Produktivitas kerja memang tidak cukup hanya didukung niat dan semangat. Membina hubungan baik dengan rekan kerja juga memegang peranan yang cukup besar untuk mewujudkan hasil kerja yang optimal.
Saat bekerja kita dituntut dengan banyak kewajiban, aturan, tantangan, tepat waktu dan masih banyak lagi tuntutan pekerjaaan yang harus dituntaskan. Semua itu tidak mungkin kita kerjakan sendiri, pasti akan membutuhkan bantuan rekan lain. Untuk itu, membangun hubungan baik sesama rekan kerja jelas sangat penting. Bagaimana pun, bersosialisasi dengan rekan kerja tidak hanya membuat suasana kerja terasa lebih nyaman, tetapi produktivitas pun dijamin akan meningkat.
Berdasarkan pengalaman banyak orang, ide cemerlang seringkali mencuat karena adanya interaksi yang bagus dengan rekan kerja. Apalagi, sekarang ini penilaian kerja seseorang tidak melulu karena kecerdasan dan keterampilan sebagai individu. Kemampuannya bekerja sama dengan tim juga menjadi pertimbangan penting.
Saat ini sudah seharusnya kita dapat menciptakan suasana nyaman di tempat kerja, jadikan tempat kerja sebagai rumah kedua bagi kita, tanpa adanya suasana yang nyaman kita tidak akan bisa bekerja secara maksimal.
Nah, jika ingin sukses berkarir, salah satu syaratnya kita harus bisa membangun hubungan yang dengan rekan kerja
Kembangkan kretifitas Anak
Published :
22.55
Author :
Faishol Amir
Kreativitas anak bisa diasah dengan
memanfaatkan benda-benda yang ada di sekililing kita, terutama di rumah.
Contoh, anak bisa memanfaatkan sofa atau kursi tamu ibarat sebuah mobil
atau bus. Bantal bulat bisa dijadikan setirnya. Contoh lain, kardus
berkas televisi dan kulkas bisa di pergunakan sebagai rumah-rumahan.
Imajinasi anak yang begitu variatif dapat
mengubah sebuah benda menjadi sesuatu yang lain. Sedang peralatan atau
benda-benda kecil yang juga dapat dipakai sebagai sarana mengasah
kreativitas anak. Di antaranya adalah kertas, kardus kecil / kaleng
kecil, kain perca, kaus kaki, balok-balok, stik es krim, tanah liat,
pasir dan sebagainya.
Nah agar potensi kreatif ini berkembang optimal, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan orangtua,yaitu:
- Berikan Kesempatan Luas
- Mendampingi Saat Bermain
- Jangan Terlalu Ikut Campur!
- Jangan Emosional!
Memupuk Kreatifitas Anak Didik Sejak Dini
Published :
22.46
Author :
Faishol Amir
Kreativitas siswa masih merupakan potensi yang masih harus dikembangkan baik melalui pendidikan formal maupun melalui pendidikan informal (Munandar, 1995). Menurut ahli tersebut, di Indonesia sudah tampak adanya perhatian terhadap masalah itu, tetapi tampaknya belum cukup memadai. Demikian pula pelaksanaannya di sekolah-sekolah masih sangat memprihatinkan. Selama ini masih cukup banyak ditemui hambatan dan kelemahan yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan kreativitas para siswa, misal: kurangnya pengetahuan dan latihan para guru tentang kreativitas,sistem evaluasi yang terlalu menekankan pada jawaban benar dan tidak benar tanpa memperhatikan prosesnya. Selain itu ada beberapa mata pelajaran yang dianaktirikan, yang sebenarnya justru merupakan mata pelajaran yang penting untuk pengembangan kreativitas. Siswa-siswa sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk berlatih membuat soal-soal atau permasalahan. Selain guru kurang memberikan dorongan kepada siswa untuk mencoba sesuatu yang lain, tanpa ada rasa takut untuk berbuat kesalahan. Sesuatu hal yang perlu diperhatikan adalah agar guru jangan terlalu menekankan pada keberhasilan siswa dalam mencoba sesuatu yang baru. Tujuan yang lebih penting ialah pembentukan sifat kreatifnya. Dalam hal ini para siswa perlu dirangsang dan dipupuk minat dan sikapnya untuk mau melibatkan diri dalam proses kreatif (Torronce, 1972; Semiawan, 1994).
Psikologi perkembangan Anak usia Dini
Published :
23.36
Author :
Faishol Amir
Oleh karena itu, seorang
pendidik hendaknya mengetahui kehidupan anak (secara psikologik) selama masa
perkembangannya berlangsung. Meskipun tiap-tiap anak itu mempunyai kepribadian
yang khas (unik) tetapi setiap anak pada masa tertentu akan menunjukkan
sifat-sifat yang seperti atau sama dengan anak yang lain, tanpa pengecualian.
Bertitik tolak dari
uraian di atas, mendorong penulis untuk menyusun makalah ini dengan judul
“Perkembangan Anak Usia SD/MI”.
Masa usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa
intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa ini, siswa lebih mudah
dididik daripada masa sebelumnya dan sesudahnya. Masa ini dapat dibagi menjadi
dua dengan beberapa karakternya, yaitu :
Kepemimpinan Ala Rasulullah SAW
Published :
06.54
Author :
Faishol Amir
Bagi
kaum muslimin dimana saja berada, Nabi Muhammad SAW bukan saja sebagai
seorang nabi, rasul, namun juga menjadi manusia teladan (uswatun
hasanah) yang tidak saja dikagumi oleh manusia (muslim maupun non
muslim), bahkan malaikat menjadi malu jika berada di dekatnya.
Betapa
besar pengagungan kita seorang muslim kepada Beliau karena dikarenakan
betapa besarnya nilai-nilai kebaikan,kemuliaan agama ini yang
direfleksikan oleh perkataan beliau, tindakan beliau. Sehingga beliau
digelari Alquran berjalan, dikarenakan betapa mudahnya para sahabat
mengerti akan kandungan isi Alquran ketika berinteraksi dengan
Rasulullah SAW.
Pembahasan ini menitik beratkan pada meneladani kepempinan Rasulullah SAW.
Pembahasan ini menitik beratkan pada meneladani kepempinan Rasulullah SAW.
Dalam
surat Al-Ahzab ayat 21 "Sesungguhnya adalah bagi kamu dalam diri Beliau
(Rasulullah SAW) terdapat contoh teladan yang harus diikuti....". Bagi
seorang muslim, seharusnya teladan kita, panutan kita bahkan idola kita
adalah Rasulullah SAW. Beliau dengan sangat teliti dan hati-hati
mencontohkan semua perbuatan baik dan menjauhkan diri dari melakukan
perbuatan buruk dengan sangat teliti dan jelas.
Jujur pada Diri Sendiri
Published :
06.46
Author :
Faishol Amir
Jujur pada diri sendiri boleh jadi tak
semudah mengakui kejujuran pada orang lain. Kata hati kecil sudah
menjawab keraguan, tetapi ada sisi lain dalam diri yang berat menerima
kenyataan. Maka yang terbentuk adalah konflik dalam diri sendiri.
Perselisihan untuk menerima kenyataan, seringkali terbelenggu
pengandaian. Pengandaian jika nanti, bagaimana kalau, mereka-reka masa
depan, dan lain sebagainya. Padahal di saat yang bersamaan fokus
pengandaian terpecah antara menerima kenyataan..Saat jiwa menjadi gelisah karena berat mengakui kebenaran, adalah saat untuk penenangan diri. Pribadi kita bukanlah pribadi yang super sehingga harus selalu tenang seolah tak pernah punya masalah. Tapi bukan pula berarti kita mengumbar masalah menjadi rahasia yang terkuak.
Dalam periode tenang, kita mencoba membuka sisi diri yang sulit menerima kenyataan. Berbicara jujur pada diri sendiri. Mengakui pandangan hati nurani yang murni mengungkapkan kebenaran. Mengolah daya penerimaan keikhlasan..
Kejujuran itu memang berat, ibarat beban yang menggantung pikiran. Tetapi jika kita tak melepaskan beban itu, maka langkah kita seolah-olah dihantui kepahitan. Menyembuhkan rasa pahit, butuh rasa manis. Rasa manis itu adalah dengan menghadiahkan diri dengan rasa bebas. Bebas dari menghakimi diri sendiri.
Buah kejujuran pada diri sendiri itu adalah kedamaian dan kenyamanan. Mendapat langkah yang ringan dan semilir keramahan ketenangan jiwa.(http://lifestyle.kompasiana.com)....sikap ambisius dn tendensius akan memupus sikap jujur..hindari.
Kriteria/Ciri-Ciri Atasan/Pimpinan/Bos Yang disukai Bawahan
Published :
00.04
Author :
Faishol Amir
Setiap orang yang bekerja ingin punya pimpinan, bos atau atasan yang
baik. Memang kata baik di sini sangat luas artinya. Bekerja di tempat
kerja akan sangat menyenangkan dan nyaman apabila memiliki atasan yang
sesuai dengan keinginan bawahan. Pimpinan yang baik akan dicintai para
bawahannya, sedangkan pimpinan yang buruk akan dibenci para bawahannya.
Oleh karena itu seorang pimpinan seharusnya selalu berusaha menjadi
pimpinan yang baik agar kegiatan kerja berjalan mulus.
Pada kenyataannya tidak semua orang bisa menjadi pimpinan yang baik. Ada banyak orang yang stress karena di kantornya menjadi bawahan dari orang yang tidak baik. Pimpinan yang buruk mungkin saja bisa menyelesaikan target pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya dan para bawahannya, namun yang pasti hubungan antar manusia di dalamnya sangat rapuh dan berpotensi besar memunculkan konflik atau masalah pada jangka panjang.
Sebenarnya seperti apa sih atasan, bos atau pimpinan yang disenangi, disukai dan dicintai para bawahan atau anak buah di tempat kerja :
1. Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Orang yang iman dan ketakwaannya kuat tidak akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya sehingga tidak berani untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk. Dengan begitu seorang pimpinan yang beriman dan bertakwa akan menjalankan profesinya sesuai dengan ajaran agamanya.
2. Tidak Emosional / Tidak Mudah Marah
Pada situasi dan kondisi apapun pimpinan yang baik tidak akan mudah marah dan emosian. Setiap masalah yang ada diselesaikan dengan cara baik-baik. Marah-marah hanya memicu munculnya masalah baru dengan bawahan.
3. Murah Senyum dan Suka Bercanda
Bawahan akan senang jika diberi senyuman, sapaan, teguran ramah, pujian, candaan, dan hal-hal menyenangkan lain dari atasan. Senyum merupakan modal awal membangun hubungan yang baik antar manusia. Bercanda dapat mencaikan ketegangan yang terjadi antar manusia.
4. Perhatian Kepada Para Bawahan
Pimpinan yang baik selalu memperhatikan para anak buahnya. Seorang pimpinan harus sering berbicara dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk bisa menyelami suka dan duka para bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Pimpinan juga harus melakukan pendekatan pribadi dengan para bawahan di luar pekerjaan untuk dapat mengetahui kepribadian masing-masing anak buah.
5. Mendukung dan Membela Bawahan Yang Benar
Jika ada bawahan yang mendapatkan kesulitan dengan pekerjaan atau dengan bagian lain harus membantu sekuat tenaga selama bawahan melakukan hal yang benar dan sesuai prosedur. Jika kesalahan dilakukan bawahan pun pimpinan yang baik juga merasa bersalah dan memiliki tanggungjawab untuk memperbaiknya bersama bawahannya.
6. Tidak Pelit dan Senang Berbagi
Jika mendapatkan suatu kebahagiaan atau rejeki, maka berbagilah dengan para bawahan agar mereka turut merasa senang dengan atasannya. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka atasan yang baik tidak membaginya kepada para bawahannya.
7. Mengatasi Masalah Dengan Kepala Dingin
Setiap masalah yang timbul diselesaikan secara baik-baik tanpa emosi bersama-sama dengan para bawahannya kecuali bisa diselesaikan sendiri. Pimpinan yang baik harus memiliki kemampuan manajemen konfilk atau masalah yang baik. Mintalah pendapat bawahan karena siapa tahu masukan dari para bawahan ada yang bagus dan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan segera.
8. Tidak Melemparkan Semua Pekerjaan dan Tanggung Jawab
Yang benar adalah atasan dan bawahan berbagi pekerjaan dengan bawahan, bukan serta merta menyerahkan semua pekerjaan kepada bawahan agar atasan bisa nyantai. Jika para anak buah melihat pimpinannya malas bekerja, maka anak buah pun bisa tertular malas bekerja. Pekerjaan yang dikerjakan oleh bawahan tetap diawasi, dimonitor dan dievaluasi oleh pimpinan.
9. Mengutamakan Kepentingan Bersama
Pimpinan yang baik selalu ingin menggapai kesuksesan bersama-sama dengan para bawahan yang telah berjasa membantu menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Tidak menginjak-injak bawahan untuk bisa sukses mencapai cita-cita sendiri. Senang melihat bawahan susah dan tidak senang melihat bawahan senang adalah merupakan ciri-ciri tanda pemimpin yang buruk.
10. Menghargai Pendapat dan Masukan Bawahan
Pimpinan yang baik mau mendengarkan pendapat, masukan, kritik, saran, keluh kesah, curhat, dan lain-lain dari para bawahan. Musyawarah untuk mufakat tetap sangat penting ketika menyangkut masalah bersama yang tidak bersifat rahasia. sumber (http://organisasi.org)
Pada kenyataannya tidak semua orang bisa menjadi pimpinan yang baik. Ada banyak orang yang stress karena di kantornya menjadi bawahan dari orang yang tidak baik. Pimpinan yang buruk mungkin saja bisa menyelesaikan target pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya dan para bawahannya, namun yang pasti hubungan antar manusia di dalamnya sangat rapuh dan berpotensi besar memunculkan konflik atau masalah pada jangka panjang.
Sebenarnya seperti apa sih atasan, bos atau pimpinan yang disenangi, disukai dan dicintai para bawahan atau anak buah di tempat kerja :
1. Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
Orang yang iman dan ketakwaannya kuat tidak akan selalu merasa diawasi oleh Tuhannya sehingga tidak berani untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk. Dengan begitu seorang pimpinan yang beriman dan bertakwa akan menjalankan profesinya sesuai dengan ajaran agamanya.
2. Tidak Emosional / Tidak Mudah Marah
Pada situasi dan kondisi apapun pimpinan yang baik tidak akan mudah marah dan emosian. Setiap masalah yang ada diselesaikan dengan cara baik-baik. Marah-marah hanya memicu munculnya masalah baru dengan bawahan.
3. Murah Senyum dan Suka Bercanda
Bawahan akan senang jika diberi senyuman, sapaan, teguran ramah, pujian, candaan, dan hal-hal menyenangkan lain dari atasan. Senyum merupakan modal awal membangun hubungan yang baik antar manusia. Bercanda dapat mencaikan ketegangan yang terjadi antar manusia.
4. Perhatian Kepada Para Bawahan
Pimpinan yang baik selalu memperhatikan para anak buahnya. Seorang pimpinan harus sering berbicara dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk bisa menyelami suka dan duka para bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Pimpinan juga harus melakukan pendekatan pribadi dengan para bawahan di luar pekerjaan untuk dapat mengetahui kepribadian masing-masing anak buah.
5. Mendukung dan Membela Bawahan Yang Benar
Jika ada bawahan yang mendapatkan kesulitan dengan pekerjaan atau dengan bagian lain harus membantu sekuat tenaga selama bawahan melakukan hal yang benar dan sesuai prosedur. Jika kesalahan dilakukan bawahan pun pimpinan yang baik juga merasa bersalah dan memiliki tanggungjawab untuk memperbaiknya bersama bawahannya.
6. Tidak Pelit dan Senang Berbagi
Jika mendapatkan suatu kebahagiaan atau rejeki, maka berbagilah dengan para bawahan agar mereka turut merasa senang dengan atasannya. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka atasan yang baik tidak membaginya kepada para bawahannya.
7. Mengatasi Masalah Dengan Kepala Dingin
Setiap masalah yang timbul diselesaikan secara baik-baik tanpa emosi bersama-sama dengan para bawahannya kecuali bisa diselesaikan sendiri. Pimpinan yang baik harus memiliki kemampuan manajemen konfilk atau masalah yang baik. Mintalah pendapat bawahan karena siapa tahu masukan dari para bawahan ada yang bagus dan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan segera.
8. Tidak Melemparkan Semua Pekerjaan dan Tanggung Jawab
Yang benar adalah atasan dan bawahan berbagi pekerjaan dengan bawahan, bukan serta merta menyerahkan semua pekerjaan kepada bawahan agar atasan bisa nyantai. Jika para anak buah melihat pimpinannya malas bekerja, maka anak buah pun bisa tertular malas bekerja. Pekerjaan yang dikerjakan oleh bawahan tetap diawasi, dimonitor dan dievaluasi oleh pimpinan.
9. Mengutamakan Kepentingan Bersama
Pimpinan yang baik selalu ingin menggapai kesuksesan bersama-sama dengan para bawahan yang telah berjasa membantu menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Tidak menginjak-injak bawahan untuk bisa sukses mencapai cita-cita sendiri. Senang melihat bawahan susah dan tidak senang melihat bawahan senang adalah merupakan ciri-ciri tanda pemimpin yang buruk.
10. Menghargai Pendapat dan Masukan Bawahan
Pimpinan yang baik mau mendengarkan pendapat, masukan, kritik, saran, keluh kesah, curhat, dan lain-lain dari para bawahan. Musyawarah untuk mufakat tetap sangat penting ketika menyangkut masalah bersama yang tidak bersifat rahasia. sumber (http://organisasi.org)
Hukum Membaca Yasin Malam Tertentu
Published :
07.03
Author :
Faishol Amir
قال أبو يعلى : حدثنا إسحاق بن أبي
إسرائيل حدثنا حجاج بن محمد عن هشام بن زياد عن الحسن قال سمعت أبا هريرة
رضي الله عنه يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ يس في ليلة
أصبح مغفورا له، ومن قرأ حم التي يذكر فيها الدخان أصبح مغفورا له .
إسناده جيد
Rasulullah bersabda : Barangsiapa membaca yasin pada waktu malam apa
aja (lailatin nakiroh) niscaya paginya diampuni; barangsiapa membaca
HAMIM yg dsebut di dalamnya dukhan (surah Ad Dukhan) juga pada waktu
malam (di sini tidak disebut fi lailatin karena sudah menunjukkan yang
sebelumnya), niscaya paginya diampuni." Sanadnya JAYYID (jadi hadist ini
bukan dhoif apalagi maudhu)
وقال ابن حبان في صحيحه : حدثنا
محمد بن إسحاق بن إبرهيم مولى ثقيف حدثنا الوليد بن شجاع بن الوليد السكوني
حدثنا أبي حدثنا زياد بن خيثمة حدثنا محمد بن جحادة عن الحسن عن جندب بن
عبدالله رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ يس
في ليلة ابتغاء وجه عز وجل غفر له
Rasulullah bersabda : Barangsiapa membaca YASIN PADAMALAM APA AJA,
(lailatin nakiroh) (makna fi zhoraf az zaman) KARENA MENGHARAP (maf'ul
liajlih) (Wajah di sini bukan haqiqat tapi majaz yaitu maknanya ) RIDHO
ALLAH AZZA WAJALL, NISCAYA (jawab man) DIAMPUNI BAGINYA.
وقال أحمد : حدثنا عارم حدثنا ابن
المبارك حدثنا سليمان التيمي عن أبي عثمان وليس بالهندي عن أبيه عن معقل بن
يسار رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرؤوها على
موتاكم ، يعني يس. رواه أبو داود والنسائي في اليوم والليلة وابن ماجه من
حديث عبد الله بن المبارك به،
Rasulullah bersabda lagi
dengan fi'il amr (amr di sini lin nadb (dsunatkan) : "BACAKAN LAH YASIN
ATAS ORANGYANG MENINGGAL KAMU", yang dimaksud Rasul adalah YASIN.
ولهذا قال العلماء: من حصائص هذه السورة أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله تعالى وكأن قراءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة وليسهل عليه عند خروج الروح
Karena ini hadist-hadtis
ini, maka berkatalah para ulama : Sebagian dari khususiat suroh ini
(alif lam di sini lil ahdizzikri mksdnya yasin) (LA nafi setelhnya ada
ILLA, maka maknanya adalah itsbat seperti LAA ILAAHA ILLALLAH)
bhwasanya dibaca surah ini waktu kesusahan, niscaya Allah mudahkan
urusan nya, dan dibaca dsisi orangyg sakratul maut atau orang sudah mati
untuk mengharap turun rahmat dan barakah dan memudahkan untknya saat
keluar roh dari dalam jasadnya.
Sumber: Status aawy Chinta Ilmu
Parameter Alim dan Peng-Aliman
Published :
06.55
Author :
Faishol Amir
Sulit
sekali mengukur kealiman (kedalaman ilmu) seseorang. Tetapi
setidaknya, asumsi umum patut dipertimbangkan. Misalnya, menurut
pandangan umum, ukuran kealiman itu bisa diperoleh manakala kyai itu
memiliki karya tertulis ataupun karya tertutur. Hal lain, bisa dilihat
dari tingkah laku dan prilaku kesehariannya. Di samping itu berbagai
kepedulian dan kearifan dalam menyikapi persoalan. Hampir setiap orang
dengan mudah melihat bagaimana akhlak seorang yang dianggap “cerdik
pandai” itu. Nah, sikap-sikap pembawaan seorang kyai ini setidaknya
dapat melabeli “alim” atau tidaknya seorang kyai.
Atau secara spesifik asumsi umum itu bisa diurai: pertama,
dari karya-karya yang diterohkan dalam berbagai tulisannya. Apakah
diakui oleh kalangan ilmuan lain ataupun tidak; membawa manfaat secara
umum atau tidak; memberikan khasanah (kekayaan) baru dalam bidangnya
atau tidak; dan membawa pesan perubahan prilaku mulia atau sebaliknya.
Kedua,
jika tidak ahli dalam menulis, tetap bisa dikategorikan kyai kampung
yang alim. Hal itu bisa diukur misalnya dalam setiap “ilmu tutur”-nya.
Bagaimana ia menuturkan dan menjelaskan berbagai persoalan dari sudut
pandang ilmu yang dikuasainya: apakah konprehensif (mencakup) atau
tidak, membawa kepentingan golongan atau pluralis, membawa kedamaian
atau sebaliknya, menetramkan atau menggelisahkan, membawa pesan
kepedulian atau pengabaian, menciptakan sinergi etika atau anti-etis,
membimbing individu masyarakat atau justru mengambangkannya.
Ketiga, wilayah
privatnya. Maksudnya adalah kedekatan interaksi vertikalnya. Di
kalangan santri, ada pemahaman secara umum, bahwa kyai yang memiliki
kedalaman rohani, biasanya karena interval vertikalnya sangat rapat,
ditambah wawasan keilmuannya yang komprehensif. Disamping itu, inverval
horizontalnya pun juga rapat. Ibarat gelombang FM (frekuensi
modulation) akan lebih jernih ketimbang gelombang AM. Hal itu karena FM
memiliki karakter gelombang yang modulasi dan intervalnya sangat
rapat.
Tidak
jarang, “kyai FM” ini sangat dicintai masyarakatnya. Persis seperti
radio FM yang lebih diminati masyarakat kita. Sehingga di mana-mana
seluruh gelombang radio berpindah pada jalur FM. Hal ini karena
karakter kuat pada gelombangnya juga jernih suaranya. Demikian itu bila
ilmu ini melekat pada seorang “kyai FM”, maka tidak mustahil, pancaran
gelombang ilmunya kuat, prilakunya santun dan nasehatnya jelas, dan
tentu saja enak di dengar telinga. Pada akhirnya, tidak mustahil
pancaran ilmu dari “kyai FM” ini akan di relay ulang di setasiun daerah
masing-masing santrinya dan tentu masyarkat sekitar santri itu akan
ramai-ramai mendengar lantunan gelombang “kyai FM” yang indah itu. (dlm: http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/24/polarisasi-kyai-kampung-dan-kyai-kampus)
(Fy:) Fenomena sekarang tidak sedikit seorang kyai/bu Nyai yang men-kyai-kan dirinya sendiri, dengan sikap dan model kyai TOP. tidak sulit mengenali kyai yang memposisikan dirinya seorang figur kyai, sikap dan prilakunya dibuat-buat, quwwa yang berlebihan, dalam berprilaku condong ditunjukkan kepada orang lain dengan strategi yang direkayasa yang berlebihan, pendapatnya tidak mau dikalahkan orang lain, dengan sekuat tenaga dia akan memberikan gambaran pendapat dirinya sendiri walaupun bagi orang lain sangat tidak logis dan arogan, arogan dan sombong, menunjukkan ilmunya lebih tinggi dari pada orang lain...
orang-orang seperti itulah, penghambat majunya Islam (dalam skala besar), lembaga (dalam skala lembaga).... dan seterusnya. semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang demikian.
Kenalkan Anak dengan Al Qur'an Sejak Dini
Published :
06.10
Author :
Faishol Amir
Masih ingatkah Anda dengan bocah cilik bernama Hussein Tabataba-i? Ya,
dalam sebuah buku berjudul “Doktor Cilik Hafal dan Faham Alquran”, karya
Dina Y. Sulaeman, diceritakan bagaimana bocah cilik asal Iran itu hafal
seluruh isi Alquran.
Sabtu (17/4), sang penulis buku turut berbagi cerita dalam rangkaian acara The Infinity of Alquran di ruang utama Masjid Salman ITB. Dina yang pernah 8 tahun tinggal di Iran, memaparkan metode isyarat yang digunakan ayah Hussein dalam mengajar anaknya untuk hafal sekaligus paham ayat-ayat Alquran.
Hussein memang lahir dalam keluarga penghafal Alquran. Sejak dalam kandungan, ibunya dalam kondisi menghapal Alquran. Kemudian sejak kecil Hussein sering ikut orang tuanya ke majelis-majelis Alquran. Sehingga pada usia 2 tahun 4 bulan, Hussein sudah hafal juz 30 secara otodidak.
Kemudian untuk juz-juz selanjutnya, Hussein dibimbing ayahnya. Ayah Hussein mencari cara agar anaknya tidak hanya hafal, tapi juga paham isinya. Akhirnya digunakanlah isyarat untuk memudahkan Hussein memahami Alquran.
“Bahasa arab di Iran kedudukannya sama seperti di Indonesia, bahasa asing. Orang Iran menggunakan bahasa Persia dalam kesehariannya,” tutur lulusan Program Bahasa Persia, Imam Khomeini International University tahun 1999 ini.
Pada usia 7 tahun Hussein sudah hafal seluruh isi Alquran. Kemudian Hussein mengikuti ujian doktoral dan berhasil mendapat gelar Doktor Causa Honoris dari Hijaz College University, London.
Dina kerap kali menuliskan pengalamannya selama di Iran di blognya. Tidak terkecuali pengalaman menyekolahkan anaknya di sekolah Alquran untuk balita dengan metode isyarat. Tulisan-tulisan ini kemudian mendapatkan tanggapan dari teman-teman Dina yang juga merupakan alumni pengurus Pembinaan Anak Salman (PAS) ITB.
Dina dan teman-temannya kemudian menggagas Lembaga Rumah Qurani dan mencoba menerapkan metode isyarat di Indonesia dengan beberapa penyesuaian. Kendatipun secara esensi sama, namun pencapaiannya berbeda. “Di Iran satu kitab bisa selesai dalam waktu tiga bulan, tapi di sini (Indonesia) butuh waktu sampai satu tahun,” ungkap Dina. “Godaan di sini (Indonesia) memang lebih banyak, apalagi dari televisi,” lanjutnya lagi.
Dalam metode ini, walaupun belum bisa membaca Alquran, anak sudah menghafal potongan ayat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya ayat tentang menjaga kebersihan dan sopan santun terhadap orang tua. Kemudian baru belajar baca Alquran. Setelah itu, mulai menghafal Alquran dari juz Amma. Informasi kinestetik (lewat gerakan) merupakan salah satu jenis informasi yang diterima otak sebagai memori jangka panjang.
Menurut Dina, keterlibatan orang tua merupakan kunci dalam proses menghafal Alquran. Mengenalkan Alquran sejak dini juga merupakan salah satu upaya melindungi anak dari pengaruh buruk lingkungan. Ini merupakan tantangan untuk bisa mengajarkan Alquran dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Sumber (http://cikopotrans.blogspot.com)
Sabtu (17/4), sang penulis buku turut berbagi cerita dalam rangkaian acara The Infinity of Alquran di ruang utama Masjid Salman ITB. Dina yang pernah 8 tahun tinggal di Iran, memaparkan metode isyarat yang digunakan ayah Hussein dalam mengajar anaknya untuk hafal sekaligus paham ayat-ayat Alquran.
Hussein memang lahir dalam keluarga penghafal Alquran. Sejak dalam kandungan, ibunya dalam kondisi menghapal Alquran. Kemudian sejak kecil Hussein sering ikut orang tuanya ke majelis-majelis Alquran. Sehingga pada usia 2 tahun 4 bulan, Hussein sudah hafal juz 30 secara otodidak.
Kemudian untuk juz-juz selanjutnya, Hussein dibimbing ayahnya. Ayah Hussein mencari cara agar anaknya tidak hanya hafal, tapi juga paham isinya. Akhirnya digunakanlah isyarat untuk memudahkan Hussein memahami Alquran.
“Bahasa arab di Iran kedudukannya sama seperti di Indonesia, bahasa asing. Orang Iran menggunakan bahasa Persia dalam kesehariannya,” tutur lulusan Program Bahasa Persia, Imam Khomeini International University tahun 1999 ini.
Pada usia 7 tahun Hussein sudah hafal seluruh isi Alquran. Kemudian Hussein mengikuti ujian doktoral dan berhasil mendapat gelar Doktor Causa Honoris dari Hijaz College University, London.
Dina kerap kali menuliskan pengalamannya selama di Iran di blognya. Tidak terkecuali pengalaman menyekolahkan anaknya di sekolah Alquran untuk balita dengan metode isyarat. Tulisan-tulisan ini kemudian mendapatkan tanggapan dari teman-teman Dina yang juga merupakan alumni pengurus Pembinaan Anak Salman (PAS) ITB.
Dina dan teman-temannya kemudian menggagas Lembaga Rumah Qurani dan mencoba menerapkan metode isyarat di Indonesia dengan beberapa penyesuaian. Kendatipun secara esensi sama, namun pencapaiannya berbeda. “Di Iran satu kitab bisa selesai dalam waktu tiga bulan, tapi di sini (Indonesia) butuh waktu sampai satu tahun,” ungkap Dina. “Godaan di sini (Indonesia) memang lebih banyak, apalagi dari televisi,” lanjutnya lagi.
Dalam metode ini, walaupun belum bisa membaca Alquran, anak sudah menghafal potongan ayat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya ayat tentang menjaga kebersihan dan sopan santun terhadap orang tua. Kemudian baru belajar baca Alquran. Setelah itu, mulai menghafal Alquran dari juz Amma. Informasi kinestetik (lewat gerakan) merupakan salah satu jenis informasi yang diterima otak sebagai memori jangka panjang.
Menurut Dina, keterlibatan orang tua merupakan kunci dalam proses menghafal Alquran. Mengenalkan Alquran sejak dini juga merupakan salah satu upaya melindungi anak dari pengaruh buruk lingkungan. Ini merupakan tantangan untuk bisa mengajarkan Alquran dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
Sumber (http://cikopotrans.blogspot.com)
Ajarilah Anak Sholat Sejak Dini
Published :
06.00
Author :
Faishol Amir
Kita telah sama-sama mengetahui akan pentingnya dan wajibnya shalat 5 waktu...
Bahwa shalat merupakan rukun Islam yang kedua dan amalan yang pertama kali dihisab di akhirat kelak..
Agar shalat menjadi kebiasaan yang baik untuk anak anda, di sini kami menyarankan beberapa washilah di bawah ini :
1. Memerintah anak untuk mengerjakan shalat,
عَلِّمُوا الصَّلَاةَ لِسبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابنَ عَشَرَ سِنينَ
"Ajarkan anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah ia waktu berumur 10 tahun"
Namun
pengajaran bisa dimulai sejak dini tanpa harus menunggu 7 tahun
sehingga pada saat si anak tiba pada usia 7 tahun sudah tidak merasa
berat melaksanakan shalat pada saat kita mulai memerintahkannya untuk
shalat,,
- Pada usia balita atau batita, pengajaran tersebut bisa dengan cara memperlihatkan mereka pada saat kita shalat.
- Pada saat mereka sudah mulai berdiri dan berjalan, mereka sudah bisa diajak berdiri di samping kita untuk mengikuti gerakan kita pada saat shalat. Sehingga lama kelamaan mereka mulai hapal gerakan-gerakan shalat tersebut dengan sendirinya..
- Tanpa ada unsur paksaan, karena belum jatuh perintah shalat mereka
- Sebaiknya kita menyediakan peralatan shalat sendiri buat mereka agar lebih semangat melaksanakan shalat..
- Sering memperdengarkan lafadz bacaan shalat .. Misalnya : dengan sering memperdengarkan surat Al-Fatihah yang menjadi surah yang wajib dibaca pada setiap rakaat shalat.. Alhamdulillah anak-anak ku (Abdullah, 3th, dan aisyah 2th) sudah menghapalkannya. Mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat para pembaca
2. Biasakan mengajak anak pergi ke masjid, bagi anak laki-laki.
Tapi untuk tahap-tahap awal mungkin tidak bisa setiap hari,
karena si anak bisa menjadi bosan, ini hanya dalam rangka pendidikan
shalat berjamaah untuk mereka, hingga saat mereka mumayyis sudah tahu mengenai keutamaan shalat berjamaah di masjid
Dan untuk anak perempuan, membiasakan untuk shalat berjamaah bersama ibunya.
Tapi untuk anak-anak yang usianya masih sangat dini, baik laki-laki
atau pun perempuan, bisa shalat berjamaah bersama-sama dengan ibunya di
rumah.
3. Berwudhulah di depan anak dan mintalah mereka agar merka mengikutinya dan biasakan untuk berwudhu di hadapan mereka.
4. Memuliakan mereka yang paling serius menjaga shalat berjamaah di keluarga.
Karena itu bisa menjadi motivasi bagi anak kita untuk membiasakan diri melakukan shalat
5. Mulai dari diri kita sendiri sebagai orang tua
Tidak bisa dipungkiri jika kita sebagai orang tua menjadi
contoh teladan terbaik untuk mereka. Sulit rasanya, jika kita
memerintahkan mereka untuk shalat sementara kita shalat 5 waktunya juga
masih bolong-bolong.
Jadi mulailah dari diri sendiri, berilmulah sebagai orang tua,
ataupun calon orang tua sehingga akan menjadi mudah buat kita untuk
mengajarkan mereka tentang shalat, terutama shalat 5 waktu.
Karena mereka..buah hati kita.. adalah amanah buat kita,,yang akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Sumber: (http://www.tamanbuahhati.com)
Pengaruh Sertifikasi terhadap kinerja guru
Published :
21.27
Author :
Faishol Amir
Dalam rangka memperoleh profsionalisme guru, hal yang diujikan dalam sertifikasi adalah kompetensi guru. Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, kompetensi guru meliputi empat komponen yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan sosial. Namun demikian,setelah adanya sertifikasipendidik, kinerja guru masih dirasa kurang meningkat.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyono dkk (2008 )di SMP Negeri 1 Lubuklinggau menunjukan bahwa dampak sertifikasi terhadap kinerja guru belum mengalami perubahan.Para pendidik di sekolahan tersebut belum mampu mengaplikasikan empat komponen tentang standar nasional pendidikan.Dampak sertifikasi pada komponen yang pertama yaitu pada kompetensi pedagogic,para guru belum mengalami perubahan yang lebih baik dalam memeberikan pembelajaran pada siswanya.Pemberian teori belajar dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik pun belum mampu sepenuhnya dilakukan oleh para guru.Komponen yang kedua yaitu pada komponen kompetensi profesionalitas guru juga belum mengalami peningkatan setelah adanya sertifikasi.Para guru belum mampu meningkatkan efektifitas belajar siswa dan juga belum ada peningkatan dalam guru untuk lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas dalam bidangnya seperti diklat,Lokakarya,dan MGMP.
Komponen yang ketiga yaitu komponen kompetensi social guru,dalam komponen ini guru dituntut untuk meningkatkan rasa sosialnya seperti untuk lebih berinteraksi dengan masyarakat agar berperan serta dalam pendidikan putra-putrinya.Komponen yang keempat adalah komponen kompetensi kepribadian guru,pada komponen ini guru juga belum mengalami peningkatan yang signifikan untuk lebih berkomitmen dalam menjalankan tugasnya sebagai guru yang professional.Selain itu,guru belum bisa bersikap wajar dalam hal berpakaian dan memakai perhiasan yang mencolok.
Kinerja guru dinilai meningkat hanya saat guru-guru belum lolos sertifikasi dan setelah mendapatkan sertifikasi kinerja guru menjadi menurun seperti para guru menjadi enggan untuk mengikuti seminar atau pelatihan untuk peningkatan kualitas diri,padahal sebelum mendapat sertifikasi para guru menjadi lebih sering mengikuti pelatihan untuk peningkatan kualitas diri.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengenai dampak sertifikasi profesi guru terhadap kinerja guru menunjukan hasil yang kurang memuaskan. Setelah mengolah data 16 dari 28 provinsi yang diteliti hasilnya menunjukan bahwa peningkatan kinerja yang diharapkan dari guru yang sudah bersertifikasi, seperti perubahan pola kerja, motivasi kerja, pembelajaran, atau peningkatan diri, dinilai masih tetap sama.
Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim
Published :
07.45
Author :
Faishol Amir
Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim (selanjutnya disebut Nyai
Khoiriyah) lahir di desa Tebuireng, Jombang, pada tahun 1326 H/1908.
Dia anak kedua dari sepuluh bersaudara KH. Hasyim Asy'ari dengan salah satu
isterinya yang bernama Nafiqah. Jika ditelusuri nasabnya lebih jauh, maka garis
keturunan Nyai khoiriyah baik dari ibu maupun ayahnya, keduanya bertemu pada
Lembu Peteng (Brawijaya VI). Dari pihak ayah melalui Joko Tingkir sedangkan
dari pihak ibu dari Kyai Ageng Tarub I.
Ketika Nyai Khoiriyah masih anak-anak, ia tidak
diperbolehkan bersekolah di madrasah atau mondok di luar pondok ayahnya,
sebagaimana saudara laki-lakinya. Tetapi Nyai Khoiriyah tidak menyiakan
kesempatan mendengarkan ayahnya sedang mengaji kepada santrinya. Sesuai situasi
saat itu, Nyai Khoiriyah sebagai anak perempuan menjalani pendidikan tidak
selayaknya anak laki-laki. Berbeda dengan adik kandungya yang laki-laki, Wahid
Hasyim, Karim Hasyim, dan Kholiq Hasyim. Mereka mencari ilmu dengan mengembara
dari pesantren ke pesantren. Sementara Nyai Khoiriyah mendapat didikan langsung
dari ayahnya.
Begitulah cara-cara yang ditempuh Nyai Khoiriyah mengaji
pada masa anak-anak. Dengan sistem pengajian sorogan ini telah memberi
kesempatan Nyai Khoiriyah mendengarkan pengajian ayahnya, karena cara
penyampaian secara lesan kepada kelompok-kelompok santri, namun mata pelajaran
yang diberikan penguasaannya tergantung invidu santri. Selain secara individu
mata pelajaran yang diberikan secara berkelompok dalam suatu lingkaran kepada
santri, hal ini disebut halaqah. Nyai
Khoiriyah juga mengaji Al-Qur'an dan kitab-kitab salaf kepada ayahnya. Ketika
itu belum ada pondok pesantren puteri. Disamping itu pula Nyai Khoiriyah
dikenal dengan orang yang rajin dan tekun untuk belajar secara mandiri, ketika
ada kesulitan dalam belajar, ia langsung bertanya kepada ayahnya.
Latar sejarah di atas kelak akan membentuk sosok pribadi
Nyai Khoiriyah yang demikian teguh terhadap pendirian serta tidak mudah untuk
menyimpang dari ajaran agama, karena ia berada di dalam didikan ayahnya yang
sangat ketat. Belum lagi ditambah dengan keberadaan daerah Tebuireng yang
terkenal dengan daerah kurang aman dan lemah secara ekonomi, turut menambah
"watak keras" dalam dirinya.
Dari segi pendidikan, Nyai Khoiriyah sudah mulai belajar
pada saat usia 5 tahun dan tidak pernah mengenyam sekolah formal. Pada saat
yang sama hanya mengikuti dari dalam tabir atau dalam kamar ketika ayahnya
mengaji para santri laki-laki. Setelah usia 13 tahun ia dinikahkan dengan
Maksum Ali, (cucu dari Kyai Abdur Jabbar, pendiri sebuah pesantren yang
terkenal di akhir abad 19, yaitu pesantren Maskumambang Gresik. Pada saatnya
nanti Maksum Ali Berperan sebagai guru sekaligus suami yang punya peranan besar
merintis pondok pesantren Seblak.
Disiplin Ilmu yang pelajari Nyai Khoiriyah cukup beragam,
mulai dari tafsir, fiqih, hadits, ushul fiqih, tauhid, tasawuf, mantiq, balagha
dan lain-lain. "Kitab Kuning" (classical sources) yang sudah
ditamatkan sangat banyak seperti : Tafsir Jalalain, fatkhul Mu'in, Tahrir,
Asymuny, Jauharul Maknun, Alfiyah, Jami'ul Jawami, Al-Hikam dan sebagainya. Kitab-kitab
itu dipelajari di bawah asuhan ayahnya yang ternama terutama suami, KH. Maksum
Ali.
Melihat keragamannya kitab yang dipelajari, pantaslah
kiranya jika Nyai Khoiriyah sangat lihai di bidang Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf,
Badi', Bayan, Balaghah, dan lain-lain) yang merupakan kunci untuk mengetahui
"seluk beluk" hukum Islam) serta fiqih dan ushul fiqih. Nyai
Khoiriyah dikenal sangat alim sejak usia muda. Tidak hanya dalam bidang agama,
Nyai Khoiriyah juga dikenal sebagai pakar ilmu pendidikan. Buti kepakaran ini
misalnya, dijadikannya Pesantren Seblak sebagai eksperimen pengembangan
pendidikan modern, dan mendirikan madrasah al-Banat di Mekkah.
Nyai Khoiriyah dan suaminya Maksum Ali atas dorongan Nyai
Hasyim As'ari menjatuhkan pilihan untuk membangun Pondok Pesantren Putri di
daerah Seblak. Saat itu terkenal daerah 'gawat' (rawan) pada tahun 1921.
kemudian pada tahun 1930 dibuka madrasah salafiyah syafi'iyyah TK, Ibtidaiyah
yang masih tingkatan sifir awal dan tsani.
Sepeninggal KH. Maksum Ali Tahun 1933 roda kepemimpinan diambil
alih oleh Nyai Khoiriyah. Dengan bekal ilmu yang diperolehnya Nyai Khoiriyah
mampu melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren Seblak. Selanjutnya ia
menyadari bahwa ilmunya harus diturunkan kepada kedua putrinya yaitu Abidah dan
Jamilah, agar mampu meneruskan perjuangan pondok pesantren Seblak.
Pada tahun 1937 Nyai Khoiriyah berangkat ke Mekkah untuk
bermukim di sana, dan kepengasuhan pondok pesantren Seblak diserahkan kepada
putrinya, Nyai 'Abidah Maksum dan suaminya KH. Mahfudz Anwar. Tahun berikutnya
1938 dibukalah Madrasah Al-Banat dengan perkembangan yang pesat, maka tahun
1950 menjadi pondok pesantren Putri dengan beberapa jenjang pendidikan yaitu
SGB (Sekolah Guru Bantu) yang kemudian berubah menjadi PGA (Pendidikan Guru
Agama) empat tahun lalu pindah ke kota Jombang dengan PGA Sunan Ampel.
Perjalanan kehidupan Nyai Khoiriyah di Mekkah bertemu jodoh
dengan Kyai Muhaimin dari Lasem Jawa Tengah pada waktu itu menjadi pimpinan
Madrasah Darul Ulum yang memperoleh limpahan dari Syekh yasin Al-Fandagy (dari
Padang) yang berdiri pada tahun 1927.
Melihat perkembangan madrasah tersebut hanya didominasi
oleh laki-laki, maka Nyai Khoiriyah membuka madrasah khusus perempuan pada
tahun 1942. Wajar jika di Mekkah saat ini ada lembaga yang diberi nama
Jam'iyyah Al-Khoiriyah dan sekarang diteruskan oleh putri Binti Abdul Aziz
mulih Faishal. Dan dari sini muncul lembaga-lembaga perempuan yang lain. Ketika
Kyai Muhaimin meninggal di Mekkah selang beberapa lama Nyai Khoiriyah pulang
kemblai ke Tebuireng Jombang dan menata kembali pondok pesantren Seblak,
diteruskan dengan membuat taman pendidikan putri Khadijah di Surabaya dengan
jenjang formal.
Olah Raga Dapat Meningkatkan Kecerdasan
Published :
06.19
Author :
Faishol Amir
Olah raga tidak hanya meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh, studi menunjukkan olahraga ringan seperti jalan santai juga dapat meningkatkan kecerdasan.
Ilmuwan menunjukkan bahwa olahraga jalan dengan kecepatan sedang 40 menit selama tiga kali seminggu dapat meningkatkan kecerdasan.
Hal ini karena jalan sedang dapat meningkatkan hubungan antara sirkuit otak, memerangi penurunan fungsi otak yang terkait dengan penuaan dan bahkan meningkatkan kinerja dalam tugas-tugas penalaran.
Untuk menyelidiki hal tersebut, peneliti mengumpulkan partisipan usia 18 sampai 35 tahun dan 59 sampai 80 tahun yang menjalani gaya hidup sehat sebelum studi, setidaknya melakukan aktivitas fisik 30 menit atau lebih selama enam bulan sebelumnya.
"Hampir tak ada satu orang pun yang otaknya hanya aktif pada satu daerah. Jaringan otak memang berkurang seiring dengan usia, tapi efek olahraga jalan bisa memperlambat proses tersebut," ujar Professor Art Kramer, pemimpin penelitian, seperti dilansir dari Dailymail, Selasa (31/8/2010).
Tim peneliti menemukan bahwa orang tua yang lebih fit cenderung memiliki konektivitas yang lebih baik di daerah otak tertentu, terutama yang bertanggungjawab pada tugas perencanaan, prioritas, strategi dan multitasking.
Lalu peneliti mengukur konektivitas otak dan kinerja pada tugas-tugas kognitif di awal penelitian selama enam bulan dan satu tahun setelah kegiatan berjalan dilakukan.
Hasilnya, pada akhir tahun, konektivitas jaringan otak meningkat secara signifikan di otak pejalan kaki. Pejalan kaki mengalami peningkatan signifikan koneksi dalam otak yang membantu dalam pelaksanaan tugas-tugas kompleks dan kognitif.
"Semakin tinggi konektivitas maka semakin baik kinerja pada beberapa tugas kognitif, terutama yang kita sebut tugas kontrol eksekutif, yaitu hal-hal seperti perencanaan, penjadwalan, berurusan dengan ambiguitas, kerja memori dan multitasking," ujar Profesor Kramer.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Ageing Neuroscience.(mer/ir)
Cara Belajar agar Anda jadi Siswa Pintar
Published :
05.25
Author :
Faishol Amir
Kapan
waktu belajar yang efektif? pagi, siang, sore atau malam?
Waktu
belajar yang baik adalah sesuai sikon dan toleransi.
Tiap
orang pasti punya cara yang berbeda-beda buat belajar. Ada yang sukanya cuma
belajar kalau di sekolah saja, ada juga yang di sekolah atau di kampus nggak
perhatikan guru atau dosen mengajar, jadi ya terpaksa pas di rumah belajar
mati-matian.
Situasi dan kondisi lingkungan sekitar kita juga turut menentukan waktu belajar yang tepat. Kalau rumah kita dekat dengan pabrik yang berisik di siang hari ya berarti yang bagus belajarnya ya malem-malem pas lagi sepi, tapi kalau rumah dekat tempat hiburan malam ya terpaksa belajar pagi atau sore di luar jam sekolah atau kuliah.
Situasi dan kondisi lingkungan sekitar kita juga turut menentukan waktu belajar yang tepat. Kalau rumah kita dekat dengan pabrik yang berisik di siang hari ya berarti yang bagus belajarnya ya malem-malem pas lagi sepi, tapi kalau rumah dekat tempat hiburan malam ya terpaksa belajar pagi atau sore di luar jam sekolah atau kuliah.
Yang
paling bagus belajar itu menyesuaikan dengan mood dan toleransi tubuh kita.
Kalau kita jam 8 malam udah terasa mengantuk berat ya sebaiknya belajar sore
atau selepas maghrib. Kalau mood lagi nggak asyik ya sebaiknya jangan
memaksakan untuk belajar karena belajarnya bisa sia-sia. Tapi jangan jadikan
mood yang jelek sebagai alasan buat tidak blajar.
MASIH PERLUKAH UJIAN NASIONAL
Published :
00.54
Author :
Faishol Amir
MASIH PERLUKAH UJIAN NASIONAL
Meski
ujian pada akhir satuan pendidikan secara nasional merupakan kegiatan rutin,
UAN (ujian akhir nasional) pada tahun 2004 menuai kritikan tajam dari berbagai
kalangan. Kontroversi tentang UAN diawali oleh munculnya penolakan sekelompok
masyarakat terhadap kebijakan kenaikan batas kelulusan dari 3,01 pada tahun 2003
menjadi 4,01 pada tahun 2004. Pada tahun 2006/2007 kebijakan tersebut menjadi
naik menjadi 4.51 dan pada tahun ajaran 2007/2008 manjadi 5.00 dengan 6 mata
pelajaran yang harus di UN-kan.
Masyarakat
berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (pasal 58 ayat 1 dan pasal 59 ayat 1). Sebagian berpendapat
bahwa UAN berdampak negatif terhadap pembelajaran di sekolah, menghamburkan
biaya, dan hanya mengukur aspek kognitif. Argumentasi lain adalah kondisi mutu
sekolah yang sangat beragam sehingga tidak adil jika harus diukur dengan
menggunakan ukuran (standar) yang sama.
Salah
satu isu yang mendapat perhatian banyak pihak adalah kekhawatiran tentang
kemungkinan banyaknya siswa yang tidak lulus (tidak dapat mencapai batas
minimal 4,51).
Berbagai survei pra-UAN dilakukan di sejumlah daerah yang
menunjukkan proporsi siswa yang tidak lulus, cukup besar. Kekhawatiran itu
tidak terbukti karena setelah hasil UAN diumumkan ternyata proporsi siswa yang
tidak lulus, relatif kecil. Namun kebijakan konversi nilai UAN ini menuai
kritikan. Salah satunya, tabel konversi nilai UAN dianggap sebagai upaya
subsidi silang, menolong siswa yang kurang pandai dengan merugikan siswa yang
pandai. Pendapat yang mendukung agar UAN tetap dipertahankan antara lain
didasarkan kepada argumentasi tentang pentingnya UAN sebagai pengendali mutu
pendidikan secara nasional dan pendorong bagi pendidik, peserta didik, dan
penyelenggara pendidikan untuk bekerja lebih keras guna meningkatkan mutu pendidikan
(prestasi belajar).
Ujian
sekolah itu mutlak diperlukan karena bisa mendorong para siswa belajar lebih
serius dan juga berguna untuk mengukur keberhasilan proses belajar. Apakah
ujian nasional sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa ataukah digabung
dengan ujian akhir sekolah, sah-sah saja diperdebatkan. Dan wacana kebijakan
pemerintah dalam menambah mata pelajaran dalam UAN menjadi 6 mata pelajaran pun
sah – sah saja di perdebatkan, asal pemerintah mengimbangi kebijakan tersebut
dengan melengkapi sarana maupun prasarana di seluruh sekolah secara merata.
Namun, yang lebih penting dari itu
adalah bagaimana membentuk kultur sekolah (school culture) yang memiliki
komitmen untuk memelihara nilai-nilai unggul (living values) yang menjadi
spirit, acuan, dan iklim kehidupan bagi guru, murid, maupun karyawan sekolah.
Sebuah komunitas sekolah seharusnya merupakan learning society yang setia
menjaga dan menghidupkan nilai-nilai unggul dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga sekolah merupakan lembaga katalisator yang mampu memfasilitasi siswa
menemukan dan mengembangkan bakat dan minatnya dengan disertasi nilai-nilai
moral yang luhur. (oleh : Yuli Harti)
Berdirinya MISS Seblak
Published :
07.43
Author :
Faishol Amir
Lembaga pendidikan ini sudah berdiri sejak tahun 1938. Pada awalnya, lembaga ini dikhususkan untuk menerima murid puteri. Namun pada periode sekarang MI. Khoiriyah Hasyim juga menerima murid putera dengan masa belajar selama 6 (enam) tahun. Sekarang, antara murid puteri dan murid putera tidak terpisah. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan pada pagi hari, mulai Sabtu sampai dengan Kamis. Hari libur : Jumat. Status : Terakreditasi (B). Kepala : Ust. Moh. Asrori Amar, S.Ag.
Sejarah Berdirinya Yayasan Seblak
Published :
07.14
Author :
Faishol Amir
Sejarah Pondok & Madrasah “Khoiriyah Hasyim” bermula dari pendirian Pesantren Puteri Seblak pada tahun 1921 yang memiliki garis historis secara kuat dengan Pesantren Tebuireng yang didirikan Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899. Popularitas dan kualitas Pesantren Tebuireng untuk menghasilkan alumni yang memiliki peranan besar dalam pembangunan masyarakat, telah mendorong masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara untuk mengirimkan putera-puterinya ke Pesantren Tebuireng. Dikarenakan bangunan dan asrama yang dimiliki Pesantren Tebuireng tidak mencukupi untuk menampung santri puteri, maka Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari menugaskan kepada K.H. Ma’shum ‘Ali guna mendirikan pesantren yang khusus untuk belajar bagi santri puteri. K.H. Ma’shum ‘Ali kemudian membeli sebidang tanah dan bangunan dari seorang dukun bayi yang kemudian hari menjadi cikal bakal Pesantren Puteri Seblak.
K. H. Ma’shum ‘Ali sendiri adalah santri generasi pertama dari Pesantren Tebuireng yang kemudian diambil menantu Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan dinikahkan dengan Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, puteri pertama Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari. K.H. Ma’shum ‘Ali merupakan cucu K.H. Abdul Jabbar, pendiri Pesantren Maskumambang Gresik dan pernah menjabat sebagai Direktur Madrasah Tebuireng pertama kali sejak tahun 1916 dan kemudian digantikan K.H. Muhammad Ilyas, dikarenakan harus memimpin Pesantren Puteri Seblak tersebut.
Letak Pesantren Puteri Seblak adalah + 300 meter ke arah barat dari Pesantren Tebuireng sekarang, termasuk dalam wilayah Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Ketika baru didirikan, situasi sekitar Pesantren Puteri Seblak tidak sama dengan situasi yang dijumpai saat ini. Dusun Seblak saat itu terkenal dengan dunia hitamnya, seperti perjudian, pencurian, prostitusi, perampokan dan sebagainya. Hal ini merupakan akibat dari berpindahnya lokasi kemaksiatan dari daerah Tebuireng ke arah barat (Seblak). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pendirian Pesantren Puteri Seblak mendapatkan tantangan yang bertubi-tubi. Bahkan K.H. Ma’shum ‘Ali sendiri merasakannya, termasuk sering harus berhadapan dengan rayuan-rayuan para pelacur ketika hendak ke Pesantren Tebuireng untuk menemui Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari.
Peran penting yang selalu dikaitkan dengan periode pendirian dan perkembangan Pesantren Puteri Seblak adalah sosok Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim. Dampak Positif dan Negatif Sertifikasi Guru
Published :
07.06
Author :
Faishol Amir
Dengan disahkannya UU Nomor 20 tahun 2003 tentang guru dan dosen memunculkan harapan baru bagi kaum guru yang selalu berkubang dalam stigma gaji kecil dan pendapatan minim. Lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals mungkin sudah menjadi cambuk bagi penguasa untuk merubah nasib para guru yang – meniru lirik Iwan Fals- “makan hati”
Dampak positifnya terasa nyata, para guru yang dulu memiliki stigma seolah-olah kurang gaul, kini makin eksis di dunia pendidikan, para guru makin aktif baik mengajar di kelas maupun kegiatan di luar kelas.Dimana ada dampak positif pasti ada dampak negatif. Kenyataan yang terjadi di lapangan banyak sekali terjadi seorang guru yang hebat sehingga sudah menjadi guru inti, guru trainer dan instruktur dalam workshop dan sebagainya, malah kemudian lupa tugas utamanya sebagai guru, yaitu melaksanakan pembelajaran di kelas dan menerapkan metode-metode pembelajaran yang dia pelajari di kelas.
Banyak terdapat guru yang hebat dalam teori dan metode-metode pembelajaran, tapi ketika kembali ke sekolah tempat dia mengajar dan ketika mengajar di depan kelas, malah kembali ke sistem konvensional.
Hal inilah yang menjadi dilema dalam sertifikasi guru, jangan sampai demi mengejar status guru profesional – dan tentunya tambahan penghasilan – seorang guru malah lupa kepada khitahnya sebagai seorang pendidik yang berkecimpung dengan peserta didik dan mengasuh peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya.
Pengaruh Negatif Sertifikasi Guru Berbasis Portofolio
Published :
07.04
Author :
Faishol Amir
Sertifikasi guru merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas seorang guru, sehingga ke depan semua guru harus memiliki sertifikat sebagai lisensi atau ijin mengajar. Dengan demikian, upaya pembentukan guru yang profesional di Indonesia segera menjadi kenyataan dan diharapkan tidak semua orang dapat menjadi guru dan tidak semua orang menjadikan profesi guru sebagai batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan seperti yang terjadi belakangan ini.
Program sertifikasi ini merupakan angin segar bagi para guru, karena selain dapat meningkatan mutu pendidikan Indonesia mereka juga mendapatkan haknya sebagai pekerja professional, termasuk peningkatan kesejahteraannya. Meskipun demikian, guru juga dituntut untuk memenuhi kewajibannya sebagai pekerja professional. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari Undang-Undang Sisdiknas, Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD).
Dewasa ini, fenomena yang terkait dengan sertifikasi guru adalah guru sebagai tenaga pendidik yang sering disebut sebagai agent of learning (agen pembelajaran) menjadi sosok yang cenderung certificate-oriented bukan program-oriented. Sebagian guru rela mengumpulkan sertifikat dengan segala cara untuk melengkapi portopolio dalam sertifikasi daripada memikirkan strategi atau teknik apa yang akan digunakan ketika mengajar. Bahkan mereka tidak segan untuk membeli sertifikat pada panitia workshop atau seminar yang terkait dengan pengembangan pengajaran. Tentu saja fenomena ini sangat kontradiktif sekali dengan tujuan dan terobasan pemerintah terkait dengan pengembangan mutu pendidikan di Indonesia.
Ironisnya menurut ketua pelaksana uji sertifikasi guru di Yogyakarta (kompas, 19/12/2008) Rochmat Wahab mengungkapkan, beberapa guru terbukti memalsukan ijazah dan akta guna mendongkrak nilai. Untuk memenuhi prasyarat utama berpendidikan S1 atau D4, guru-guru juga tak segan mengambil kuliah jalur cepat atau memalsukan keterangan lama mengajar. Kemungkinan terjadi manipulasi oleh guru bisa dimulai dari sejak penyusunan berkas. Kunci utama kebenaran berkas portofolio terletak di tangan tiap guru. Dan hal ini sangat berbenturan dengan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) yang menjelaskan bahwa melalui standar kompetensi dan sertifikasi, diharapkan dapat dipilah dan dipilih guru-guru professional yang berhak mendapatkan tunjangan profesi. Selain itu praktik sertifikasi bebasis portofolio tersebut tidak sesuai dengan hakikat sertifikasi itu sendiri. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E. Mulyasa (2007) bahwa sertifikasi guru adalah untuk mendapatkan guru yang baik dan professional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah khususnya, serta tujuan pendidikan pada umumnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman. Hal utama yang menjadi penekanan dalam proses sertifikasi adalah kompetensi guru. Penilaian portofolio sebagai dasar untuk menilai seoarang guru kompeten atau tidak sangat tidak sesuai dengan keadaan sosiologis rakyat Indonesia yang minim kesadaran, dimana masih terdapat praktik-praktik manipulasi data.
Menurut hemat penulis, fenomena tersebut membenarkan apa yang dipaparkan pemerhati pendidikan bahwa pendidikan di Indonesia sangat kaya akan angan-angan namun miskin mutu. Kebijakan pendidikan nasional saat ini tidak jelas orientasinya, hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat teknis dan belum menyentuh persoalan-persoalan substansial, sehingga mutu pendidikan tidak kunjung membaik (Moechtar Buchori, 2006). Dengan adanya sertifikasi berbasis portofolio tidak menutup kemungkinan akan memperparah kondisi pendidikan di Indonesia.
Sumber : (Mahasiswa FKIP UNISMA Malang)
Program sertifikasi ini merupakan angin segar bagi para guru, karena selain dapat meningkatan mutu pendidikan Indonesia mereka juga mendapatkan haknya sebagai pekerja professional, termasuk peningkatan kesejahteraannya. Meskipun demikian, guru juga dituntut untuk memenuhi kewajibannya sebagai pekerja professional. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari Undang-Undang Sisdiknas, Standar Nasional Pendidikan (SNP) serta Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD).
Dewasa ini, fenomena yang terkait dengan sertifikasi guru adalah guru sebagai tenaga pendidik yang sering disebut sebagai agent of learning (agen pembelajaran) menjadi sosok yang cenderung certificate-oriented bukan program-oriented. Sebagian guru rela mengumpulkan sertifikat dengan segala cara untuk melengkapi portopolio dalam sertifikasi daripada memikirkan strategi atau teknik apa yang akan digunakan ketika mengajar. Bahkan mereka tidak segan untuk membeli sertifikat pada panitia workshop atau seminar yang terkait dengan pengembangan pengajaran. Tentu saja fenomena ini sangat kontradiktif sekali dengan tujuan dan terobasan pemerintah terkait dengan pengembangan mutu pendidikan di Indonesia.
Ironisnya menurut ketua pelaksana uji sertifikasi guru di Yogyakarta (kompas, 19/12/2008) Rochmat Wahab mengungkapkan, beberapa guru terbukti memalsukan ijazah dan akta guna mendongkrak nilai. Untuk memenuhi prasyarat utama berpendidikan S1 atau D4, guru-guru juga tak segan mengambil kuliah jalur cepat atau memalsukan keterangan lama mengajar. Kemungkinan terjadi manipulasi oleh guru bisa dimulai dari sejak penyusunan berkas. Kunci utama kebenaran berkas portofolio terletak di tangan tiap guru. Dan hal ini sangat berbenturan dengan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) yang menjelaskan bahwa melalui standar kompetensi dan sertifikasi, diharapkan dapat dipilah dan dipilih guru-guru professional yang berhak mendapatkan tunjangan profesi. Selain itu praktik sertifikasi bebasis portofolio tersebut tidak sesuai dengan hakikat sertifikasi itu sendiri. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E. Mulyasa (2007) bahwa sertifikasi guru adalah untuk mendapatkan guru yang baik dan professional, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah khususnya, serta tujuan pendidikan pada umumnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman. Hal utama yang menjadi penekanan dalam proses sertifikasi adalah kompetensi guru. Penilaian portofolio sebagai dasar untuk menilai seoarang guru kompeten atau tidak sangat tidak sesuai dengan keadaan sosiologis rakyat Indonesia yang minim kesadaran, dimana masih terdapat praktik-praktik manipulasi data.
Menurut hemat penulis, fenomena tersebut membenarkan apa yang dipaparkan pemerhati pendidikan bahwa pendidikan di Indonesia sangat kaya akan angan-angan namun miskin mutu. Kebijakan pendidikan nasional saat ini tidak jelas orientasinya, hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat teknis dan belum menyentuh persoalan-persoalan substansial, sehingga mutu pendidikan tidak kunjung membaik (Moechtar Buchori, 2006). Dengan adanya sertifikasi berbasis portofolio tidak menutup kemungkinan akan memperparah kondisi pendidikan di Indonesia.
Sumber : (Mahasiswa FKIP UNISMA Malang)
Kiat Menjadi Anak yang Pintar
Published :
05.35
Author :
Faishol Amir
Belajar mendadak menjelang ujian memang tidak efektif. Paling nggak sebulan sebelum ulangan adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Ada sepuluh cara pintar supaya waktu belajar kita menjadi efektif.
1. Belajar itu memahami bukan sekedar menghapal Ya, fungsi utama kenapa kita harus belajar adalah memahami hal-hal baru. Kita boleh hapal 100% semua detail pelajaran, tapi yang lebih penting adalah apakah kita sudah mengerti betul dengan semua materi yang dihapal itu. Jadi sebelum menghapal, selalu usahakan untuk memahami dulu garis besar materi pelajaran.
2. Membaca adalah kunci belajar Supaya kita bisa paham, minimal bacalah materi baru dua kali dalam sehari, yakni sebelum dan sesudah materi itu diterangkan oleh guru. Karena otak sudah mengolah materi tersebut sebanyak tiga kali jadi bisa dijamin bakal tersimpan cukup lama di otak kita.
3. Mencatat pokok-pokok pelajaran Tinggalkan catatan pelajaran yang panjang. Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang. Kata-kata kunci inilah yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.
4. Hapalkan kata-kata kunci Kadang, mau tidak mau kita harus menghapal materi pelajaran yang lumayan banyak. Sebenarnya ini bisa disiasati. Buatlah kata-kata kunci dari setiap hapalan, supaya mudah diingat pada saat otak kita memanggilnya. Misal, kata kunci untuk nama-nama warna pelangi adalah MEJIKUHIBINIU, artinya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.
5. Pilih waktu belajar yang tepat Waktu belajar yang paling enak adalah pada saaat badan kita masih segar. Memang tidak semua orang punya waktu belajar enak yang sama lo. Tapi biasanya, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkonsentrasi penuh. Gunakan saat ini untuk mengolah materi-materi baru. Sisa-sisa energi bisa digunakan untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah.
6. Bangun suasana belajar yang nyaman Banyak hal yang bisa buat suasana belajar menjadi nyaman. Kita bisa pilih lagu yang sesuai dengan mood kita. Tempat belajar juga bisa kita sesuaikan. Kalau sedang bosan di kamar bisa di teras atau di perpustakaan. Kuncinya jangan sampai aktivitas belajar kita mengganggu dan terganggu oleh pihak lain.
7. Bentuk Kelompok Belajar Kalau lagi bosan belajar sendiri, bisa belajar bareng dengan teman. Tidak usah banyak-banyak karena tidak bakal efektif, maksimal lima orang. Buat pembagian materi untuk dipelajari masing-masing orang. Kemudian setiap orang secara bergilir menerangkan materi yang dikuasainya itu ke seluruh anggota lainnya. Suasana belajar seperti ini biasanya seru dan kita dijamin bakalan susah untuk mengantuk.
8. Latih sendiri kemampuan kita Sebenarnya kita bisa melatih sendiri kemampuan otak kita. Pada setiap akhir bab pelajaran, biasanya selalu diberikan soal-soal latihan. Tanpa perlu menunggu instruksi dari guru, coba jawab semua pertanyaan tersebut dan periksa sejauh mana kemampuan kita. Kalau materi jawaban tidak ada di buku, cobalah tanya ke guru.
9. Kembangkan materi yang sudah dipelajari Kalau kita sudah mengulang materi dan menjawab semua soal latihan, jangan langsung tutup buku. Cobalah kita berpikir kritis ala ilmuwan. Buatlah beberapa pertanyaan yang belum disertakan dalam soal latihan. Minta tolong guru untuk menjawabnya. Kalau belum puas, cari jawabannya pada buku referensi lain atau internet. Cara ini mengajak kita untuk selalu berpikir ke depan dan kritis.
10. Sediakan waktu untuk istirahat Belajar boleh kencang, tapi jangan lupa untuk istirahat. Kalau di kelas, setiap jeda pelajaran gunakan untuk melemaskan badan dan pikiran. Setiap 30-45 menit waktu belajar kita di rumah selalu selingi dengan istirahat. Kalau pikiran sudah suntuk, percuma saja memaksakan diri. Setelah istirahat, badan menjadi segar dan otak pun siap menerima materi baru. Satu lagi, tujuan dari ulangan dan ujian adalah mengukur sejauh mana kemampuan kita untuk memahami materi pelajaran di sekolah. Selain menjawab soal-soal latihan, ada cara lain untuk mengetes apakah kita sudah paham suatu materi atau belum. Coba kita jelaskan dengan kata-kata sendiri setiap materi yang sudah dipelajari. Kalau kita bisa menerangkan dengan jelas dan teratur, tak perlu detail, berarti kita sudah paham.
Rajin Pankal Pandai
Published :
05.25
Author :
Faishol Amir
Jangan sedih berjuanglah terus, belajar yang rajin ingsya Allah kamu menjadi anak yang pandai. Bisa dibilang ini cara paling mendunia dan paling standar yang sering digunakan oleh masyarakat untuk meraih jalan menuju kepintaran. Dengan menyontek Anda bisa jadi orang paling pintar di kelas dengan nilai sempurna, Anda bisa menjadi peringkat 1 dan diakui sebagai orang terpintar di kelas Anda–setidaknya Anda akan diakui oleh guru, orang tua Anda, atau orang-orang yang belum mengenal Anda. Tapi Anda perlu hati-hati dalam menggunakan teknik ini, jangan terlalu sering menjadi yang terpintar. Sekali-sekali Anda perlu membiarkan orang lain menjadi lebih pintar dari Anda, siapa tahu ada yang mencoba mengikuti jejak Anda dengan teknik ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
Lokasi MISS
Sesepuh YKH Seblak
Asatidz MISS Seblak
Album
Categories
- BERBASIS KOMPUTER (1)
- Daul Qolb (1)
- Dunia Anak (1)
- Galeri MISS (8)
- Hafalan (4)
- Hasanah (18)
- Hikmah (1)
- HOME LEARNIMNG (1)
- Ikhtiar (1)
- Impassing (1)
- Info Guru (5)
- Info Sertifikasi (7)
- Kaidah Fiqih (3)
- Kegiatan (1)
- Kegiatan SISWA (2)
- Kegiatan Ujian (2)
- Khasanah (12)
- Kiat (1)
- Kunci Sukses (1)
- MISS Seblak (12)
- Para 'Alim (5)
- Pendidikan (1)
- Pendiri PPP Seblak (3)
- Pengarang Kitab (1)
- Perangkat Pembelajaran (1)
- PHBI (1)
- PPDB (2)
- PROFIL DEWAN GURU (1)
- Profil MI Seblak (1)
- PROGRAM UNGGULAN (2)
- PTK.COM (9)
- Roisul Ma'had (5)
- Seblak Info (3)
- Sejarah PonPes (2)
- Serba Serbi (13)
- SIswa MISS (1)
- Tauladan (3)
- Upacara MISS (1)







