian Survey. LPES Jakarta.
Suharsimi, Arikunto. 1996 Prosedur Penelitian. Jakarta Rhineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Bimbingan Karier di Sekolah-sekolah. Denpasar Ghalia
Surya, Moh. 1990 Bimbingan Karier Di Sekolah Bandung FIP IKIP.
Suryabrata, Sumadi. 1992. Metedeologi Penelitian. Yogyakarta Erlangga
Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Belajar. IKIP Semarang.
Winkel, W.S, 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta Gramedia Widia Sarana
______________, 1991. Bimbingan Karier di Instituusi Pendidikan. Jakarta Gramedia Widia Sarana
TAHAP-TAHAP SOSIODRAMA
1. Tahap Pembentukan Kelompok. Subyek berkelompok sesuai dengan kelompok.
2. Peneliti memberikan arahan dalam pembagian peran.
3. Peneliti mengarahkan siswa tentang tokoh yang diperankan sesuai dengan perannya masing-masing.
4. Subyek (siswa) bermain peran sesuai dengan perannya dan berdialog sesuai dengan naskah, sedang peneliti mengamati kegiatan.
5. Tema kesadaran ekonomi. Evaluator sedang mengamati jalannya kegiatan seorang anak yang meminta ibunya supaya diperbolehkan melanjutkan sekolah.
6. Tema kesadaran karier. Seorang siswa sebagai guru dan sorang evaluator sedang mengevaluasi.
7. Siswa bermain peran dengan tema kesadaran diri, cita-cita dimasa depan dalam dialognya.
8. Peneliti meminta subyek (siswa) mengulangi dialoq dari tokoh yang diperankan.
9. Tema kesadaran karier. Seorang pembimbing sedang mengevaluasi kegiatan seorang siswa berperan sebagai perawat dan beberapa siswa yang berperan sebagai pasien dan ada yang berkonsultasi.
10. Tema kesadaran karier tentang kelemahan dan kelabihan yang dimiliki, evaluator mengevaluasi tema tersebut.
11. Tema kesadaran diri tenytang kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, evaluator mengevaluasi tema tersebut.
12. Tema kesadaran karier. Seorang siswa berperan sebagai guru.
13. Subjek bermain peran dengan tema kesadaran pendidikan tentang sikap terbuka untuk mendapat nilai yang baik. Kegiatan tersebut dinilai seorang sevaluator.
0 komentar:
Posting Komentar
Syukron